marilah berpikir dingin secara dewasa

marah dan memaki bukan solusi untuk selamatkan ipdn mengingat ipdn adalah milik masyarakat.

yang lebih utama adalah berpikir dengan jernih, tenang dan matang setelah emosi meluap luap itu tersalurkan

marilah saudaraku…
kita lihat kedepan, tinggalkan yang belakang… karena kehidupan adalah masa depan, masalalu hanya jejak pengalaman berharga…..

kita cari solusi yang bijaksana agar supaya ipdn tetap menjadi perguruan tinggi kawah candra di muka bagi para calon abdi negara yang juga abdi masyarakat.

marilah saudaraku…
haruskah gara gara nila setitik segelintir oknum lantas adik adik kami yakni para praja yang masih disana dan anak anak bangsa yang ingin jadi praja tersisihkan nasibnya…????

saudaraku….
hanya dengan berpikir jernih dan dewasa kita dapat selamatkan segenap komponen bangsa agar terhindar dari perpecahan dan adu domba….


  1. keple

    kasihan anak-anak ku nanti bila pemimpin pemerintahan seperti kalian,…. eh,… kalian masuk ke ipdn pake nyogok ndak sih?????

  2. necro

    BUBARKAN IPDN.

  3. ipnd_itu_bangsat

    OI BANGSAT LO PADA..!! GA PUNYA OTAK..!!
    PIKIRAN LO SAKIT…!!
    BAKAR AJA TU SEKOLAH KALIAN YANG NGGA MUTU..>!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    MAYORITAS WARGA INDONESIA MUAK PADA KALIAN PARA PRAJA BANGSAT…!!!!!!!!!

  4. Firman

    Kalo emang mo ngabdi, kan nggak cuma lewat IPDN. Lagi pula IPDN itu gelarnya jangan Almarhum dong. Udah deh paling simple itu BUBARKAN ! Paling beberapa aja yang sakit hati :)

  5. Tobasa

    Malesss…
    Putra terbaik bangsa kok nyiksa..
    Lagian, apa prestasinya sehingga berani bilang putra terbaik bangsa?
    Ayo coba urut prestasi kalian….!

    Jangan2 cuma kesombongan yg kosong.
    Sejak kapan kalian punya hak menghina kemanusiaan orang lain dg menyiksa atas nama almamater??

    Malulah kalian teman!!
    Hidup INU Kencana!!

  6. GUBERNUR IPDN

    Bubarkan saja IPDN karena siswanya masuk pintar-pintar tapi begitu keluar mereka jadi generasi yang BODOH , dan hanya bisa berpikir pakai DENGKUL DAN OTOT BUKAN PAKAI OTAK

  7. Kasian dech lu

    Aku kasian banget ama anak2 IPDN,
    Kayaknya otak ama hatinya sudah rusak di gebukin seniornya
    Gmn bilang nila setitik,
    Lha wong mbunuh 30 an org ngakunya cm 3 orang,
    Trus yang udach mbunuh di bilang “sabar yo le” (sumber: detik.com)
    Lah gimana besok mo mimpin negara,
    Trus bilang Anak pilihan lagi (anak orang kaya ato anak pilihan??)….
    KAsian amat yach……
    Kayaknya Perasaannya dach ga berfungsi lagi melihat org2 IPDN,
    Apa takut ga Jadi PNS yach???
    Ato takut ga balek modal???

  8. mandra

    makanya jangan pake pukul-memukul … kalo berani keluar donk dari kandang …

    kalo jagoan pukul… mana prestasi di kejuaran tinju … bosok tubuh kalian semua

  9. upil

    Terbiasa dipukulin, bikin mereka tahan banting.
    Yang tidak tahan banting, yaa mati saja.

    Itulah prinsip sekolah ini. Lulus, jadi pejabat yang tahan banting.
    Kalau lulus nggak jadi pejabat, bisa alih profesi jadi tukung pukul alias body-guard teman sendiri yang udah jadi pejabat.
    Kalau juniornya yang jadi pejabat??? Awas luh yaa junior, meskipun kalian udah jadi penggedhe, inget waktu di kampus.

  10. kabel

    (marah dan memaki bukan solusi untuk selamatkan ipdn mengingat ipdn adalah milik masyarakat.)

    MASYARAKAT TIDAKLAH MARAH, MASYARAKAT HANYA PRIHATIN, MASYARAKAT TAHU IPDN MILIK MASYARAKAT.

    (yang lebih utama adalah berpikir dengan jernih, tenang dan matang setelah emosi meluap luap itu tersalurkan)

    SEJERNIH APA MANUSIA BISA BERPIKIR? APABILA YANG TERSIRAT SANGAT MEMILUKAN DAN MENGIRIS.

    (kita cari solusi yang bijaksana agar supaya ipdn tetap menjadi perguruan tinggi kawah candra di muka bagi para calon abdi negara yang juga abdi masyarakat.)

    APAKAH MENJADI ABDI NEGARA HARUS MEMBUAT CALON ABDI NEGARA MESTI MENERIMA DAHSYATNYA KEKUATAN DARI MEREKA YANG LEBIH TINGGI DARI ATASANNYA.

    (marilah saudaraku…
    haruskah gara gara nila setitik segelintir oknum lantas adik adik kami yakni para praja yang masih disana dan anak anak bangsa yang ingin jadi praja tersisihkan nasibnya…????)

    NILA SETITIK BISA MENJADI MADU APABILA KITA BENAR2 MEMPERBAIKI DIRI DAN MEMPUNYAI NURANI. BERSEDIA BERKATA JUJUR DAN TAULADAN, TIDAK DENGAN DOKTRIN SESAT YANG MEMBUAT MANUSIA TAK BERMARTABAT.

    (saudaraku….
    hanya dengan berpikir jernih dan dewasa kita dapat selamatkan segenap komponen bangsa agar terhindar dari perpecahan dan adu domba….)

    SUDAHKAH SAUDARA BERPIKIR JERNIH DENGAN APA YANG TERJADI. PERNAHKAH SAUDARA BERPIKIR?????????????

  11. upil

    Terbiasa bicara pakai pukulan, disuruh bicara jadinya nggak bisa. Nggak dosennya, siswanya, sama saja.

    Dipukulpun, nggak bakalan ngomong. Preman bisu dan goblok ditanya.

  12. tukang becak Jakarta

    Abdi bangsa huh? gak heran bikin KTP aja dimintain 30.000 jauh dari tarif resmi, gak heran kalo mau bikin surat keterangan dimintain 50.000 padahal harusnya gratis, gak heran ajudan gubernur semua bertampang satpam pendidikannya di IPDN. Begitukah input, proses dan output untuk menghasilkan abdi bangsa??? input mungkin bagus, tapi proses dan outputnya sungguh menjijikan, apalagi jika evaluasi terhadap output dilakukan, pasti dimintain duit sekian juta deh……….korup, birokrat busuk, pemalas, dan nasionalisme yang bergantung pada siapa presidennya dan siapa yang menyokong, itu semua hasilnya…….busuk….apakah di IPDN diajarkan untuk mengayomi masyarakat? mengerti keinginan masyarakat??? sepertinya tidak, kalo melihat pengayoman berarti tendangan dan pengertian berarti tonjokan, itu baru siswanya, bagaimana dengan rektor dan pengajarnya, apakah mereka juga hasil IPDN??? sayang sungguh sayang

  13. kemal

    eh.. kalo kalian bisa berpikir dewasa..

    – kemana kalian ketika kalian melihat “segelintir” teman2 kalian mukulin orang lain?

    – kenapa kalian tetap tidur ketika “segelintir” temen2 kalian bangun untuk mencari adik kelas untuk dijadikan sansak hidup?

    – kenapa kalian diam, ketika ditanya apa penyebab kematian adik2 kelas kalian?

    – kenapa tiap ada kematian di kampus ipdn, kalian berusaha nutupin penyebab kematian dengan formalin?

    dan masih banyak kenapa kenapa lainnya…

    kenang kembali masa masa anda di kampus… ketika anda bangga mukulin orang… ketika anda bangga ketika dipukulin dan ga mati…..

    maka anda emang benar2 pantas jadi lulusan ipdn… dan ipdn emang pantas di bubarkan…..

  14. ipk4cumlaude

    Gw setuju dengan tulisan ini. Tapi tetep ada syaratnya, Anda dulu yang harus memberi contoh sebelum menyuruh pada orang lain. Gimana masyarakat bisa berfikir dingin ke Anda, kalo Anda-nya sendiri berfikir panas.

    Ooo…, kalo Anda tetep berpendirian kalo selama ini Anda pake kepala dingin. Gimana berfikir dengan kepala panas? Bisa jadi kaya di Kampus Virginia Tech. Ampun deh.

    Buat yg demo2, ga usah nuntut banyak2, ga usah dibubarin itu IPDN. Tapi cukup satu aja yg dituntut: jangan dikasih duit dan ikatan dinas dari Pemerintah. Biar bersaing sempurna dengan alumni PT lain. Emang senjata dia cuman dua itu, makanya seenaknya nyiksa anak2 orang. Ga bakalan laku tuh IPDN kalo diginiin. Entar juga tutup sendirinya tuh sekolah. Enak aja, empat PT terbaik dikurangin jatah duit dari Pemerintah, Anda enak2 saja kuliah dibayarin sambil mbunuh, udah lulus jadi pejabat lagi. Udah jadi pejabat ada peluang korupsi lagi. Ampun deh.

  15. Rasta

    Giliran dikritik pake kepala dingin,
    Pas kuliah pake dengkul ama siku !!
    Betul IPDN adalah milik rakyat karena biayanya oleh rakyat.
    Dan begitulah kegiatan kalian untuk pendidikan yang dibiayai rakyat.
    Hanya oknum???? terus yang mayoritasnya kemana aja kok ngediemin??? buta? tuli? bisu?
    Kalo ada kejahatan di masyarakat nanti bisa gak nindak???

    C’mon man, get real

  16. Mds

    Semoga tim yang dibentuk Presiden akan menguak segala KEBUSUKAN IPDN..
    Jika IPDN tidak mau dianggap BUSUK lagi maka WAHAI segenap praja atau alumni IPDN mengakulah..JUJURLAH jangan engkau TUTUP-TUTUPI PENYAKIT BUSUKmu yang engkau derita selama ini..
    Sekali lagi…jika ingin seluruh Rakyat INDONESIA menerimamu kembali..
    maka JUJURLAH,,,KATAKAN APA YANG SEBENARNYA TERJADI di kampus yang dibiayai oleh duit RAKYAT..

  17. paidjo

    Enaknya ngaku-ngaku putra putri terbaik bangsa. Ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) saja nggak lolos. Ngaca dong! Juga lihat output produksi IPDN. Berapa banyak yang kualitasnya bagus, berapa banyak yang suka nilep duit rakyat.

  18. ipdn anjing

    woi kalian ipdn anjing. muak gue liatnya.

  19. Dut Pret

    1) Kami adalah putra putri terbaik bangsa -> Dut Preettt terbaik kok jadi preman,

    2) Bermartabat -> Dut Preeeet martabat apaan? martabak iya? kok Korupsi?

    3) Abdi Negara -> Dut Prett… cuma slogan?,

    4) Melayani Masyarakat -> Duutt Prett gw ke Kelurahan kok bayar.

    5) Semua cuma DUUUUTTTT PREEETTTTT jangan di denger deh….

  20. fajr_n

    IPDN memang tidak perlu diselamatkan … yang sangat urgent diselamatkan adalah bangsa ini. Saya bayar pajak bukan untuk pencetak predator … tetapi pemimpin yang pemimpin.

  21. Otak Dingin-Beku

    Rasanya kami sudah berpikiran dingin bahkan sudah jadi beku melihat kelakuan IPDN sejak kasus Wahyu Hidayat sampai Cliff Muntu.

    Potensi kalian sudah diragukan utk memimpin bangsa ini. Mana mungkin seorang calon pemimpin bisa membiarkan kesewenang-wenangan dgn dalih disiplin antara junior dan senior.

    Anda bukanlah militer yg memang harus disiplin dan tidak boleh melawan komando yg diberikan. Aparatur negara sebagaimana perusahaan swasta harus siap dgn perbedaan. Solusi sesuai logika keilmuan harus dikedepankan. Bukan dengan pendekatan senioritas.

    Maka dari itu saya setuju sekali dgn pembubaran IPDN. BUBAR JALAN……

  22. soto_kuali

    ” marilah saudaraku…
    kita lihat kedepan, tinggalkan yang belakang… karena kehidupan adalah masa depan, masalalu hanya jejak pengalaman berharga…..”

    pleaseee deh mungkin kata2 itu dah basi banget secara dah diucapin ribuan kali oleh pendahulu kamu… dan hasilnya dari tahun ke tahun samimawon… hadapilah kenyataan hidup.

    kami ngerti, sekolah di gaji dan begitu lulus langsung dpt kerja wajarlah kalian ga mau melepaskan hanya orang gila yg rela melepaskan itu kan… makanya kalian mati2an membela skool kalian demi membela masa depan kalian. kl cuman perkerjaan dan uang dijadiin tujuan hidup kalian, yakinlah itu pasti kalian dapat. Tapi soal kehormatan kalian itu berlaku di kampus kalian aza ya.

    bisa posting tapi ga bisa nge-reply koment. weird

  23. Wong

    MAS, ini sudah PUNCAK GUNUNG ES MASALAHMU ITU. MAU berfikir kepala dingin apalagi. INGAN ganti IPDN dan STPDN juga gara-gara kasus yang sama! KEMATIAN KARENA KEKERASAN! DAN SEKARANG DIULANG LAGI!!!! JADI MAU MINTA DIPERPANJANG SAMPAI KAPAN KEKERASAN ITU! KALIAN memang tidak pernah berubah dan tidak mau BERUBAH! kaliang bilang kekerasan dankejadian itu NILA SETITIK! ITU BUKAN NILA SETITIK!!! kalian ini bagimana sih.

  24. xxx

    kita lihat kedepan, tinggalkan yang belakang…

    pas kedepan ad lagi yg mate lagi.. dan lagi.. dan lagi…

    anjing lo pada IPDN!!!!!!!! napa si musti pake fisik segala,, goblok bener cara senior kalian mukulin ade2 nya…dah pada overdosis ya kelebihan narkoba!!!(gw tw di IPDN jd narkoba tetep jalan kan?)

    padahal kalian cuman banter jadi camat doank..camat yga berpikiran sadis!!!!!

    orang yg pada sukses ga pake kekerasn kaya kalian…tobat lah.. masa ITB universitas yag terbaik pun kaga ad ad yg ginian (OSPEK GILA maksdunya!!!!!)

    sori brur gw emosi…

    astagfirullah…

  25. bodrexin

    uh, berpikir dingin ala kulkas?
    kalo milik rakyat, rakyat minta dibubarin mau bilang apa?
    sekolah gratis pake duit pajak yang gua bayar aja belagu. elu kagak bayar pajak kan? sempak sama londri dibayarin aja bangga. masih pake acara bunuh orang lagi. ndeso. sana kembali ke pohon.

  26. bah kalian lebih senang main pukul daripada berpikir.
    so diskusi selesai.

  27. bandrex

    Baru di siksa senior aja kewalahan..
    kaga bisa ngelawan…

    gimana mo majuin bangsa…

    telor2

    ulet2

    kepompong

    kupu2

    KASIAAN DEH LUUUUUU

  28. Pakasa

    Menurut gua, si penyiksa dan yg tersiksa itu ya sama-sama korban. Korban dari suatu sistem yg gak bener.

    Yg paling bandit itu ya si pengasuh, dosen, dekan, rektor yg tahu banget kalau di kampusnya ada kekerasan kayak begini TAPI diem aja.

    Menurut gua, solusinya:
    1. Kasusnya Cliff di-usut ampe tuntas. Hukum semua yg terlibat.

    2. Usut juga semua kasus kekerasan2 yg terdahulu itu yg ga jelas itu, dimana ada student yg ilang atau meninggal ga jelas. And hukum semua yg terlibat.

    3. Ganti SEMUA dosen, pengasuh, dekan and rektornya. Karena udah terbukti mereka bandit. Tapi kalau ada yg beneran terbukti salah mutlak IKUT berpatisipasi dalam kekerasan itu, ya jeblosin ke penjara-lah!

    4. Lanjutin pengajaran ke student2 yg masih ada di IPDN itu sampai mereka lulus dgn sistem yg DIUBAH (ga ada kekerasan).

    5. Tunda penerimaan student baru selama setahun or dua tahun sambil bikin grand design baru utk sistem di IPDN itu.
    Selain itu juga utk meredam persepsi negatif masyarakat.

    Gitu aja.

  29. IPND Goblok

    He Gubernur IPDN jancok matamu asu,,! Senior IPDN kalau kamu keluar tak bunuh satu-satu kamu

    Tak bermartabat sekali kalian..! Gak Cerdas, Goblok

  30. gagak

    Masyarakat bukannya ga mikir masyarakat marah dan perduli kenapa calon pemimpin mereka malah mengandalkan kekerasan, bahkan menghilangkan nyawa seseorang semudah itu, apa nantinya setelah keluar dari sana ingin memukul bawahan anda pada saat bekerja sehingga harus seperti itu. Kalau tidak ingin di bubarkan ya di reformasi putus mata rantainya biarkan praja yang ada saat ini di luluskan semua baru terima praja baru dan para alumni yang menganut paham kekerasan jangan lah kembali ke dalam kampus yang baru nantinya sehingga kampus yang baru nantinya akan nyaman buat mereka

  31. pembela kebenaran

    udahlah.. bosen….. lawan mental bobrok ipdn, gituan mo jd pegawai negeri…. bisa2 lo semua pada dibakar masyarakat!!!

    udah ah jagan bela diri lagi, akui saja.. mana ada pendidikan birokrasi relevan dengan tinju/pukul2an… taeeee lah….

    Iya2 gw tau lo anak2 IPDN pada miskin, minim duit, tapi jangan main kasar gitu donk, kliatan bgt ga berotak, ngakunya si orang2 berotak…. ternyata otot doang, otak nol besar….!!!!

    Beneran nih ga mau diskusi dan debat?? Lah…… terus mana ada demokrasi dan kemajuan?? Kalo ga mau berdiskusi atao debat!!! Lo pada seneng pukul2an kali daripada diskusi pake otak!!!

    Hah…. capek deh…. IPDN katuan busuk, Idiot dah… gitu kok dipercaya kelola birokrasi negara.. tae………

  32. ipdntaianjing

    aku setahun bayar pajak 250 juta lebih dan ternyata cuman buat biayain IPDN yg bisanya cuman mukul orang yg nggak boleh nglawan (kalo berani lawan tuh FBR dkk), narkoba dan seks bebas. owalah… anjing piaraan ku aja jaaaaauuuuuhhh lebih baik dan lebih lucu dibanding orang2 ipdn. dari dosen sampai praja busuk semua. sebellum dibubarkan mendingan kalian membubarkan diri dan kembali menjadi manusia. kalian emang lebih najis dari pada sampah masyarakat yg paling busuk!

  33. Wong

    “marah dan memaki bukan solusi untuk selamatkan ipdn mengingat ipdn adalah milik masyarakat.”

    Milik masyarakat PALE LU ITU YAH! ipdn cuma milik segelintir elit yg jumlahnya cuma 5000-an orang kali yah. Trus minta duitnya 150 miliar setaun! buat apa aja tuh duang segitu.belum masuk dg sitem sogo2kannya. Makanya mereka engga dibubarin, duitnya banyak sekali tuh….,

  34. Dana

    Salam,

    Saya cuma seorang pemerhati keadaan bangsa yang berada jauh di luar. Saya cukup mengikuti perkembangan dalam negri, dan akhir-akhir ini, seperti yang kita semua tahu, sayapun ikut prihatin dengan kondisi IPDN.

    Mungkin ada rasa kecewa, ada kasihan, ada rasa geram, tapi bukan benci yang ingin saya sampaikan.

    Puisi di atas siapapun yang membuat, saya yakin anda orang yang beradab dan saya salut.

    Saya setuju dan mendukung sepenuhnya saran anda untuk menyelamatkan IPDN dengan berpikiran jernih, tenang, dan matang tanpa ada luapan emosi yang berlebihan. Menurut saya negri kita sudah cukup kenyang dengan kekerasan, emosi berlebihan yg terkadang TIDAK perlu. Saya yakin anda semua mengerti.

    Tapi terkadang hemat saya “mendiamkan” geram masyarakat menjadi kecenderungan berubah mendukung. Saya tidak membenarkan makian terhadap IPDN, tapi yang saya herankan IPDN memancing reaksi negatif itu sendiri dari masyarakat. Betul, saya menyebutkan IPDN secara keseluruhan. Dan anda BENAR, tidak etis cuma gara2 sekelompok kecil orang merusak nama satu institut besar – IPDN. Tapi sifat dasar manusia yang selalu menyalahkan selalu sebab-musabab, dalam hal ini, jika masyarakat tidak mendapatkan nama orang maka organisasi yang jadi kambing hitam.

    SANGAT tidak adil rasanya jika praja-praja yang baru saja masuk langsung mendapat pandangan buruk dari masyarakat, yang sebetulnya menurut saya merekalah “korban” sebenarnya. Anda smua tau, korban-korban IPDN rata-rata praja tingkat bawah.

    Belakangan saya membaca tim evaluasi dari pemerintah memulai investigasi di IPDN. Perasaan yang awalnya positif saya dapatkan menjadi sangat, sekali lagi sangat, kecewa ketika saya membaca “Rektor dan Pengasuh IPDN Bungkam Saat Ditanya Tim Evaluasi.” di salah satu situs berita favorit saya.

    Jikalah saya diijinkan untuk menambah isi puisi simpatik anda, KTERBUKAAN dan KEJUJURAN akan melengkapi dan menambah “daya” selamat IPDN.

    Sekian,
    Terima kasih.

  35. andri

    kawans,
    kenyataan di kampus kalian ada yang mati, seorang anak manusia. catat kawan : ada yang mati!!! Bukan cuma 1 orang!!!

    Tidak ada gunanya membela diri teman, hanya manusia picik yang membela diri, di tengah kenyataan adanya kejahatan didirinya.

    kawan mungkin bukan pelaku, tapi setidaknya kalian seorang pengecut : membiarkan apa yang tidak benar terus terjadi. bukankah sudah banyak pelajaran kematian sebelumnya????

    bagi para pengecut, kejahatannya sama saja.

    saya pribadi justru menginginkan anda semua para praja yang katanya ‘putra terbaik bangsa’ :( satu suara : meminta semua sistem yang tidak benar diberantas, meminta semua yang telah mati diangkat marabatnya, meminta semua yang berhenti karena siksaan dipulihkan hak-hak masa depannya.

    bukannya malah membela diri, sambil diam-diam memupuk kebanggaan semu yang sesat, menutup mata hati dari kebenaran.

    saatnya anda semua melakukan langkah nyata, minimal berdoa minta ampun kepada Tuhan YME.

    anda udah buta teman. anda mungkin juga tuli.

    astagfirullah

  36. SATRIA ADI PUTRA, SH

    KOMENTAR ATAS KEKERASAN DI IPDN

    dalam menanggapi pemberitaan kekerasan di IPDN ada poin yang harus kita angkat ke permukaan:

    1. apa yang sebenarnya terjadi di IPDN? benarkah kekerasan yang adalah proses belajar mengajar yang tersusun dalam kurikulum, atau tindakan oknum yang saat ini telah berkembang dan tumbuh menjadi sekelompok oknum yang mayoritas dengan berlindung dibalik Korps IPDN dan semua sistem yang ada?

    2. apakah Hukum di Negeri ini masih bisa menjadi panglima, untuk menegakkan keadilan? kondisi ini penting dicermati mengingat saat ini krisis kepercayaan kepada HUkum dan keragu raguan aparatnya dalam menegakkan segala aturan hukum yang ada sehingga ” segala warga negara bersamaan kedudukannnya di dalam hukum dan pemerintahan?”

    dua permasalahan ini penting sekali untuk kita kemukakan dalam menjernihkan permasalahan. sesungguhnya keberadaan situs ini bagi saya sangat menyedihkan. ini adalah bukti dan hasil dari intelektualitas kita dalam mencetak sumber daya manusia. sifat legowo, beradi bertindak benar dan mengakui kesalahan, dan menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah justru hanya dijadikan asas-asas hukum dan sosial di dalam buku buku pelajaran.

    Para alumni praja IPDN yang membuat tanggapan “Tak semua alumni busuk sesat Tak semua alumni bekas tukang pukul tak semua alumni bejat…” merupakan bukti bahwa Pendidikan di IPDN gagal mencetak Sumber Daya Pamong yang benar benar mengayomi masyarakat. masyarakat menilai dari apa yang dilihatnya. apa yang mengemuka di publik sebagai bukti. mengapa justru membuat sebuah asumsi yang merupakan tandingan dan menerbitkan buku putih atas ” noda” IPSD yang kiranya sudah berlangsung lama dan melembaga????

    Kalau kita mengamati seorang anak kecil yang dijitak orang tuanya karena tertangkap basah mencuri, secara reflek kekanak kanakannya dia akan memberikan arguumen yang berlawanan tanpa mengemukakan bukti bukti baru (novum) yang menyangkal tuduhan yang ditujukan kepadanya.

    apakah begini tindakan alumni IPDN yang katanya handal dan memiliki kwalitas???? bagi saya tindakan seperti ini sangatlah tidak intelektual untuk lulusan Akademi yang katanya notabene dididik “Khusus” dan memiliki kwalitas yang eksklusif.

    penayangan video kekerasan yang beredar di TV saja sudah banyak membuktikan bagaiman kwallitas alumni IPDN.

    saya tidak setuju IPDN dibubarkan, karena ia adalah salah satu wahana Pendidikan yang seharusnya dikembangkan ke arah yang lebih baik. saya lebih setuju, agar IPDN disusun, ditata kembali pondasi pendidikan dan kurikulumnya sehingga tidak kembali mengulangi malu dan kesalahan yang senyata-nyatanya tidak hanya terjadi dua kali.

    sekada seluruh alumni IPDN, saya menghimbau. Bantulah penegak hukum untuk menyuarakan kebenara. aksi bungkam anda semua cermin dari budaya kerdil yang telah tercuci otaknya dengan sistem yang tidak jauh berbeda dengan sistem doktrinal yang dikembangkan oleh ORGANISASI TANPA BENTUK.

    Dari penayangan video tentang proses latihan IPDN kesimpulan besar yang saya dapat: “DENGAN SISTEM SEPERTI ITU IPDN TELAH MENCETAK PREMAN YANG TELAH BERKERAH DNA MASUK DALAM JAJARAN BIROKRASI TANPA INTELEKTUALITAS DAN BERDAYA AROGANSI OTORIRER”

    setahu saya , sekeras sekerasnya latihan militer, tidak ada cara -cara latihan yan SEBODOH LATIHAN YANG ADA DI IPDN

    saya seorang pendidik, pembina kemahasiswaan. cara-cara seperti itu hanya menghasilkan mayat mayat hidup dengan pola berpikir kejuwaan yang terganggu serta mesin mesin pembunuh yang jauh lebih berbahaya dibandingkan seorang psikopat sekalipu.

    kepada para penyidik.
    menurut hgemat saya tidak sulit untuk menerapkan hukum kepada mereka.
    IPDN bukan MILITER. maka berlaku kepadanya KUHP dan tidak ada Koneksitas. tindakan tersebut jelas-jelas merupakan penganiayaan berat yang menyebabkan matinya orang, sebagaiman tercantum dalam pasal 354 ayat (1) dan ayat (4). garis koordinasi dan tanggung jawab jelas. dan tidak perlu ada keragu raguan lagi untuk menindak. tindakan rektor dan jajarannya jelas-jelas melindungi kejahatan dengan tidak kooperatifnya memberikan informasi.

    tindakan para praja yang bungkam juga dapat dijadikan dalil bahwa mereka telah melakukan kejahatan secara sindikasi. secara terstruktur dan tertata melakukan kejahatan secara simultan dan terencana.

    BAGI PARA ALUMNI IPDN YANG SADAR. mohon bantu aparat penegak hukum untuk mengungkap semuanya. itupun kalau anda semua masih manusia dan masih beragama.

    kecuali “SETAN TELAH BERSAMA ANDA”

    mohon maaf atas tulisan saya yang keras ini. semoga kita semua dalam lindungan ALLAH SWT.

  37. Pemberi Hadiah

    DICARI

    Manusia2 Bejat a.k.a praja senior a.k.a. apalah
    yang muncul di TV-tv memukuli juniornya, yang juga goblok2 mau kuliah disitu.
    Bawa kepalanya ke polres sumedang.
    atau barter sama saya dalam keadaan masih hidup untuk dijadikan pengganti daging RW.
    TTD – KUTU KUPRET

  38. Masyarakat Sumedang

    goblog kamu,,tolol…kami akan berencana membakar kampus IPDN akhir april nanti,,,,rencana ini sudah kami susun dan saat ini sudah ratusan orang siap untuk membakar kampus IPDN

    Jika kami gagal, kami akan menculik mereka yang pernah terlibat kekerasan

    Salam

    Masyarakat Sumedang

  39. seruuuu… seruuuu… hahaha jadi pengen ketawa baca tulisan bodoh anda, bos nulis lagi mabuk ya ?? eh gue pengen nanya neh lo ngaku-ngaku putra terbaik bangsa dari mana man ?? apakah yg udah kalian hasilkan coba tolong rinci alumni lo yg udah mengukir prestasi di bangsa ini ?? duh kasian otak kalian terlalu banyak terbentur… gue saranin kalian ke psikiater deh… bos kalau niat lo nenangin situasi lo salah tulis …. mending sekarang lo sembunyi dulu deh dengan semua bahasa retorik lo karena seberapa pun lo ngelurusin nggak bakal ngerubah image masyarakat malah memperkeruh suasana… punya friendster nggak bos ?? pengen liat wajah bonyok lo :D

  40. Mds

    SEMAKIN tidak JUJUR, IPDN semakin BUSUK!!!(diucapin 10 Trilyun Kali)..!!

  41. galoy

    nah kan dulu elu orang bilang sedikit mati ngga apa2 yang penting yang lainnya berasil?!?

    nah sekarang yang jadi minoritas elu orang nih, yang bakal di matikan demi bangsa dan negara!

    baru di bubarkan saja sewot bagaimana yang sudah meninggal bos?!?!

  42. aduhhh …. kamu kamu yang masih terlibat seperti kasus cliff muntu *bener nggak nulisnya* dan yang lainnya
    inget *thing* !!!
    kamu orang di biayai uang negara , liat di masyarakat masih banyak yang kelaparan jangan sampai uang negare di hambur hamburkan untuk sesuatu yang seperti itu , kita negara agamis berdiri atas nilai-nilai luhur pancasila , kata dosen ku kamu kamu yang seperti itu bukan orang yang pancasialis , hmmmmmmmmm

    *gemes gemes gemes*

    test tes http://bimoseptyop.blogspot.com

  43. inukencana

    “..marilah saudaraku…kita lihat kedepan, tinggalkan yang belakang…”

    eits..ntar dulu, sapa bilang gw sodara lo? enak aja lo mo ngelupain yg d belakang!

    urusin dulu tu yg udah ngejelek2in almamater lo..yg udah bertindak semena2..kalo berani lo tunjuk batang hidungnya..brani ga?brani nya cuma nulis d blog aja..jgn ngmg doank lo!

  44. Mds

    haaaa..haaa mana tau friendster,
    taunya TONJOK-TONJOKAN…
    jangan-jangan ada kegiatan rutin nonton bareng SMACKDOWN kali yee..

  45. Cobalah mas-mas dan mbak-mbak di IPDN jujur saja. Itulah yg diperlukan, nggak usah muluk2 ingin menyelamatkan komponen bangsa segala. Kalau kalian jujur, yah semua menjadi jelas, apakah klian memang menjadi bagian dari komponen bangsa itu sendiri…

  46. Kekerasan dikampus IPDN bukan oknum, tapi sistem. Buktinya cuma Inu Kencana yang berani berteriak diluar. Artinya kekerasan itu dilindungi secara institusi….

  47. Iiiyyyy PDN

    Kalo IPDN lanjut, semoga elo cepet-cepet deh dapet gelar. Gelar ALMARHUM geto loh.
    Inget yah, karena IPDN punya rakyat, maka rakyat menuntut IPDN bubar.
    Ape perlu gwe tendang ama tonjokin biar bubar IPDN. BUBAAAAAAR !!!
    Udah pada pecah kali gendang telingo lo.

  48. BUBARKAN IPDN

    IPDN KURAPAN……..

  49. ririecantik

    eh anak2 ipdn goblok, udah bubar aja lu. dasar calon pembunuh. ngaca luh……eh kalo engga ada yang sebarin video itu perbuatan elo engga akal terungkap…. dasar bodoh,goblok…..siapa tuh yang ditv yang pukulin anak2 senior udah jago loh. bangga…. kasian ortu loh udah cape2 ngebesarin anak eh malah jadi pembunuh….udah bubarin IPDN geblek…..

  50. Halo semua. Salam kenal. Maaf cuma menyorot sedikit saja, bukan mau sok tau lho ya.. kalo diperkenankan saya mau quote sesuatu:

    Ada praja meninggal jangan dibesar besarkan. Media berlaku tidak adil!

    Masalahnya, adik-adik, nyawa manusia. Tidak usah dibesar-besarkan pun, sifat urgensinya sudah besar sendiri. Jadi, mari kira menghargai orang lain dengan menghilangkan konsep “mengecilkan sesuatu yang besar dan membesar-besarkan sesuatu yang kecil”. Oke, misal nih.. tidak semua anggota IPDN yang mempunyai konsep brutal, segeralah tunjukkan perubahan. Ungkap semua yang tidak terungkap. Rombak habis metode lama, dan ganti lagi dengan yang baru, dan biar waktu yang berbicara dan menjadi hakim. Jangan cuma ganti nama lho ya? Heheheheheh…. Masalahnya sekarang kalian sedang menghadapi krisis kepercayaan. Jadi saat ini tidak bijaksana kalau sibuk memikirkan bagaimana mengubah opini masyarakat dengan cara instan. Sekali lagi masalah waktu saja. Kalo besok-besoknya masih sama seperti ini, ya bersiaplah akan sesuatu yang lebih buruk lagi.

  51. Inu KENCANA

    Gimana nggak rusak bangsa ini. Masuk STPDN aja harus nyogok, lihat aja standar PNS di Depdagri dan Pemda itu dibawah standar departemen lain.

    Kasihan negaraku ini…
    Bubarin aja. Cari aja PNS-nya pake sistem fair dari S1 aja. Negara gak usah mengeluarkan duit gede bikin kampus gede kaya gitu. Mubazir….

  52. mawar

    para siswa atau alumni ipdn kayaknya ga usah emosi banget sama komentar yang ada di masyarakat deh karena pada akhirnya yang menjadi sejarah adalah: apa yang telah telah terjadi.bukan pembelaan yang jauh dari kenyataan.
    dan bodohnya masyarakat kita karena “gila” menjadi pejabat bukan “gila”menjadi manusia bijak walau akhirnya nyawa yang adalah karunia TUHAN tak pernah dihargai.
    buat semua:”sadarlah…karena TUHAN sedang menangis menyaksikan arogansi manusia yang ada di negara kita yanng katanya negara yang masyarakatnya sangat RELIGIUS!!!

  53. azizah

    hidup INU KENCANA……..mati Praja IPDN……..bubarkan IPDN………makan duit rakyat………….sekali buar tetap BUBAAAAAAAAAAR

  54. Pemberi Hadiah


    JK: Hey, kau dari mana?
    IPDNmania: Saya dari Riau pak…
    JK: Jadi kau tidak lihat orang baku hantam disini??!
    IPDNmania: Waktu saya bangun dia sudah pingsan pak..
    MantanRektor: Seharusnya mereka tahu pak, tapi mereka bilang tidak tahu… (sambil toel2 telor IPDNmania…..)

  55. ipdn

    IPDNmania
    Kami adalah putra putri terbaik bangsa!
    marilah berpikir dingin secara dewasa

    Kok bisa ada yang mati lagi sih ???

    Disiplin tidak sama dengan kekerasan.
    Pikirkan kalau ingin menghukum apa manfaatnya ??
    Pikirkan kalau ingin mneghukum apa efeknya ???

    Hanya keledai yang terperosok dalam lubang yang sama untuk ke dua kali-nya.

    Peace….

  56. TAEK LOH. PULANG AJA KE KAMPONG LU NYANGKUL!!! DARIPADA SEKOLAH PAKE DUIT RAKYAT MALAH JADI PENJAHAT!!!

  57. cumansayangsayabenciipdn

    Baru di siksa senior aja kewalahan..
    kaga bisa ngelawan…

    gimana mo majuin bangsa…

    Ini tulisan anak ipdn or whatever alumni ipdn???
    Ga bermoral….
    sudah banyak yang menghujat, sudah banyak yang memaki, sudah banyak yang negative thingking terhadap kalian semua civitas akedemi IPDN dan alumninya….

    Tidak malukah kalian???????
    Tidak inginkah berubah????
    Tidak inginkah menunjukkan apa yang akan kalian lakukan dimasa depan????

    atau….

    Masih ingin BUNGKAM????
    Masih ingin IPDN banget gituhhhh?????
    hehehehe….

    Buatlah Masyarakat percaya….
    Buatlah Masyarakat berpikir….
    Buatlah masyarakat mengacungkan jempol….

    Be a Gentlemen
    Be a Hero’s

    Pikirkan….

    akhir kata…..

    Kalian bila tidak berubah….

    APA KATAAAAA DUNIAAAAAAA…. (mengutip kata2 Jend. Naga Bonar)

  58. melati

    untk praja ipdn yang sabar krn bentar lagi elo akan dapet balasan dari yang kuasa…….mampus lo…..geblek…..bodoh…dungu……pembunuh…

  59. Suy

    Budaya Tutup Mulut…
    Budaya Kekerasan…
    Budaya Nyogok…

    Selamat Datang di Birokrasi Indonesia
    Para Pemalas yang katanya “Mengabdi Rakyat”
    Pulang kampung aja deeh….

  60. mawar

    siswa dan allumni ipdn kayaknya ga perlu emosi sama komentar yang ada didalam masyarakat deh karena pada akhirnya yang tercatat dalam sejarah adalah apa yang telah terjadi.dan gilanya karena masyarakat kita terlalu sibuk untuk menjadi manusia-manusia yang punya jabatan biar bisa korup,bukan belajar jadi manusia yang sedikit bijak walau pada akhirnya nyawa yang di titpkan TUHAN tak pernah cukup berarti.buat semua:sadarlah karena TUHAN sedang menangis melihat betapa arogannya kita manusia yang lahir ditengah-tengah masyarakat yang selalu mengaku religius ini.
    sekali lagi,tidak perlu marah…karena kalau itu terjadi,saya pribadipun akan mempertanyakan kondisi kejiwaan dan rohani anda-anda semua.

  61. kacian de lu...

    hehe… kacian….
    maunya dapet simpati, malah dapet caci maki
    hehe… kacian… kacian…
    moga2 dari puisi2 diatas, anda bisa mengambil kesimpulan apakah IPDN dibubarkan atau tidak.
    pake hati nurani ya BOZZZ….
    jangan takut ga balik modal.
    hehe… kacian… kacian… kacian…

  62. Suy

    Jualan tahu sumedang aja…
    Bikin Franchise sekalian….. hehehe

  63. besto

    IPDN PUTRA TERBAIK, NGGAK NGACA?

    JANGAN NGAKU BERMARTABAT KALAU BISANYA CUMA NGINJAK-INJAK ADIK KELAS. KALAU PUTRA TERBAIK, BUKTIKAN DONG BISA JADI PAMONG PRAJA YANG TIDAK MALAK RAKYAT. NGURUSIN KTP AJA NGGAK BECUS GITU. mASIH MINTA UPETI RIBUAN RUPIAH? NGURUS AKTE AJA HARUS NYOGOK> APA ITU PUTRA TERBAIK? KALIAN INI NGGAK NGERASA YA SUDAH NGURAS UANG RAKYAT UNTUK SEKOLAH ? MASUK PEGAWAI MASIH NYOGOK LAGI. PUTRA TERBAIK —OHH BERMARTABAT? IHIK MALU DEH

  64. Rouza

    “marah dan memaki bukan solusi untuk selamatkan ipdn mengingat ipdn adalah milik masyarakat.”

    Ga marah… ga marah…. tapi sedih, sedih dan kecewa! Kenapa IPDN nutup-nutupin masalah, dosen bungkam, praja aksi tutup mulut, pake formalin segala… dah kayak mafia nutup-nutupin tindakan mereka.

    “kita lihat kedepan, tinggalkan yang belakang… karena kehidupan adalah masa depan, masalalu hanya jejak pengalaman berharga…..”

    Masa lalu tidak boleh ditinggalkan karena merupakan pelajaran berharga. Jika kita tinggalkan maka suatu waktu kita akan lupa masa lalu… lupa akan peristiwa2 menyedihkan yang tidak boleh diulang…

    “kita cari solusi yang bijaksana agar supaya ipdn tetap menjadi perguruan tinggi kawah candra di muka bagi para calon abdi negara yang juga abdi masyarakat.”

    Ganti sistem… ganti sistem itu spt mengubah IPDN menjadi perguruan yang lain… analoginya spt ganti OS… dr Windows ke Linux… luarnya sama dalemnya beda…
    jd sifat yang jadi inti IPDN hilang… sama saja IPDN hilang… dah jadi perguruan lain, hanya nama dan gedungnya saja yang sama.

    “haruskah gara gara nila setitik segelintir oknum lantas adik adik kami yakni para praja yang masih disana dan anak anak bangsa yang ingin jadi praja tersisihkan nasibnya…????”

    30 orang = setitik nila ya? Kayanya nilanya dah 30 belanga…

    Karena nila sebelanga, susu setitik rusak…

    pribahasa yg bener: karena susu setitik rusak nila sebelanga
    artinya: krn kebaikan sedikit, rusak kepercayaan boss mafia :D (buatan gw sendiri, ga perlu ditanggepin, just a joke)

    “hanya dengan berpikir jernih dan dewasa kita dapat selamatkan segenap komponen bangsa agar terhindar dari perpecahan dan adu domba….”

    Udah berpikir… makanya gw bilang: ganti jadi SHIN IPDN (IPDN baru) dengan visi, misi, semangat, cara belajar, dan kualitas yang baru! Jangan ngikutin yang lama, klo ngikutin yg lama mah berarti cuma ganti label doang , cuma ganti pakean doang, cuma ganti casing doang dong… ya ga? Dick Doang?

  65. aparatkeparat

    “mengingat ipdn adalah milik masyarakat”… benar sekali.. ipdn milik masyarakat yg dibiayai oleh uang masyarakat.. jadi biarkan masyarakat yg menentukan nasib ipdn, kalo masyarakat menginginkan dibubarkan ya terima aja.. :p

  66. diana

    gue ga pernah cita-cita jadi pegawai negerih seh soalnya selama ini bokap gue ngidupin gue dari duit swasta yang harus didapetin dari kerja keras,bukan korupsi.Dan gue bangga banget dengan hal tersebut.kalo bokap gue pns,kayaknya gue juga bakal dipaksa jadi almarhumah di ipdn demi jabatan lurah/camat????

  67. Hoek

    Wahahahahaha…pengen ngakak gw segede2naya….IPDN,

    Institut yg katanya mendidik calon pegawai dalam negeri,eh cara pendidikannya kayak militer…

    IPDN ganti nama aja jd (Institut Preman Dalam Negeri)…kwkwkwkwkwk…

    Kalo bangga jdi putra-putri terbaik indonesia kelakuannya jaga donk…

    kalo ma junior jgn sok2an deh…

    Lulus lo pada mo jadi ape, mo jadi pejabat tukang meres rakyat lo…

    MIKIR!!!!!!!!kalo lo Pinter…!!!!

  68. jx

    tidak ada pendidikan yang baik saya dari anda sebagai putra putri terbaik bangsa! bagaimana anda mau mengayomi masyarakat sedangkan anda sendiri tidak bisa mengayomi adik tingkat anda sendiri. menurut saya pribadi lebih di bubarin IPDN yang ada sekarang, apa yang ada dan telah menurun di IPDN akan musnah. terima kasih

  69. Pemberi Hadiah

    IPDN BANCI KALENG….. INU KENCANA HEBAT

  70. dapanih

    Wah IPDN Dasar KIriKK!!!

  71. Sekolah Keren???

    Ngaca oiiiiiiiiii

    jgn gua ndak tau apa kerjaan anak IPDN
    mo bukti, loe liat tiap malam hari libur….
    ditempet2 dugem bandung……. biang rusuh IPDN… tukang Mabok ..IPDN…………..

    itu calon pemimpin bangsa………………
    ngaca oi..ngacaa………………….

    masuknya juga pada nyogok………….
    maen cewe………….
    narkoba………

    ndak percaya loe cek ajah rumah bertingkat didaerah terusan jalan tol………….

    parah
    sekolah pemimpin apa sekolah penjahat

    bubarrrrrrrrrrrrrr. bubarrrrrrrrrrrrrr..

    perlu bakar sekalian…………..

  72. Jlenx

    pepatah umum :
    karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

    khusus untuk IPDN:
    karena susu setitik, ketahuan nila sebelanga

    solusi:
    buang nilanya ,ganti susu
    gitu aja kok susah bner ngertiny!

  73. sonic

    saudaraku..saudaraku…
    soudaraku pale loe melarrrr……..
    saudara loe aje yang cuman 1 gedung pade mati gara2 loe… mana ade yang mau jadi saudara loe……

  74. BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANGBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG

  75. Riza

    Cuma bisa nahan marah dan geleng kepala sambil narik nafas panjang baca blog ini. Sepertinya para praja IPDN itu telinga sama hati nurani nya sudah terbalik semua sama apa yang kita anggap kebenaran.

    Cuma hendak merunut saja; IPDN/STPDN didirikan pada zaman Pak Rudini sebagai Mendagri, bertujuan memdidik calon PNS dan sebagai tentara cadangan kalau-kalau ada perang. Trus zaman berubah, orde baru tereformasi. Dan sayangnya tidak ada yang mengawasi sekolah PNS ini dengan gaya militernya. Jadilah mereka sipil yang kebablasan!!

    Adik-adik praja IPDN, coba anda bayangkan bagaimana perasaan orang tua, terutama Ibu, dari teman kalian Wahyu Hidayat, Cliff Muntu, dan korban meninggal lainnya. Tolong anda jawab dengan hati nurani anda. Tolong anda bayangkan kalau hal itu terjadi pada Ibu anda. Beliau yang sembilan bulan menahan sakit, membawa anda kesana kemari, melahirkan anda (saya yakin belum satupun dari anda yang melihat bagaimana Ibu/Istri anda melahirkan). Kemudian membesarkan anda, menyusui, menjaga anda kalau tidak bisa tidur karena sakit dimalam hari. Sampai besar dan kemudian mati dengan cara yang anda sebut sebagai sesuatu yang wajar dalam pembentukan fisik dan mental.

    Anda mungkin tahu kalau uang sekolah anda dibiayai dari uang pajak rakyat. Yang setiap hari naik KRL, berdesakan di Metromini, melawan bahaya diatas sepeda motor, bahkan dari para guru didaerah terpencil yang berjalan kaki menuju sekolah. Apakah anda tidak punya sedikit hati untuk memikirkan hal ini?

    Kembali lagi ya, STPDN/IPDN dididirikan untuk….mencetak PNS. Titik. Di militer sekolah semacam anda ini (yang dibiayai pajak) adalah Akabri. Untuk yang semi-militer itu SMU Taruna Nusantara. Sejauh ini saya tidak pernah mendengar ada berita kematian dari lembaga tersebut, baik dari Akabri (matra apapun!) juga SMU TarNus. Disana pembentukan fisik dan mental yang kuat dilakukan dengan memberikan kegiatan fisik, sekali lagi kegiatan fisik, bukan kontak fisik seperti para praja senior di IPDN. Apling banyak push-up, sit-up, guling-guling, ampe paling tinggi jungle survival. Tidak pernah ada pukulan, tendangan, hantaman siku, seperti yang anda-anda sekalian putra-putri terbaik bangsa (katanya) pertontonkan. Tolong otak anda mencatat, disekolah militer lho ya..

    Saya eneg melihat perilaku anda. Dan saya beruntung ketika lulus SMA dulu tidak pernah berfikir unutk masuk IPDN/STPDN. Kalau tidak mungkin saya juga sudah mati meninggalkan kelurga saya, membuat Ibu saya sedih, dan mungkin ikut mati menyusul saya karena kesedihannya.

    Adalah benar komentar yang berbunyi; bahwa anda praja IPDN lebih hina dari sperma anjing. Sudah tahu salah membuat orang meninggal tapi masih menganggap hal itu wajar. Sudah melihat kesalahan tapi malah ditutup-tutupi, menyanjung bahwa itu benar dan wajar…Ck..Ck..Ck…

    Tapi kita kembali lagi, anda praja IPDN sekarang sebetulnya tidak 100% salah. Yang salah adalah orang yang membentuk anda, senior anda, dosen anda, rektor anda, yang memang membiarkan hal seperti ini berlanjut dan berakar sampai korban berjatuhan (saya tidak menyalahkan Pak Rudini ya, tujuan beliau baik hanya saja interpretasi setelah beliau pergi dari IPDN saja yang salah).

    Jadi cuma ada satu kata, BUBARKAN IPDN!!! Karena sakitnya sudah terlalu kronis, sampai-sampai orang mati karena dipukuli dikatakan sesuatu yang wajar!!!

    Atau saya boleh usul? Kalau anda ingin membentuk fisik dan mental yang kuat, saya sarankan kepada anda semua untuk masuk kedaerah-daerah rawan, entah itu di Bandung, Jakarta, Medan, UjungPandang, Palembang, de le el. Berlakulah anda seperti anda berlaku pada junior anda di IPDN/STPDN disana. Saya jamin anda tidak akan berani. Kalaupun anda berani, nyawa anda akan segera melayang. Karena anda tak lebih dari segerombolan pembunuh yang banci, yang hanya berani kepada yang lemah, dengan dalih dan pakaian ‘senioritas’.

    Atau kalau itu terlalu berat, cukuplah anda berpakaian seragam kebanggaan anda itu, berjalan di mal paling megah di Bandung (yang paling dekat dari Jatinagor) sekarang ini setelah anda membaca komentar saya. Kalau ini pun anda rasa terlalu berat, sebaiknya potong saja kemaluan anda dan berikan kepada anjing karena anda memang tidak layak untuk mengaku sebagai orang yang memiliki fisik dan mental yang kuat, putra-putri terbaik bangsa. Anda hanya kuat dan berani kepada yang lemah.

    Sungguh kasihan saya kepada anda praja IPDN.

    Semoga tulisan ini anda baca, dan anda renungi dengan hati nurani yang terdalam (bukan dengan nurani bentukan IPDN/STPDN).

    Salam.

  76. ndeso

    walah… walah… sodaraku
    kalo nulis melek dulu….
    lagi mabok to…

  77. antimiliter

    Hancurkan……

    semua Aparat …..

  78. Peace

    Coba kita bicara dengan nurani, coba diam sejenak dan buang jauh-jauh amarah itu. Kemarahan yang luar biasa ditunjukan oleh masyarakat lebih dikarena frustasi dengan keadaan bangsa indonesia yang makin carut marut akibat tingkah para pejabat yang bejat yang notabene sebagian dari mereka telah dibina di kawah candradimuka IPDN. Tapi kemarahan saya dengan kejadian ini lebih dikarenakan satu nyawa anak bangsa mati sia-sia ditangan saudaranya sendiri dan mereka menganggap itu remeh. Bagi saya itu adalah sebuah kegagalan kita sebagai bangsa yang tidak menghargai dirinya sendiri. Satu nyawa anak bangsa seharusnya dibela meskipun harus mengorbankan ribuan nyawa dalam memperjuangkannya. Setidaknya mereka mati dengan penuh kehormatan. Bukannya mereka mati karena dipukuli oleh senior mereka. Jadi saya sangat tidak rela jika satu nyawa anak bangsa ini dianggap tidak bernilai, atau terlalu dibesar-besarkan demi menyelamatkan para pembunuh yang tak memiliki nurani.

    Kita sudahi saja sampai disini. Jangan ada lagi anak bangsa ini menjadi korban kita sendiri. Pastikan itu! Jika bangsa ini ingin menjadi bangsa besar, maka semua nyawa anak bangsa ini adalah sangat berharga.

    With peace, love, and happines.
    Oi

  79. Suy

    Gak perlu pake melek mata….
    gak perlu mabok….
    Jangan takut terintimidasi

    Sudah parah negeri ini dikelola oleh Binatang berseragam

  80. kenci

    nenekku marah besar..
    lihat generasi muda berkelakuan binatang
    Nenek menangis..
    mengenang pengorbanan mereka dari penjajah…
    Dimana nurani dan moral

    neneku okem

  81. Theo

    sebentar bung…anda koq nulis seakan2 kami yang berpendapat ini orang2 yang gak nasionalis dan pemecah persatuan yah? jadi kesannya koq kita yang salah sih..hmmm…

    Mestinya nih…anda semua meminta maaf kepada seluruh lapisan masyarakat indonesia, bikin konfrensi pers, nyatakan kalau kalian semua memang melakukan kesalahan, demi korps kalian juga loh..trus berjanji di depan masyarakat Indonesia bahwa hal ini gak akan terulang dan berjanji pula kalo setiap insan yg ada di IPDN saat ini mau ‘buka mulut’ tentang kebobrokan di kampus anda. Itu baru namanya SATRIA bung!!!!

  82. OrangMedia

    Eh ngomong2 yang bikin blog ini siapa yah ?
    gak ada data yg bisa dipercaya nih tentang jati diri pembuat blog.

    Karena gak ada yg bisa dikonfirmasi dengan meyakinkan dan berhak dikonfirmasi mengenai isinya, yah… blog ini sampah

  83. sebelum ada mengajak kami semua untuk berpikir secara dingin dan dewasa apakah anda2 di ipdn telah melakukan itu semua ? anda tidak lebih dari segerombolan pembunuh berdarah dingin berseragam yang pengecut !

  84. bergolaijo

    Memang sih kita jangan terpaku dengan masa lalu.
    Yang sudah berlalu memang berlalu…
    Tapi kan tetep aja yg salah harus dihukum…
    begitukan hukum rimba yg berlaku di “kampus..?” kalian.
    Kalo kalian diem aja dan tutup mata terhadap over creativity temen2 kalian berarti ya kalian sama aja dengan mereka.
    kalo kalian melindungi pembunuh apa bedanya kalian dengan mereka..?

  85. bergolaijo

    menurut gue sih kalian cuma preman berseragam.

  86. Jlenx

    “Eh ngomong2 yang bikin blog ini siapa yah ?
    gak ada data yg bisa dipercaya nih tentang jati diri pembuat blog.

    Karena gak ada yg bisa dikonfirmasi dengan meyakinkan dan berhak dikonfirmasi mengenai isinya, yah… blog ini sampah”

    mungkin alumni, mungkin yg kabur dr sana, mungkin cari sensasi, mungkin provokator.
    mahahahahah… siapa peduli:P enjoy aja

  87. mindset

    kalau lulusan peguruan tinggi negeri n swasta kan dapat gelar SE, ST, Dr, dll.
    kalau lulusan IPDN gelarnya Alm n dapet ijazah berupa Obituary dari dokter forensik n acara pelepasan wisudanya diliput oleh seluruh stasiun TV nasional dan internasional saking hebatnya IPDN lulusannya tidak usah jalan ke panggung untuk salaman sama rektor, cukup berbaring kaku didalam kotak kayu diiringi isak tangis sanak keluarga. begitu wisuda langsung di interview sama malaikat di surga untuk ditempatkan di posisi orang2 yg terlanjur di ambil sebelum masanya .
    selamat jalan bro Cliff semoga anda tersenyum diatas sana, sekarang pain n suffering sudah tidak dapat menyentuh anda .

  88. alumnus_ITB_anti_kekerasan

    Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan mahasiswa ITB lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan satbilitas emosi memadai dan gagal memasuki ITB, UI, UGM, IPB, Akmil, AAU, AAL, Akpol, STAN dan IIP.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 dan 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, serta akhirnya digabung ke dalam IIP.

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  89. Nathali

    Dari tulisan ini sangat jelas siapa IPDN ini. Mereka hanya memikirkan diri sendiri dan komunitasnya. Tidak menghargai nyawa yang hilang dengan sia-sia. Kalo kasusnya hanya 1 kali dalam sejarah IPDN, Kami bisa memaklumi tulisan Anda! Tapi ini sudah sering terjadi!!!!!! Jujur saja, sudah berapa banyak Praja yang kalian bunuh! Ayo Jujur!!!
    Masyarakat juga turut andil dan peduli! Karena seperti yang Anda bilang Anda adalah milik masyarakat. Sebagai Masyarakat kami malu memiliki Anda!!!!!!!!! Ingat itu!
    Anda tidak sensitiv dengan aspirasi masyarakat. Bagaimana mau jadi pegawai pemerintahan. Dengan mudahnya menghilangkan masalah dengan pernyataan seperti itu. Kami sudah muaaak!

  90. Duh..kesian banget seh..

    kayanya IPDN lebih cocok jadi Rumah Sakit ato SLB
    abiz banyak pasien yang bisu, tuli n buta..

    masa temen sendiri diberi “wejangan” pada diem aja..

    tar kalo jadi pemimpin, rakyat susah mau gimana…jangan2 tar malah rakyatnya juga dikasi “wejangan” yang sama..

    fiuh..cape deh…

  91. ndesonesian

    buktikan kalian adalah putra terbaik bangsa yang dapat mengurangi populasi bangsa indonesia dengan sangat super cepat !

  92. SEKOLAHAN HORAK MUTU, KALO MO NGEBANTEI ORANG SONO TUH ANGGOTA DPR YG PADA KORUP, OR JANGAN2 TU DPR PADA LULUSAN IPDN SEMUA

  93. miss X

    udah beberapa minggu ini, indonesia diramaikan oleh berita ttg IPDN. bukan berita positif tentunya…. melainkan berita negatif. berawal dari kematian madya praja Cliff Muntu… tiba2 aja… satu demi satu media melucuti keborokan di kampus yang disebut2 oleh penghuninya sebagai “kawah candradimuka” itu.

    sebagai bagian dari masyarakat jatinangor, praja IPDN bukan hal asing bagi saya. sejak 2-3 taun yang lalu, bukan hal asing juga kalo masyarakat sini rata2 antipati sama mereka. karena ke-belagu-an mereka, karena kekerasan di kampus mereka, karena kesan ga menyenangkan yang terlihat di diri mereka(hallo effect)….

    dan sekarang…. mereka makin terkucilkan. bahkan terhinakan, terhujat, tercaci maki, ternistakan….

    karena nila setitik, rusak susu sebelanga

    saya ga bermaksud ngebela mereka ato gimana.
    saya ga bermaksud ngedukung kekerasan di kampus mereka.
    saya ga bermaksud apa-apa.
    saya cuma miris aja ngeliat keadaan mereka.
    terpojok, terintimidasi…
    setiap orang ngeliat mereka dengan pandangan melecehkan, lalu mulai membicarakan mereka dengan kata2 yang kasar dan tidak pantas.
    saya melihat dan mendengar sendiri.
    sungguh, saya sangat miris.

    dan orang2 itu hanya bisa menghujat, menghina, melecehkan…
    seandainya mereka mau buka mata sedikiiiiitt saja…
    mereka akan tau kalo ga semua praja itu bejat.
    mereka akan tau kalo ga semua praja itu brengsek.
    please lah….STOP!
    jangan lagi hujat mereka.

    hari minggu kemarin, mereka melakukan acara sosial.
    dan http://www.detik.com memuat beritanya dengan judul “IPDN cari simpati”.
    ya ampun…trus kenapa?
    trus kenapa kalo mereka cari simpati?
    ga bisakah mereka dimaafkan?
    dikasih kesempatan?
    ga bisa?

    seakan2 orang2 yang menghina IPDN itu adalah orang paling suci di dunia.

    IPDN tidak harus dibubarkan.
    IPDN hanya butuh perbaikan yang menyeluruh.

    saya mendukung…. penghapusan kekerasan di IPDN.
    saya mendukung…. perbaikan di IPDN.
    tapi saya mengecam… orang2 yang berbicara seenak lobang pantat mereka ttg IPDN!!
    seenaknya menggeneralisasikan….
    seenaknya…!!!

    coba….
    seandainya kalian yang menghujat IPDN itu ada di posisi praja2 sekarang ini?
    apa rasanya????
    bayangkan????

    dasar kalian orang2 menyedihkan!!!

  94. kucing warnet

    TAek LOE SEMUA

  95. kucing warnet

    coba….
    seandainya kalian yang menghujat IPDN itu ada di posisi praja2 sekarang ini?
    apa rasanya????
    bayangkan????

    dasar kalian orang2 menyedihkan!!!

    LOE GILA YAH..
    KALO MIKIR JANGAN GITU DUNK ??
    KALO GW TANYA GIMANA KALO SEANDAINYA YANG MATI AKIBAT DI SIKSA ITU ADE,KAKAK KALIAN ???

    LOE ITU YANG MENYEDIHKAN..DASAR TAEK

  96. for Miss X:

    situ pernah ngerasain nikmatnya free sex disana ya?
    atau pernah di-gang bang oleh praja2 senior?

    pantesss………………

  97. muthafucka

    IPDN = Ikatan Praja Pengecut Dan Norak –> bagi praja-praja yang brengsek !!

  98. Pro IPDN

    IPDN perlu perbaikan, ndak usah dibubarkan. Sayang aset yang dimiliki, Setuju dengan langkah SBY untuk menunda penerimaan mahasiswa baru 1 generasi. Untuk praja IPDN, jangan ulangi lagi kesalahan yang sama, keledai aja tdk mau masuk lobang sama untuk kedua kalinya.
    Maju terus IPDN

  99. wedhus

    tai ngasu kabeh,…otak soak..mental busuk..
    asuuuuuuuuuuuuuuuuuu…………..

  100. Gunawan

    Kami berpikiran jernih selama ini . Diam diam dan diam…. Para pemimpin naikkan harga beras kami masih diam. Para pemimpin korupsi kami masih diam. MAAF .. MAAF kami memang pe maaf sebagai rakyat kecil kami pemaaf karena hanya itu milik kami.

    Tapi tolonglah anda lihat beberapa tahun lalu kasus seperti ini pernah terjadi. kami telah maaf kan . IPTN namanya ok kami maafkan biarlah dia jadi IPDN . tapi apa maaf kasus yang sama terulang lagi . kantong maaf kami telah kering .

    kalo saja hari ini kami memaafkan lagi ??? apa jaminannya tidak terulang di IPDN .

    Kami juga sadar IPDN adalah milik bersama. Tapi ketika jebolan ipdn berkarir di masyarakat. apa yang kami dapat ??

    harga yang melonjak…???
    Pemadaman listrik setiap saat ???
    ataukah berita berita busuk yang selalu menebar membuat kami trauma akan pemerintahan .

    Siapa Kuat dia yang menang : Hukum rimba telah di tegakkan di IPDN.

    USUT TUNTAS PEMBUNUHAN INI DAN USUT TUNTAS SIAPA YANG TERLIBAT …TUTUP IPDN kami capek dengan tingkahnya …Masih banyak pendidikan lain yang punya kwalitas selain IPDN.

  101. geoverdommeh

    BUBARKAN IPDN!!!!
    alumni IPDN tak ada yg berotak.
    mereka hanyalah manusia terbuang yang tak diterima di PTN
    mereka adalah bagian dari nepotisme pejabat daerah
    mereka adl org2 bodoh yang rela membayar puluhan bahkan ratusan juta hanya utk menjadi PNS.
    rekrut saja PNS dari alumni PTN/PTS melalui mekanisme rekrutmen yang benar.
    perbaiki sistem birokrasi Indonesia
    agar berkurang bahkan habis sistem bobrok KKN dlm lingkup birokrasi dan munculnya aparatur negara yang berkualitas (moral dan intelektualitas)

  102. john petruci

    halah….dari kematian almarhum wahyu hidayat juga ngomongnya gt….ingat pepatah…’ORG YG MENGALAMI KESALAHAN YG SAMA ADALAH ORG YG BEBAL…BODOH…BEGO….” GA BEDA AMA BINATANG….
    BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIKBAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK BINATANG JALANG BAJINGAN TENGIK

  103. KARMA SUDAH TDK BERTAHUN-TAHUN LAGI

    kiamat udah dekat, bertobatlah anda semua.
    hukum karma sudah banyak yg ditampakkan.
    anda memukul kamu akan dipukul
    anda menendang kamu akan ditendang
    anda mencaci kamu akan dicaci
    kalau anda yg tdk kena karmaNYA,
    anda kan akan punya isteri, punya anak, punya cucu.
    mau tidak ? karma itu ditimpakan kepada mereka . . . . ?

  104. Membubarkan IPDN bukan tanpa solusi toh?
    Para praja yang masih belajar di sana bisa dititipkan di kampus-kampus “normal” yang tidak bersistem kekerasan…

    Banyak sekali FISIP di seluruh Indonesia…
    atau mungkin bisa mencontoh IIP di Jakarta yang tidak ada kasus kekerasan di sana

    Kebanggaan berseragam kalian adalah kebanggaan semu
    IPDN ada karena uang rakyat, bukan uang negara…
    maka rakyatlah yang berhak untuk menentukan apakah IPDN bubar atau tidak

    Sesungguhnya kalian haruslah menjadi pamong yang sesunguhnya… mengayomi masyarakat, mengabdi dan bukan rakyatlah yang mengabdi kepada kalian, melayani bukan dilayani…

  105. Stupid Blog ™ or.. Smart Blog ™
    hits nya gede, knp g pasang adsense?

  106. orang yang nulis posting ini berarti menganggap enteng nyawa Clief muntu, nyawa clief dianggap sebagai tumbal. Berarti orang yang posting ini juga aliran sesat

  107. Serukan ke rekan & saudara anda, untuk tidak masuk IPDN

    Cukup dengan memblok orang2 yang kita cintai untuk tidak berhubungan dengan IPDN.

    Biarkan mereka memperbaiki sendiri dulu kalau mampu.

    Jika keadaannya baik, baru kita sambut.
    Bila keadaannya tak membaik, kita WAJIB menghapus IPDN dari bumi Indonesia.

  108. Rakyat Kecil

    Salam Jotos Hahahahaha…….

    Apa pun alasannya IPDN adalah sistem pendidikan yang tidak bermoral, bermartabat dan tidak menjujung tinggi azas Pancasila. Pendidikan yang keras apakah akan membuat para praja yang kelaknya akan jadi pejabat tidak korupsi?? Omong kosong itu semua. Pendidikan yang keras atau malah terlebih amat keras melebihi pendidikan militer hanya akan menebar rasa dendam dan kebencian itukah putra putri terbaik Indonesia yang sehari harinya melakukan kekerasan dan kekejian. Siapa yang salah? Inu Kencana kah yang harus disalahkan karena telah membongkar kebobrokan yang ada di IPDN atau pejabat IPDN beserta stafnya yang membuat sistem dan kebijakan serta telah menutup nutupi fakta yang ada selama ini di IPDN. siapa?? ada yang bisa menjawab beserta alasannya. Menurut saya Inu Kencana jelas tidak salah karena dia membeberkan fakta sesuai dengan yang ada dilapangan. Mau dibawa kemana bangsa ini jika mahasiswa IPDN yang notabene akan menjadi abdi masyarakat seperti itu, akankah bangsa ini akan menjadi bangsa monster yang akan siap menerkam kami rakyat kecil. Mari kita renungkan semua khususnya untuk para pejabat IPDN beserta staffnya. Btw Selamat atas pemecatan bapak rektor IPDN yang lama, selamat buat anda telah mencetak praja yang kuat yang sehat yang tahan banting walau pada akhirnya tulang tulang mereka harus ditelan bumi lebih dini, selamat buat anda telah membuat sistem yang menurut anda layak yang telah mengantarkan dengan sukses anak muda yang masih panjang masa depannya ke liang lahat, selamat buat anda yang telah dengan sukses menumpahkan airmata para orang tua yang ditinggalkan anaknya ke alam baka. Maaf saya telah melakukan posting disini. ini saya lakukan karena saya muak dengan kekerasan inikah yang dikatan berpikir dingin secara dewasa seperti yang ada pada title blog IPDNmania. Pengelola blog IPDNmania Anda kurang puas bisa kirim email ke presiden sby aja ya tapi jangan diajak adu jotos anda jelas kalah.

    Salam Jotos hahahahahaha…….

  109. Aink Beull

    Udah Tau Kalian Sekolah dibayarin ma Pemerintah, Eh kalian malah enak-enakan disana, pake ada acara bantai-bantaian lagi dikampus udah gitu korbannya ampe mampus (mati, red), Dari pakaian kalian aja dah keliat klo kalian semua so jagoan apalagi pakaian anak cowo nya Pada ngetat, apa ga kekecilan tuh baju? apa emang mau nunjukin otot kalian dengan memakai pakaian yg ketat. APA SIH YANG KALIAN INGINKAN HA? KO KAMPUS KALIAN TUH PENUH DENGAN API DENDAM SESAMA PRAJA……TOLONG JAWAB !!!!!. 98% dari kalian memiliki wajah dan kepribadian sombong, Kalian merasa diri kalian adalah orang yg istimewa…. Halah Basi kalian semua (Praja2 IPDN), JangaN so Jagoan Kalian dengan Memakai Seragam kalian. MALU DONG, MALU KALIAN SEKOLAH TUH DI BIAYAIN SAMA PEMERINTAH DAN UANG PEMERINTAH ITU SEMUANYA DARI RAKYAT (Uang pajak). KALIAN MEMANG GA BISA DIBANGGAIN. KALIAN HANYA BANYAK MAINNYA (MAIN HAJAR, MAIN TENDANG, MAIN KEROYOK) DIBANDING AMA BELAJARNYA …… KALIAN DISANA BELAJAR APAAN SEEH…… SEKOLAH KALIAN GANTI AJA NAMANYA JADI INSTITUT PREMAN DALAM NEGERI, Percuma Image Sekolah Kalian dah jelek, sampai nnti anak, cucu, buyut kami. Kasus kalian bukan hanya nyampe di Seluruh Nusantara (Indonesia, red), Tapi Seluruh DUNIA TAHU. SAlam BUBAR BUBAR dan BUBAR…..

  110. gocap+gocap=cepedehh...

    Gileee….masih aja nulis kayak ginian…punya hati nurani gak kalian…
    bener2 dah hancur bangsa ini…
    masih aja…jaman aja hukuman fisik tonjok dan segala macamnya…gak bagus banget buat mental….
    study banding lah kenegara lain…kayaknya gak ada tuh yg ikut pendidikan terus sampe mati >.

  111. Care Indonesia

    Kalian seharusnya marah kepada diri kalian sendiri dan sistem pendidikan kalian..
    Katakan pada diri kalian bahwa “betapa sesat dan bodohnya saya …tuhan ampuni saya buka kan pintu taubatMU”

    Tulisan kalian diatas makin membuktikan kalian benar-benar sudah buta mata hati dan nurani, tidak bisa lagi menterjemahkan nilai-nilai kemanusiaan, baik vs buruk, salah vs benar. Mata batin kalian tidak dapat melihat seorang Inu yang merupakan penolong masa depan kalian dan akhirat kalian. Kalian membiarkan dan merelakan raga, intelektual dan bahkan harga diri dijajah, disemana-menakan oleh kejahatan sistem kolektif.
    Kalianlah yang sedang sakit bukan masyarakat

    Kalian jelas bukan putra-putra terbaik bangsa ini. Putra-putri terbaik bangsa ini adalah mereka yang berkeringat otaknya serta merdeka jiwanya. Jika bermodal berkeringat badan dan KKN saja sepertinya kalian tidak perlu sekolah apalagi sekolah dengan biaya masyarakat.Tidak mungkin pernah ada kecerdasan dalam suasana kecemasan, ketakutan, keletihan dan kesakitan..Yang ada adalah robot-robot ganas,bodoh berotak udang yang siap menerkam yang lemah…cam kan itu!

    Kalian didoktrin untuk mendewakan senioritas, lambang, atribut, corps yang sebenarnya sudah tidak laku lagi dizaman modern seperti ini. Untuk itu semua kalian tega membiarkan dibantai dan pembantaian yang ada disekitar kalian.

    Yang bisa kalian lakukan adalah berkaca lebih lama, merenung, kooperatif dalam membongkar kejahatan disekitar kalian, dan belajar membuka mata hati untuk berterima kasih kepada malaikat penolong kalian dan terakhir bertobat atas keterlibatan kalian baik secara langsung dan tidak langsung hingga kasus ini terkuak.

    Sadarkah bahwa kalian adalah nila setitik yang merusak citra bangsa ini. Sadarkah kalian yang notabene dibiayai rakyat justeru saat ini menjadi beban rakyat.

  112. Aldian

    Kejahatan yang dibiarkan terjadi bertahun-tahun masih disebut nila setitik? Dasar orang gila. Lulusan IPDN sejati.
    Kalau memang kekerasan fisik merupakan ‘kebijakan’, itupun harus terbuka, nggak ditutup-tutupi.
    Kenyataan bahwa kalianpun menutupnutupi kekerasan di IPDN membuktikan bahwa kalian pun tau perbuatan kalian salah, tapi gak cukup memiliki moral bagus untuk memperbaikinya.
    Jadi IPDN dibubarkan merupakan pilihan bagus.

  113. che

    pemerintah lah yg harus berpikir dingin secara dewasa, ngadepin kasus kyk gini aja sulit untuk menentukan keputusan. takut salah ? ato takut kasus2 masa lalu nya terbongkar juga? gak usah neko2 berapologi lah.. penjahat2 yang mengatas namakan pengayom masyarakat sudah saat nya dibinasakan dari muka bumi.

  114. IPDN TAIK BABI

    WOI SENIOR2 IPDN, MAKAN TAIK BABI SEMUA KALIAN…
    SEKOLAH PENCETAK PEMERINTAH KOK KAYAK GINI ???!!!
    MAU JADI APA NEGARA INI ???!!!
    MAU JADI PEMBUNUH SEMUA, DASAR IPDN KONTOL BABI SEMUA !!!
    PEJABAT2 DI IPDN JUGA GA ADA GUNA, MASAK ANAK2 NYA DIBIARKAN BERTINDAK SEPERTI ITU, MAU JADI APA KALIAN !!

    KALAU BANGSA INI MASIH PUNYA MORAL, SEGERA BUBARKAN IPDN !!!! BAKAR IPDN !!!!!!!!

    TAK ADA GUNA PEROMBAKAN, TOH SUDAH ADA PEROMBAKAN SEBELUMNYA, TAPI TAIK BABI TETEP AJA TAIK BABI, GA AKAN BERUBAH, UDAH KODRAT !!!!
    BISANYA CUMA MAKAN TAIK BABI !!!

    KALIAN TUH PUNYA OTAK GA SIH !!!
    JUNIOR2 KALIAN TUH MANUSIA, PUNYA CITA2, MAU BELAJAR UTK JADI PEMERINTAH, BUKAN JADI MANUSIA KEBAL ATAU JADI BANGKAI !!!
    MASA MEREKA DITUTUP MATANYA TERUS DIPUKUL, PENUTUP MATANYA SUPAYA GA TAU KAPAN MESTI TAHAN NAPAS.

    apa lo bilang !!! berpikir dengan jernih ???!! lo yg mikir, BAABIIII !!!! lo tonjok perut junior lo di ulu hati lo kira lo mikir jernih ngelakuin itu !! dasar IQ jongkok, ga punya moral !!!!

    Saya salut dengan Bpk Inu Kencana yg telah membeberkan semua kebusukan di IPDN. Orang2 seperti Bpk Inu yang sangat dibutuhkan negara Indonesia saat ini, orang yang berani mengungkapkan kebenaran demi kebaikan dan siap menghadapi resikonya.
    Hidup Bpk Inu !!! Hiduuupp !!!!

  115. ipdnsuck

    Baaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkarrrrrrrrrrr IPDN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    pecat semua alumni IPDN dari jajaran pemerintah!!!!

  116. wongedan

    aduhh…aduhhh
    putra putri terbaik bangsa??
    NGACA DONGGGGGGGGG!!!!!!!!
    abis mukulin orang ampe mati bilang gitu??
    HUahahahaha
    joke of the century nehhhhhhhhhh

    lulusan IPDN harusnya jadi preman, bodyguard atau debt collector aja

    SAMPAH MASYARAKAT KALIAN SEMUA PRAJA IPDN!!!

    UDAH MUAK GUE LIAT TAMPANG2 LOE YANG ABRI WANNABE..

    POTONGAN CEPAK..BAJU DINAS..UDAH NGERASA GAGAH SENDIRI YA??

    PREMAN PASAR AJA KALAH GANAS DIBANDING KALIAN!!!
    CAMKAN ITU!!!

  117. Cliff Muntu

    Seniorku tercinta….

    Hari demi hari telah kulalui di kampus IPDNku tercinta…
    Segala Caci maki & Cercaan telah kuterima…
    Pukulan demi pukulan juga telah kuterima…

    Semua itu kuterima demi harapan keluargaku…
    Semua itu keterima demi cinta pada keluarga & bangsaku…
    Tapi semua itu kuterima bukan untuk kalian seniorku…

    Impian tuk membahagiakan keluarga & bangsa telah lenyap..
    Kini ku telah terbujur kaku dgn luka mendalam lahir & bathin
    Telah puaskah kalian wahai seniorku???

    Kutunggu kalian di peradilan akhir…
    Semoga Tuhan memaafkan kalian…

  118. mustinya lo tu berpikir dingin n dewasa sebelum gebukin anak org. gt boz yg bener.

  119. ###quote###
    >marah dan memaki bukan solusi untuk selamatkan ipdn >mengingat ipdn adalah milik masyarakat.
    ###end of quote###

    setuju sekali dengan pendapat ini, bahwa marah dan memaki sama sekali bukan solusi. Marilah kita belajar menjadi bangsa yang berjiwa besar.

    hal lain yang juga ***sangat betul*** adalah ipdn adalah milik masyarakat karena masyarakat yang membiayai. perlu atau tidaknya juga berarti masyarakat yang menilai bukan praja, alumni atau civitas akademi ipdn. Praja, alumni atau civitas akademi ipdn hanya perlu membuktikan jiwa besarnya dengan menunjukkan “keberaniannya” untuk menghadapi segala macam konsekuensi yang akan dihadapi.

    ###quote###
    >marilah saudaraku…
    >kita lihat kedepan, tinggalkan yang belakang… karena
    >kehidupan adalah masa depan, masalalu hanya jejak
    >pengalaman berharga…..

    >kita cari solusi yang bijaksana agar supaya ipdn tetap
    >menjadi perguruan tinggi kawah candra di muka bagi para
    >calon abdi negara yang juga abdi masyarakat.
    ###end of quote###

    Setuju, marilah kita lihat ke depan!
    marilah kita mendukung langkah2 tim evaluasi ipdn ini dengan sepenuh hati. jangan ada lagi dusta, mari kita buktikan sikap kesatria kita dengan mengungkap hal-hal yang sebenarnya. sudah saatnya bagi praja, alumni dan pejabat di lingkungan ipdn yang mengetahui kebenaran untuk berbicara apa adanya….

    Pembuktian jiwa satria yang bermartabat dan keberanian alumni maupun praja ipdn dapat ditunjukkan hanya dengan “kejujuran” dibandingkan ungkapan, kata2 dan “defense” yang hanya membuat masyarakat semakin antipati.

    Kami percaya, praja dan lulusan ipdn memiliki jiwa besar dan kesatria untuk menghadapai segala resiko dan tanggung jawabnya. Beranikah untuk jujur untuk mengungkapkan “kebenaran”? Perlu kita tanamkan dalam otak kita, walaupun kebenaran kita tutup2i, akhirnya akan terkuak juga.

    Percayalah, Allah swt bersama kita… Apakah ipdn ditutup ataupun tetap dipertahankan, tidak usahlah terlalu berkecil hati. Bagi lulusan ipdn, praja maupun civitas akademi ipdn, tanyakan kepada hati nurani sendiri apakah masyarakat masih betul2 memerlukan atau sudah tidak?

    ###quote###
    >kita cari solusi yang bijaksana agar supaya ipdn tetap >menjadi perguruan tinggi kawah candra di muka bagi para >calon abdi negara yang juga abdi masyarakat.
    ###end of quote###

    betul sekali, cara dialog masih bisa ditempuh dibandingkan cara2 lain yang tidak elegan. solusi membuat sebuah perguruan tinggi bagi para calon abdi negara yang juga abdi masyarakat yang modern dan berpikiran maju dengan menyeimbangkan antara otak dan otot, semoga bukan hanya sekedar wacana.
    Agar terealisasi tentu dengan evaluasi saat ini sebelum melakukan planing ke depan. Evaluasi saat ini yang diperlukan adalah “kejujuran” untuk mengungkapkan apa yg terjadi di “kawah candra dimuka” tsb selama ini???

    ###quote###
    >marilah saudaraku…
    >haruskah gara gara nila setitik segelintir oknum lantas adik >adik kami yakni para praja yang masih disana dan anak >anak bangsa yang ingin jadi praja tersisihkan >nasibnya…????
    ###end of quote###

    kalau kita mau berpikir sedikit lagi saja (gak usah banyak2…) dan melihat dari kepentingan umum (yang lebih makro lagi), mungkin kita akan berkata kepada diri sendiri: “Haruskah gara2 segelintir orang yang ingin mempertahankan ipdn dengan cara2 mengedepankan otot seperti ini, nasib bangsa menjadi tersisihkan?”.
    Bagaimana mungkin lulusan ipdn dapat menghargai nasib masyarakat yang akan di “ayomi”nya nanti, sementara menganggap kasus seperti ini seperti “setitik nila” yang tidak berarti apa2?

    ###quote###
    >saudaraku….
    >hanya dengan berpikir jernih dan dewasa kita dapat >selamatkan segenap komponen bangsa agar terhindar dari >perpecahan dan adu domba….
    ###end of quote###

    Mari kita berpikir jernih dan dewasa dengan ketulusan, kelapangan dan keikhlasan hati apapun yang akan terjadi.

    Bagi yang berkaitan langsung dengan ipdn, tawakalah saudaraku, berserah dirilah kepada Allah swt. ipdn tutup bukan berarti kiamat. Kalaupun ipdn tetap dipertahankan, introspeksi dirilah. Masih banyak jalan dan pintu2 rejeki yang dapat kita peroleh di jalan Allah swt. “Ngotot”pun toh tidak akan membawa kebaikan…

    Mari kita percayakan masalah ini kepada tim yang mendapatkan tugas dan berkompeten untuk menuntaskan masalah ini. Yang paling penting, kita jangan sampai lengah dan terlena dengan membiarkan ipdn berjalan tanpa kita monitoring

    LETS DO IT… :)

    @dH1

  120. Cliff Muntu

    Wahai Seniorku Calon Praja IPDN tercinta….

    Hari demi hari telah kulalui di kampus IPDNku tercinta…
    Segala Caci maki & Cercaan telah kuterima…
    Pukulan demi pukulan juga telah kuterima…

    Semua itu kuterima demi harapan keluargaku…
    Semua itu keterima demi cinta pada keluarga & bangsaku…
    Tapi semua itu kuterima bukan untuk kalian seniorku…

    Impian tuk membahagiakan keluarga & bangsa telah lenyap..
    Kini ku telah terbujur kaku dgn luka mendalam lahir & bathin
    Telah puaskah kalian wahai seniorku???

    Kutunggu kalian di peradilan akhir…
    Semoga Tuhan memaafkan kalian…

  121. BUBARKAN IPDN

    BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDNBUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN BUBARKAN IPDN

  122. Zzzz

    Orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan nafsu, dalam artian saat ini adalah amarah.
    Itu sangat benar.
    IPDN ga bisa dianggap kuat dan berwibawa karena mereka kuat dalam pisik.
    Tapi yang aku baca dari blok, mereka cukup kuat untuk menahan amarah dengan tetap bertindak tenang. Justru para komentator lainnya yang sangat lemah dalam menahan emosi. Selain itu jelas mereka juga tahan akan pukulan.

    Rasulullah pernah hampir dibunuh oleh seseorang, tapi beliau memaafkan hingga akhirnya orang tersebut menjadi pengikutnya. Itulah tindakan bijak Rasul.

    Bukan berarti yang terjadi di IPDN dapat dimaafkan dengan mudah. Memang masa lalu tetap menjadi masa lalu yang ga kan dapat diubah. Tapi ubahlah masa sekarang dan jadi terbaiklah dimasa sekarang agar masa depanmu juga menjadi baik. IPDN harus berubah.

    Aku salut ama keteguhan hati kalian IPDN dalam membela, tapi ga salut ama bungkam menutupi kebenaran.
    Jangan anggap kritikan itu selintas barang yang ga berguna. Jadi kan itu sebagai papan pendorong perbaikan diri kalian.

    Untuk yang memberikan komentar, mohon untuk tidak mengeluarkan kata2 sampah. Karena bisa2 kalianlah yang sampah. Ayo kita bangun bangsa ini dengan bijak. Berpegang teguh pada agama.

    Saranku untuk IPDN, kalo pun IPDN dibubarkan, jangan anggap bahwa ga kan ada para calon pemimpin yang tangguh lagi di negeri ini karena di negeri ini ga hanya ada kalian doank. Jiwa pemimpin itu ada dalam diri kita masing. Rasul ga pernah mengajarkan kekerasan pada pemimpin2nya.
    Kalo IPDN dibubarkan, tunggu dulu para juniornya lulus.
    Semoga kalian disana menjadi orang2 yang baik.

    Terimakasih….

  123. dunia tanpa kekerasan

    Orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan nafsu, dalam artian saat ini adalah amarah.
    Itu sangat benar.
    IPDN ga bisa dianggap kuat dan berwibawa karena mereka kuat dalam pisik.

    Tapi yang aku baca dari blok, mereka cukup kuat untuk menahan amarah dengan tetap bertindak tenang. Justru para komentator lainnya yang sangat lemah dalam menahan emosi. Selain itu jelas mereka juga tahan akan pukulan.
    =>> Apakah pihak IPDN mampu menahan emosi sambil membunuh teman mereka….?

    TOLONG CAMKAN SEBELUM MENJADI PENENGAH …….

    =>> salah sendiri mereka membuat blog website ini…?
    =>> yang memancing amarah khan mereka sendiri ….

    Rasulullah pernah hampir dibunuh oleh seseorang, tapi beliau memaafkan hingga akhirnya orang tersebut menjadi pengikutnya. Itulah tindakan bijak Rasul.

    =>> ( mohon koreksi klo salah ) apakah RASUL pernah membunuh …… duluan ….?
    =>> Apakah klo RASUL sudah terbunuh anda akan memaafkan yang membunuh …..?
    =>> Cliff Muntu dan yang lainnya sudah terbunuh INGAT……
    =>> Kalau anak anda sudah terbunuh apakah anda akan iklas memaafkan….?

    Wallahu Salam ….

    Zzzz

    Apr 18th, 2007 at 1:56 pm

    Rasul melihat sahabatnya terbunuh
    Para pemimpinnya terbunuh
    Dan beliau memaafkan

    dun

    Apr 18th, 2007 at 2:13 pm

    Zzzz

    Apr 18th, 2007 at 1:56 pm

    Rasul melihat sahabatnya terbunuh
    Para pemimpinnya terbunuh
    Dan beliau memaafkan

    MAKLUMI KITA bukan RASUL

  124. Persatuan Tukang Pempek seluruh Indonesia

    Persatuan Tukang Pempek seluruh Indonesia Menyatakan Bahwa Kami Mendukung di BUBARKANNYA IPDN. HIDUP INDONESIA KU.

  125. Zzzz

    Rasul adalah pedoman kita

  126. dunia tanpa kekerasan

    Zzzz

    Apr 18th, 2007 at 2:01 pm

    Orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan nafsu, dalam artian saat ini adalah amarah.
    Itu sangat benar.
    IPDN ga bisa dianggap kuat dan berwibawa karena mereka kuat dalam pisik.
    Tapi yang aku baca dari blok, mereka cukup kuat untuk menahan amarah dengan tetap bertindak tenang. Justru para komentator lainnya yang sangat lemah dalam menahan emosi. Selain itu jelas mereka juga tahan akan pukulan.

    Rasulullah pernah hampir dibunuh oleh seseorang, tapi beliau memaafkan hingga akhirnya orang tersebut menjadi pengikutnya. Itulah tindakan bijak Rasul.

    Zzzz
    Apr 18th, 2007 at 1:56 pm

    Rasul melihat sahabatnya terbunuh
    Para pemimpinnya terbunuh
    Dan beliau memaafkan

    dun
    Apr 18th, 2007 at 2:13 pm
    MAKLUMI KITA bukan RASUL

    Zzzz
    Apr 18th, 2007 at 2:26 pm

    Rasul adalah pedoman kita

    =>> akhirnya aq tersadar bahwa rekan2 kita yang di IPDN yang tukang bohong dan bunuh manusia => memakai => Rasul sebagai pedoman kita

  127. dunia tanpa kekerasan

    ” Duch Gusti…. Astaghfirullah..99X maafkanlah hambamu ini … “

  128. Zzzz

    Maaf, aku bukan IPDN.

  129. Penikmat cewek STPDN

    wow
    enak coy!

  130. Care Indonesia

    Ajaran sesat bawa-bawa Rasul segala, bisa jadi tambah sesat praja-praja sesat itu.

    Baca kitab harus ada ilmunya, membunuh dan terbunuh berbeda maknanya. Konteks yang dibicarakan masyarakat kaitannya dengan kata kerja membunuh alias konsekuensi penegakan hukum dari suatu perbutan, bukan disederhanakan hanya sebatas hubungan antar individu ybs:)Jangankan membunuh, mencuri saja hukum Islam sudah jelas sanksinya. Ikhlas dalam konteks menerima takdir bukan membiarkan proses kezhaliman berlanjut

    Simplikasi pemahaman ayat dan kisah akan menambah dosa anda bung apalagi seolah-olah melakukan pembenaran apa yg dilakukan praja-praja sesat tsb.

    Bertobatlah..!

  131. Betul itu kita harus berpikir dewasa. misalnya kita harus berpikir tentang adegan adegan dewasa di film dewasa, kayak adegan pemukulan senior ke junior itukan adegan Dewasa (betul tidak?)

    TRus adegan panas (S*x) gitu juga harus selalu dipikirin, maksudnya berpikir dewasa seperti itu kan ? wekekekekk

  132. wahyu

    Gak pernah dengar orang2 STPDN meminta maaf dengan sangat atau Menyesalkan secara mendalam kejadian pembunuhan2 ini, dianggap yg mati adalah yg lemah yg memang pantas untuk mati. Kalau memang lo2 semua pada dewasa, ngomong baccott loe secara jantan yg loe pada lakuin, jangan cuman jadi bencong yg beraninya maen pukul atas dasar senioritas, magang aja di taman lawang buat jadi bencong sekalian, kerjaan mukulin orang, nngenntootttt, mukul, nngenntootttt, mukul, nngenntootttt, mukul, nngenntootttt, mukul, nngenntootttt pinter yaachh

  133. wahyu

    Enak aja memaafkan, dimaafkan trus pembunuhnya di lepasin gitu???? kalo misal Loe (dunia tanpa kekerasan) yg terbunuh ato adik loe yg dibunuh, dijagal kayak annjjingg trus di matiin gitu aja Loe terima?? kesian banget jadi adek kamu, punya kakak gak berguna cuman bisa rela terima ketidak adilan, Loe bencong ya?

  134. Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan mahasiswa ITS lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan satbilitas emosi memadai dan gagal memasuki ITS, UI,Unair, UGM, IPB, Akmil, AAU, AAL, Akpol, STAN dan IIP.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 dan 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, serta akhirnya digabung ke dalam IIP.

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  135. bayu

    cuk, sopo gae jeneng its..??

  136. alumnus_ITB_anti_kekerasan

    ahh ITS mah Institut Teknologi Sampah !!!
    Sama aja kaya IPDN

  137. eks-itb-tua

    ITS yang kreatip dikit kalo bikin posting jangan bisanya ngikutin anak2 ITB.. ehh,, malah kata ITB diganti ITS.. Jiancuuk lah kalian !! IPDN juga laknat…

  138. SOEMANTO

    walah,anak ITS nyari gara-gara juga.musuh bersama sekarang ipdn coy

  139. kampret

    Sumanto ngapain juga ini…
    udah sana cari korban…
    ato bikin sate sana kan lebih enakan….

  140. wahyu

    Katanya pada sekolah di universitas terbaik ITB, kok lulusannya kayak gini yach ? sama aja otaknya gak intelek ,jelek2 in almamater universitas laen(ITS) yg tidak punya salah apa2 ? sama aja Katrok Ndeso, sama aja ama lulusan IPDN

  141. kampret

    LULUSAN APA……
    WONG YANG NULIS DISINI PADA GA SEKOLAH KOK LULUS…..
    GUOBLOKNYAAAAA ANAK INI…..
    SAMA AJA KAYA ANAK IPDN…..

  142. Care Indonesia

    Kenbali ke Laptop!!

    Kekerasan fisik yang terjadi di IPDN serta sistem yang menaunginya, karena memang kekerasan jenis itu yang mampu mereka lakukan sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki karena memang mereka tidak punya kemampuan intelektual.

    Jangan sampai orang-orang yang memiliki kemampuan intelektual justeru mencontohkan praktek-praktek kekerasan intelektual. Intelektualitasnya dipakai dong untuk menyadarkan orang-orang yang masih pakai pendekatan otot…seperti praja-praja sesat itu

    Apa sih gunanya pensakralan seragam, atribut, corps, karena yang diukur/dinilai masyarakat adalah nilai dari apa yang kalian lakukan.
    Alumni ITB, ITS dan alumni lainnya yang berhasil banyak, yang gagal juga banyak.
    Semua terpulang kepada individunya masing-masing.

    Hayo kita bersama fokus untuk tidak memberi tempat bagi mesin-mesin sesat seperti IPDN yang memproduksi praktek-praktek kekerasan

  143. agindra

    Kalian.. praja IPDN..

    Otak kalian telah dicuci dengan darah saudara kalian sendiri!

    Kalian dididik untuk melayani.. bukan untuk menyiksa saudara kalian sendiri!

    Kedisplinan kalian seharusnya bukan dari paksaan.. bukan dari ketakutan..
    tapi dari kerelaan!

    Kebanggaan bukan dilahirkan dari kebersamaan atas kesengsaraan
    tapi dari pencapaian!

    dan kalian harus setia kepada kebenaran bukan kepada pimpinan!

  144. Belalang

    IPDN…

    MASUKNYA NYOGOK 75 JUTA..
    SETELAH MASUK DISIKSA…
    SETELAH JADI PRAJA CARI HARTA…
    JADI KORUPTOR TERBARU INDONESIA…

    SELAMAT!!! KALIAN MEMANG PUTRA-PUTRI TERBURUK BANGSA!

  145. IPDN

    Kalian itu tai semua..biar bagaimana IPDN no.1

  146. IPDN No.1
    Pembunuh Bayaran
    Huahahahaha

  147. wechys

    5. Sebetulnya kami ini intelek
    Orang-orang sombong yang beruntung kuliah di perguruan tinggi melampiaskan kedengkiannya dengan menganggap kami sebagai calon robot dalam industri besar bermama birokrasi. Tahukah anda semua bahwa kami juga belajar seperti mahasiswa? Hanya saja kami tidak suka berdebat tanpa arah. Kami tidak suka diskusi hanya untuk pamer wawasan dan tunjukkan daftar pustaka di ujung lidah karena bagi kami banyak membaca hanya akan menyiksa dan itu bukan jaminan bagi karir kami di masa depan.

    **Ya alhamdulilah saya bisa kuliah di universitas negeri tapi gak sombong lho. tau klo kamu belajar kayak mahasiswa, tapi maaf kami gak suka debat kusir kayak dugaan kalian klo debat pasti ada arahnya. katanya belajar kayak anak kuliahan. kok membaca aja gak mau, anda bisa berkembang dari mana, majadi katak dalam tempurung ya. Pemerintah aja menggalakkan membaca. kalian malah ogah membaca gimana to………..Pantas aja perpus ipdn hanya buka samapai jam 2.00**

  148. Lho.. ????? Memangnya siapa yang tidak bisa berpikir secara dewasa ???

    Selama para praja2 yang “TOLOL” itu masih bertahan bungkam dan tidak mau mengungkap fakta yang terjadi kepada korban-korban kekerasan dan penganiayaan di IPDN,itu kan berarti masih cetek…….. Sudah tahu kalo memang dewasa berarti bisa mempertanggungjawabkan segala tindakannya baik yang salah maupun benar..

    Sudah tahu menganiaya itu salah… masih di tutup-tutupin.. cuman gara-gara tunduk sama atasan ????? GUOOOBLOG !!!

    GROW UP LAH !!!
    ADEK GUE YANG KECIL AJA TAHU LU-LU ORANG SALAH !!!

  149. MDP, anak its

    hmm…. sepertinya ada beberapa oknum yang mencoba mengadu domba disini. Mudah2an kita tidak sampai terpancing sampai saling menjelek2kan almamater lain. Untuk orang2 yang mengaku anak ITB di atas, buktikan kata2 anda bahwa anda sebagai putra putri terbaik bangsa! perkataan kalian tidak mencerminkan anda semua sebagai orang yang berpendidikan. Hanya mengandalkan emosi tidak menggunakan pikiran yang sehat. Tunjukkan anda orang yang berdedikasi dengan menghormati almamater lain. Ingat kearogansian anda bisa membunuh anda sendiri. Anda berkata IPDN bodoh, dungu , dsb, padahal jawaban anda di atas mencerminkan anda tidak berbeda dari orang2 yang melakukan penyiksaan tersebut. Buat teman2 semua di sini , sepertinya blog ini dibuat sebagai sarana adu domba oleh pihak tertentu. Sampai sekarang identitas pembuatnya tidak kita ketahui dengan jelas, mudah2an kita tidak terpancing.
    IPDN tidak salah, yang salah adalah SISTEMnya, dan orang2 yang menjalankan sistem tersebut. Tidak seharusnya lembaga sipil menjalankan sistem militer , bahkan melebihi sitem militer. Semoga langkah2 yang diambil bapak presiden, bisa membawa perubahan dalam IPDN.

    terima kasih

    Vivat ITS !!!!!!!!!!!!!!!!!!

  150. Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan mahasiswa ITA*TS lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan satbilitas emosi memadai dan gagal memasuki MIT, HARVARD,CALTECH, dan PRINCETON.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 dan 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, serta akhirnya digabung ke dalam IIP.

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  151. apalah arti sebuah nama cliff muntu (in memoria progessio...)

    TENANG SAUDARA-SAUDARA SEMUANYA,DENDAM KALIAN AKAN TERBALASKAN OLEH ANAK SAYA.

    SAYA MENDAPAT ILHAM DARI ARWAH CLIFF MUNTU KALO ANAK SAYA AKAN MENJADI PEMIMPIN MASA DEPAN INDONESIA
    YANG BEBAS KORUPSI DAN BIROKRASI.

    SAAT INI SAYA SEDANG MELATIH BERBAGAI MACAM ILMU KANURAGAN KEPADA ANAK SAYA SATU2NYA YANG AKAN SAYA WARISI SELURUH ILMU KANURAGAN DARI SAYA.SUDAH LAMA SAYA MENGASINGKAN DIRI DARI DUNIA PERSILATAN DAN DUNIA PEMERINTAHAN.TAPI AKHIRNYA PADA SUATU MALAM DALAM SEMEDI SAYA DATANGLAH ARWAH CLIFF MUNTU MENYERU KEPADA SAYA UNTUK KEMBALI MEMPERBAIKI DUNIA PEMERINTAHAN MELALUI ANAK SAYA.

    TENANG SAUDARA-SAUDARA,BEBERAPA BULAN KEDEPAN AKAN TERJADI BERITA MENGGEGERKAN DI IPDN MELEBIHI BERITA PEMBANTAIAN MAHASISWA DIKAMPUS VIRGINIA,AMERIKA SERIKAT.

    OLEH KARENA ITU SAUDARA-SAUDARA,KELUARKAN SAJA SEKARANG DARI IPDN JIKA ADA DIANTARA ANGGOTA KELUARGA SAUDARA YANG SAAT INI MASIH MENJADI PRAJA DI IPDN SEBELUM TERLAMBAT…

    BUAT UI,ITB DAN ITS JANGAN GONTOK2AN DUNK BIAR RATA NEH GW BAGI2 TUGAS :

    UI = Urusin yg “Intim” aje ye…
    ITB= elo Intelek Tapi banyak jg yg Bejat kok.
    ITS= Intelek Tapi Sama aje ma ITB

    hehehhehe x100000000000000000000000000000000000000

  152. Membangun Persatuan dan Kesatuan

    oooiii…oooiiii..fokus..tersangka dan terdakwa kita adalah IPDN..bukan almamater yang lain

    hei alumni_ITB_anti_kekerasan dan eks_itb_tua..jangan terpancing…dan jangan menunjukkan kelemahan kalian disini…malu sama almamater kalian..kalian teriak2 seperti anak kecil minta2 pengakuan sebagai terbaik..terhebat ini..itulah….kasian liatnya..

    woooiii…ijangan pada nyikut sana-sini bersatu semuanya…satu suara….bubarkan IPDN..

    selamatkan anak bangsa dari cengkraman maut IPDN…

  153. Pendukung IPDN

    koment koment dari kalian hanya membuat moral kalian terlihat rendah, karna untuk menjadi sukses dan menjadi orang yang berhasil itu harus menerima cacian dan makian …
    sama seperti Kampus kami (IPDN) harus menerima cacian dan makian dari anda semua…. karna anda tidak tau apa yang di hasilkan oleh kampus kami…
    orang orang yang akan memimpin bangsa ini men jadi yang lebih baik dan terhindar dari kehancuran…

    apakah anda tidak mengerti tujuan dari pembelajaran yang kami berikan kepada adik2 kami..
    itu bertujuan agar mereka kuat secara mental fisik maupun moralll… agar mereka disiplin dan abdi terhadap negara..

    hanya mereka yang lemah yang tidak bisa menerimanya…
    dan bagi mereka yang telah wafat.. itu karna sebagian kesalahn mereka yang tidak terbiasa dengan mengahadapi hidup yang keras..

    untuk menjadi pemimpin mereka harus terbiasa dengan hujatan .. hinaan
    dan cacian serta fisik agar mereka kuat dan teguh..
    dalam memimpin negri yang kita cintai …

    pesan :
    Jadilah orang yang kuat
    dan berhentilah mengujat tempat yang melahirkan para pemimpin negri ini

  154. umatbersarung

    IPDN di bubarkan?
    ya jangan dulu..

    Lebih baik ganti nama aja lagi..
    kayak dulu jaman tewasnya wahyu hidayat..kan cuma diganti nama..
    stpdn ..jadi ipdn..

    biar kisahnya kayak sinetron di tv-tv indonesia…
    bersambung….bersambung…..

    Penonton..
    Nantikan cerita IPDN3..
    Sedang di cari pemeran utama…
    setelah Wahyu Hidayat, Cliff Muntu…
    Whos next ??

  155. Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan mahasiswa USU lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan satbilitas emosi memadai dan gagal memasuki USU, Akmil, AAU, AAL, Akpol, STAN dan IIP.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 dan 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, serta akhirnya digabung ke dalam IIP.

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  156. alumnus_TK_Kencana_anti_kekerasan

    Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan siswa TK Kencana lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan satbilitas emosi memadai dan gagal memasuki TK Kencana, TK Melati, TK Sandhy Putra, TK Mawar, TK itebe, TK ite-es dan TK de-el-el.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 dan 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, serta akhirnya digabung ke dalam IIP.

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  157. ReezQ

    TERUNTUK : Yg bersngkutan yg “terlibat kasus Cliff”

    Brengsek lo !!! Lo berani bilang ” tinggalkan yang belakang…”, “masalalu hanya jejak pengalaman berharga…” ????

    Kalo Lo ngambil pelajaran berharga waktu Wahyu Hidayat meninggal, mestinya seseorang bernama Cliff Muntu masih bernafas dan masih belajar!!!

    Lo mau membina apaan dengan tinju Lo ?? Kepalan tinju Lo dibayar dengan lobang 2m X 1m sedalam 2 m di tanah!!!

    Lo mau nutup-nutupin apaan ampe jenazahnya diformalin ????
    Kalo bener meninggal gara2 Liver akut, buat apa diformalin???

    LOGIKA BERPIKIR LO UDAH KAGA ADA !!!!

    Teruntuk : Siapapun yang 100% tidak terlibat (jika ada dan memang ada)

    Kami (yah, minimalnya, saya pribadi) tahu kalo Anda hanya berada di trmpat yang salah di waktu yang salah. SAya juga tahu kalao anda masih bermartabat, kaum intelektual juga, dan yang pasti juga seorang manusia yang punya hati nurani.. Saya tahu kalu komentar2 negatif tertuju pada almamater Anda yang secara tidak langsung juga menyeret ANDA juga..Tapi, Coba posisikan diri Anda pada posisi masyarakat umum yang melihat bahwa IPDN tidak belajard ari kasus Wahyu, malah ada lagi korban. PAsti anda pun akan berpendapat bahwa “tidak aman” berada di IPDN dengan kepalan tinju dan tendangan melayang di mana-mana…

    TANYA KEN APA ????

  158. alumnus_Playgroup_123_anti_kekerasan

    Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan siswa Playgroup 123 lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan satbilitas emosi memadai dan gagal memasuki Playgroup 123, Playgroup Melati, Playgroup Sandhy Putra, Playgroup Mawar, Playgroup itebe, Playgroup ite-es dan Playgroup de-el-el.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 dan 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, serta akhirnya digabung ke dalam Playgroup 123.

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  159. alumnus_Nusakambangan_123_anti_kekerasan

    Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus Nusakambangan lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan satbilitas emosi memadai dan gagal memasuki LP Cipinang, LP Sukamiskin, LP Tanjung Gusta,LP Medaeng, LP Alcatraz, LP de-el-el.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 dan 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, kemudian lanjutkan kuliah di palygroup 123, TK Kencana, USU, ITS, ITB, MIT serta akhirnya digabung ke dalam LP Nusakambangan untuk segera dijemput malaikat ke neraka.

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  160. Santo

    saya penasaran deh sama yang buat mati cliff muntu…kayaknya IPDN banyak jagoan ya…ck ck ck…boleh di test nih…

    ….untuk yang matiin cliif, satu lawan satu sama saya ama saya yo?

    waktu ospek kalian mukul ulu hati anak orang kayak petinju deh(meski bukan petinju)… nah kebetulan saya petinju, jadi mau sparring partner sama kalian…test doang aja kok..saya mau tau pukulan saya masih kuat gak ya?

    kalau mau please contact,

    0817821879 (dengan santo)

    nb : satu – satu sangat diharapkan dalam pertarungan ini, kalau rame – rame (100 orang), gak jadi masalah juga, saya juga akan bawa 100 orang juga…jadi 1 orang tetap lawan 1 0rang anak IPDN…deal ya..

  161. bunga_indahsari

    “marah dan memaki bukan solusi untuk selamatkan ipdn mengingat ipdn adalah milik masyarakat.”

    Masalahnya : masyarakat memaki krn tdk ingin SEDIKIT pun menyelamatkan IPDN. IPDN adalah duri dalam daging masyarakat. Rasa sakit yang ingin disingkirkan segera.

    “yang lebih utama adalah berpikir dengan jernih, tenang dan matang setelah emosi meluap luap itu tersalurkan”

    Betull, masalahnya emosi kami yang meluap luap itu BELUM tersalurkan. Kami baru puas setelah IPDN BUBAR. Baru kita berfikir jernih da tenang merumuskan mo dibawa kemana bangsa ini.

    “marilah saudaraku…
    kita lihat kedepan, tinggalkan yang belakang… karena kehidupan adalah masa depan, masalalu hanya jejak pengalaman berharga…..”

    Siap !! mari kita lihat ke depan, setelah kita pertanggung jawabkan apa yang sudah kita buat di belakang. masa lalu adalah jejak pengalaman berharga … dan pengalaman (sebagai guru yang paling berharga)mengatakan JANGAN ADA LAGI IPDN DI BUMI NUSANTARA.

    “kita cari solusi yang bijaksana agar supaya ipdn tetap menjadi perguruan tinggi kawah candra di muka bagi para calon abdi negara yang juga abdi masyarakat.”

    Calon abdi negara bisa diambil dari sember yang buanyak d Indonesia, bidang ilmu mereka sangat umum dan hampir semua perguruan tinggi di Indonesia memiliki Program Studi Ilmu Pemerintahan. Jadi INDONESIA TIDAK PERLU IPDN.

    “marilah saudaraku…
    haruskah gara gara nila setitik segelintir oknum lantas adik adik kami yakni para praja yang masih disana dan anak anak bangsa yang ingin jadi praja tersisihkan nasibnya…????”

    NILA SETITIK : Itu yang ketahuan … Masalahnya bukan “nila setitik’ itu yang kami (baca: rakyat Indonesia) khawatirkan, tapi SISTEM IPDN yang Korup, tdk amanah, lulusannya pecundang, metodologi pendidikan yng pro marxisme (spt dianut Savitri). Jadi Bubar adalah solusi terbaik.

    “saudaraku….
    hanya dengan berpikir jernih dan dewasa kita dapat selamatkan segenap komponen bangsa agar terhindar dari perpecahan dan adu domba….”

    Benar sekali, kita harus menghindari segala bentuk adu domba, seperti Lembaga IPDN mengadu domba Praja Senior dan Praja Junior dengan alasan pendidikan Disiplin.

    MATI IPDN … SEKARANG JUGA

    P.S. : Teman gw ngadain sayembara :

    SIAPA YANG MAU PERKOSA SAVITRI RAME2 DIA BERANI KASIH Rp 1JT PER ORG. KITA LIAT “SEKUAT” APA SAVITRI DIPERKOSA.

  162. Kampret

    Dikasih 2 juta juga kaga mau bwt merkosa tuh savitri…
    orang udah kaga ketulungan tuh lobang..
    bayangin aja dipake rame2 trus disayembarain..
    udah ga nikmat tuh orang….

  163. the rock

    sebagai sesama alumni sekolah kedinasan… sedih gw, kampus gw jauh lebih jelek & kumuh dari kampus IPDN, hiks… padahal lulusannya gajinya jauh lebih gede (hehehe, tanya siapa)

  164. Mayor Aris

    Wah .. Rame juga neh..
    Kebetulan sy anggota TNI sedikit ingin ikut urung rembug disini :

    Saya jujur sangat mendukung supaya IPDN dibubarkan karena memang tidak sesuai dengan UU Sisdiknas. Selain itu metode pendidikannya pun menurut saya sangat tidak match, kerena seharusnya lulusan IPDN itu dipersiapkan untuk mengayomi dan melayani rakyat, bukan malah seolah-olah dilatih untuk menindas juniornya yang lemah (kaum lemah di dunia nyata adalah rakyat). Pola2 represif itu adalah pola2 lama. Jadi pola pendidikan ala militer sbetulnya tidak relevan dengan semangat pemerintahan di era reformasi.
    Sebagai pembanding, di Akademi TNI, kehidupan para taruna pun memang sangat keras karena mereka harus dipersiapkan Fit For Combat. Tapi semuanya terkontrol. Tidak kebablasan seperti di IPDN. Para taruna dari awal ditekankan untuk betul2 membedakan mana kawan dan mana lawan. Setiap organik dalam institusi dari Gubernur, staf, dosen, pelatih, pengasuh, sampai taruna tkt 3,2,1 semua adalah KAWAN. yang namanya LAWAN hanyalah AGRESSOR yang akan mengancam kedaulatan NKRI. Kekerasan bukan merupakan hal yang legal dalam pola pendidikan d Institusi yang ASLI militer ini.

    Kecolongan… jujur 1,2 kali terjadi di bbrp dasawarsa terakhir. Namun Akademi tidak pernah menutup2i. Siapa yang salah harus dihukum. Kejadian Taruna dipecat karena kekerasan pernah terjadi d era 70-80an. Akademi tidak pandang bulu. Sangsi terhadap hal ini sangat tegas. Sy sendiri punya kakak kelas SMA yang dipecat pd saat dia tkt 3 d Akmil di awal 90an krn anak buahnya melakukan kekerasan. Dia bukan pelaku, hanya dia dianggap lalai tdk bisa mengawasi anak buahnya sudah dipecat. Apalagi pelakunya. Untuk mencegah berulangnya kekerasan ini pengasuh berperan sangat besar dalam menjaga integritas sehatnya hubungan antar taruna dengan misi agar para taruna dapat menyelesaikan pendidikannya d Akademi TNI dengan sebaik-baiknya.

    Institusi Akademi TNI pun terus belajar dari pengalaman. Langkah2 preventif dan preemtif terus dikembangkan dari tahun ke tahun utk memastikan hal yang sama tidak terulang. Sedikit saja terjadi simptom, pihak Akademi bertindak cepat tanggap utk mencegah meluasnya gejala kekerasan.

    Sy terkesan dgn pernyataan salah seorang petinggi Akademi TNI di SCTV yang menyatakan bahwa apabila IPDN berkeinginan menitipkan Prajanya di institusi Akademi TNI beliau menyatakan siap menampung. Tetapi bukan untuk mengasah kemampuan pukul-memukulnya, selama ini lembaga2 Akademi TNI juga menjadi lembaga pelatihan kepemimpinan, kepemudaan (paskibra/pramuka), kursus2 sipil, pendahuluan bela negara (tanpa tinju meninju tentunya), kewiraan, bahkan kuliah2 umum (kuliah jarak jauh) baik untuk kalangan militer maupun sipil. Yang sy tangkap dr pernyataan beliau adalah, pihak TNI pun sbenarnya cukup resah dgn gejala yg terjadi di IPDN ini, jadi apabila pihak lembaga IPDN tidak siap mengelola ribuan praja pasca tewasnya Cliff Muntu, -keliatannya- TNI siap membenahi mental para praja yang terlanjur terbentuk jiwa kekerasannya agar lebih dekat dgn jati diri mereka sebagai abdi rakyat, tetapi itu jika diperlukan. TNI -sy rasa- tidak memaksa, tentunya disesuaikan dengan keinginan rakyat.

    Pengalaman sy sendiri selama berdinas di TNI, mulai dari pendidikan kami selalu ditekankan pentingya arti NYAWA manusia. Para komandan pasukan selalu diajarkan untuk melaksanakan konsolidasi setiap akhir misi untuk memastikan tidak ada seorang pun korban di pihak kawan. 1 nyawa sangat berharga, tak peduli dia perwira, bintara atau tamtama. Ukuran keberhasilan seorang komandan adalah berhasilnya misi dan tidak ada koban baik personil maupun materil. Itu doktrin tentara modern. Pepatah tua “Soldier are expendable” dudah tidak berlaku lagi. Setiap perintah di TNI AD selalu diakhiri dengan kata2 “UTAMAKAN KEAMANAN” maksudnya keamanan personil dan materil, di TNI AU ada slogan yg lebih ketat lagi “MISSION FIRST, SAFETY ALWAYS” dan TNI AU juga memiliki departemen yang khusus mengurus masalah keselamatan ini. Demikian juga dengan TNI AL. Termasuk perintah2 pendidikan dan latihan. Hal ini menunjukan bahwa nyawa personil (biarpun tentara yang sudah kontrak mati) SANGAAAAT PENTING SEKALI. Kami tidak pernah menghambur2kan nyawa spt di IPDN.

    Sy jadi teringat kata2 Jendral Feisal Tanjung: “APA YANG TERBAIK BUAT RAKYAT ADALAH YANG TERBAIK BUAT TNI”.

    Menurut sy yang terbaik adalah IPDN dibubarkan, karena rakyat Indonesia -sepertinya : maaf tdk tahu datanya, tp keliatannya- menghendaki IPDN Bubar.

    Teman2 blogger, sy tunggu commentnya.
    Trima kasih

    ~NKRI Harga Mati~ (ungkapan jati diri)

  165. centra

    kalian yg ada disini jangan cuma bisa memaki.
    apa bedanya kalian dengan antek2 IPDN kalau secara verbal kalian jg bersikap kasar.
    emang savitri salah, tp solusinya bukan sayembara tak berakhlak kayak gitu dong.
    kekerasan dibalas kekerasan, itu lingkarang setan ga ada matinya.

    susah mempertahankan IPDN, lebih baik mulai dari awal lagi saja. kecuali bener2 bisa membersihkan semua oknum2 yang terlibat dalam IPDN lama dan senior2 biadab2 nya.
    memang IPDN lebih baik dibubarkan dan praja2nya dimasukkan dalam program khusus pembenahan mental dan moral.biar dengan mental rusak itu mereka ga merusak masyarakat.

    hasil dari kekerasan, tak lain adalah kerusakan…

  166. centra

    ‘untuk menjadi pemimpin mereka harus terbiasa dengan hujatan .. hinaan
    dan cacian serta fisik agar mereka kuat dan teguh..
    dalam memimpin negri yang kita cintai …’

    gombal.
    sebagai pelaku kesalahan anda cuma bisa berkelit
    tak setitik rasa penyesalan
    saya malu menjadi rekan senegara kalian,
    mengatasnamakan cinta pada negri
    padahal untuk kepentingan sendiri.

    menjadi pemimpin itu nggak harus terbiasa dgn hujatan, cacian, makian dan hukuman fisik.
    memang harus BISa menerima itu, tp bukan terBIASA.
    karena pemimpin yang baik tentulah dicintai oleh orang2 yg dipimpinnya.
    kecuali kalau kalian memang ingin membentuk pemimpin2 yang tak berotak, KKN, diktator, suka memanipulasi, curang, licik, tidak jujur, keras, seenaknya sendiri dan menyengsarakan orang banyak.
    pantas saja kalau siap2 dimaki2 dan dihujat banyak orang.
    ahahahahahaha
    so pathetic.

    hukuman fisik kalian tak berarti.
    saya bahkan sanksi kalian diberi pelajaran tentang kepemimpinan atau tidak.

    orang yang belajar dari kesalahan sendiri, dia pintar
    kalau orang bisa belajar dari kesalahan orang lain ia seorang yang bijaksana.
    tapi kalian?
    tidak belajar dari kesalahan orang lain dan bahkan kesalahan sendiri yang sudah terulang berkali – kali.
    entah kalian idiot atau jahanam.

  167. anti_updn

    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    IPDN KAMPUS SAMPAH
    SAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKAR
    SAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKAR
    SAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKARSAMPAH NEGARA YANG HARUS DIBAKAR

    BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR BUBAR

  168. anti IPDN

    IPDN? kayaknya gak ada perubahan semenjak di ganti nama dr STPDN jadi IPDN. Apa ganti nama itu cm utk memperbaiki citra nama kampusnya aja. Klo di liat dr luar sih bagus bgt kampusnya, tp isi dlm-nya org2 bejat n gk pny perikemanusiaan smua AKMIL aja gak pake kekerasan gitu kok. Mustinya yg ketangkep itu di siksa jg sama kaya mereka siksa praja2 mudanya biar mereka tau rasanya di siksa jgn cm mau-nya siksa anak org aja,. Org tuanya aja blom tentu prnh siksa anaknya kaya gitu. Katanya mahasiswa tapi kelakuan udah kaya org bar-bar yg baru turun dari gunung. Anak2 IPDN gak punya hati nurani & bejat musti di periksa di R.S JIWA krn mereka itu semuanya sakit jiwa.
    BUBARIN AJA IPDN…
    BUBARIN IPDN…
    BUBARIN IPDN…
    BUBARIN IPDN…
    BUBARIN IPDN…
    BUBARIN IPDN…
    BUBARIN IPDN…
    BUBARIN IPDN…
    BUBARIN IPDN…
    BUBARIN IPDN…
    BUBARIN IPDN…
    BUBARIN IPDN ( kampus bejat yg gak ada gunanya di pertahankan ).
    Percuma di ganti2 namanya

    DASAR SAMPAH MASYARAKAT

  169. Rakyat Indonesia

    Saya Setuju Banget dengan MAYOR ARIS, lebih baik IPDN di BUBARKAN.
    Hidup NKRI

  170. putra putri bangsa

    Saya mengusulkan “Kami adalah putra putri terbaik bangsa!” ini diganti saja, demi kebaikan bersama. Masih banyak kok putra putri terbaik bangsa yang memberikan baktinya ke bangsa ini, tapi tidak sesombong IPDN. Terimakasih

  171. bunga_indahsari

    centra
    Apr 19th, 2007 at 11:07 pm

    kalian yg ada disini jangan cuma bisa memaki.
    apa bedanya kalian dengan antek2 IPDN kalau secara verbal kalian jg bersikap kasar.
    emang savitri salah, tp solusinya bukan sayembara tak berakhlak kayak gitu dong.
    kekerasan dibalas kekerasan, itu lingkarang setan ga ada matinya.

    Iya centra … sorry .. thx 4 remind me …

    Abis bunga kesel bgt ama anak2 sok ABCD (ABRI Bukan Cepak Doang) itu. Total looser… dikritik bukannya empatik malah sok apatis.. kayak gitu mo mimpin negara … gw jd malu jd org Indonesia.

    Btw, centra setuju gak IPDN bubar? …

  172. DarkJustice

    Udah SALAH kok ngotot kepengen bener, benar-benar mental koruptor
    IPDN = Institut Penyamun + Dukun Nyabul
    IPDN = Inti Pendidikan Dalang Nepotisme
    Sadari donk, introspeksi diri, Lo-lo senior IPDN dan Pengasuhnya buta hati ?
    Kalo mo balas dendam jangan ama junior tapi ama senior lo yang udah jadi PNS, culik dan gebukin rame-rame ? Otak lo pade di dengkul ya ?
    Jangan-jangan di IPDN ada pencerahan atheisme jadi ‘gak ngerasa dosa
    ngebunuh para junior-nya.
    Pantes aja lulusan IPDN rata-rata kagak kenal kasihan sama wong cilik yang dagangannya digusur abis atawa diobrak-abrik sama tantrib karena ternyata pejabat tantribnya juga lulusan IPDN.
    Belajar agama kagak sih kok nyiksa + ngebunuh + free sex dianggap wajar, dalam agama itu DOSA bukan wajar. Para oknum pengasuhnya juga wajib diberikan hukuman GANTUNG karena memberikan pengasuhan ala JAHILIYAH !!!
    Katanya Pinter, tapi seorang LMG bisa-bisanya mengatakan Cliff Muntu mati karena penyakit lever, hati-hati tuh lidah kerjaannya nutupin aib yang udah jelas jadi rahasia dunia KENA AZAB ILLAHI baru tahu rasa lo !!!!

  173. Saya sebagai masyarakat biasa merasa keberatan dengan akuan IPDN yang menyatakan “Kami adalah putra putri terbaik bangsa!” Keyakinan saya menyatakan bahwa banyak kok “putra putri terbaik bangsa” di luar IPDN. Saya berani bertaruh kita kumpulkan “putra putri terbaik bangsa” dari IPDN dan luar IPDN, adakan debat secara terbuka biarkan kita-kita yang bukan “putra putri terbaik bangsa” menilainya.

    Kemudian, bersyukurlan kalau anda menyadari bahwa almamater anda itu adalah milik masyarakat. Ada semacam tanggungjawab besar disana, nah, untuk menyelamatkan “putra putri terbaik bangsa” kedepan mungkin perlu ada semacam melindungi calon “putra putri terbaik bangsa” ini dari watak brutal yang tidak manusiawi. Nah, bagamana kalau watak brutal yang tidak manusiawi itu sudah mengakar di almamater anda?

    +++

    justru dengan peranserta masyarakat maka kebrutalan beberapa oknum akan dapat diminimalisir

  174. Anda tidak juga menerti, bahwa untuk membangun dan mencapai bangsa yang kuat dan dan bermental baja, diperlukan anak2 bangsa yang sudah tahan uji baik melalui fisik dan mental yang kelak akan menjadi pilar2 bangsa ..
    Praja IPDN yang akan memimpin menujun kemakmuran rakyat adalah soal waktu..tunggu saja bung..

    +++

    kami tahu dan yakin bahwa masa depan bangsa ini ada di tangan kami papa profesional muda pamong praja… ketika peranan militer nanti berkurang kamilah sipil yang paling siap dalam administrasi pemerintahan, sedangkan profesional bisnis tidak siap

  175. jack

    Duhhhh kasihan juga ya….melihat alumni alumni IPDN ini.

    Ndak pernah seorang MALING mengaku MALING, begitu juga dengan PEMBUNUH tidak pernah mengaku PEMBUNUH.

    Sama dan setali tiga uang, secara umum yang benar benar PINTAR tidak pernah dan malu mengatakan dia seorang PINTAR. Seorang BIJAK tidak akan mengatakan dia seorang BIJAK.

    Tapi ingat, yang mengaku seorang PINTAR… adalah cuman sebuah PENGAKUAN SENDIRI, yang mengaku seorang BIJAK adalah cuman sebuah PENGAKUAN SENDIRI dan lain sejenisnya.

    Akhirnya…dengan mempertahankan IPDN, selanjutnya….kita akan KASIHAN lihat Negara ini.

  176. EKA

    IPDN PAYAH, SALAH KAPRAH!

    Saya pernah kuliah S1 di Prancis. Ada 2 sekolah sipil ala militer Sekolah Politeknik dan Administrasi Negara. Ke2nya pakai seragam. Tapi nggak ada tuh yg namanya senior maen gebuk, karena memang masyarakat Prancis sangat mengedepankan Egaliter (ingat semboyan Revolusi Prancis, Fraternite, Egalite, et Liberte, atau Persaudaraan, persamaan, dan kebebasan), bukan ngedepankan feodalisme. Disiplin bagus tapi kalo salah kaprah lebih baik di bubarkan! Saya tanya2 ketika di Prancis seragam dan latihan fisik utk apa, ternyata memang disiplin tinggi akan ada dampak positif buat kehidupan profesional. Dan seragam plus tanda pangkat berguna utk latihan hirarki manegerial. CUMA nggak ada hukuman gebuk, siksa, yg ada hukuman fisik, lari, skortjum, push up. Dan jangan salah, Ecole De Polythenique itu sekolah insiyur. Jebolannya banyak yg kerja di perusahaan BUMN prancis top dunia, macam Dassault, SNCF, EADS, dsb.

    Makanya yg harus diperangi sebetulnya Feodalisme, Paternalistik, dan lulusan IPDN sekarang. Karena orang feodal dan paternal, bertolak belakang dgn demokrasi, otonomi daerah, dan globalisasi. IPDN kasusnya sudah keterlaluan hasil didikan menghasilkan pamong yg feodal.

    Sebetulnya Indonesia tidak butuh IPDN terpusat kalo mau bikin di daerah karena kita sudah otonomi daerah dan setiap daerah punya keperluan beda. Berbeda dgn negara2 eropa, kecil2, dan a real total unitary system.

  177. ngaku loe

    TADINYA GW GAK PENGEN IPDN DIBUBARKAN CUKUP BERHENTI SEMENTARA, TAPI PAS BACA POSTINGAN ANAK IPDN AMA ALUMNINYA DISINI, GW SADAR MEREKA TUH UDAH GAK WARAS
    KESIMPULANNYA

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT

    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT IPDN BANGSAT
    IPDN BANGSA

  178. jest3v0

    masalah ini udah menyangkut hajat hidup orang banyak jadi yg harus ditekenkan itu hajat hidup orang banyak,,

    bapak cuman bisa menekenkan bahwa itu menyangkut hidup orang banyak yang mana tidak bisa sembarangan dalam mengambil keputusan.

    disini bapak juga menegasken bahwa yang penting itu bagaimana rakyat sejahtera , adil makmur

    karena bapak tegasken sekali lagi bahwa indonesi a itu gemah ripah low jinawi

  179. anti_sampahmasyarakat

    ===>>>DIDALAM KAMPUS JAGOAN MEMBUNUH DILUAR MAMPUNYA CUMA JUALAN NARKOBA, DASAR SAMPAH:)

    Metrotvnews.com, Surabaya: Kepolisian Daerah Jawa Timur menangkap karyawan Pemerintah Kota Surabaya karena terlibat pengedaran sabu-sabu di Kota Surabaya. Tersangka merupakan seorang lulusan terbaik Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan 2004. Tersangka bernama Ramadansyah Putra kini berurusan dengan aparat hukum akibat perbuatannya itu. Tersangka ditangkap ketika melakukan transaksi sabu-sabu bersama seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Surabaya.

    Selain menangkap kedua tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa sabu-sabu. Ramadansyah yang kini menjabat sebagai Kepala Seksi Tramtib Kecamatan Benowo, Surabaya, tercatat sebagai salah satu alumnus IPDN terbaik. Kedua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman pidana kurungan lima tahun penjara

    +++SEBARKAN FAKTA INI KESELURUH EMAIL, BLOG DAN GROUPS, BIAR SEMUA MELEK SUPAYA MESIN SESAT INI DISTOP+++

  180. anti_sampahmasyarakat

    ===>>>DIDALAM KAMPUS JAGOAN MEMBUNUH DILUAR MAMPUNYA CUMA JUALAN NARKOBA, DASAR SAMPAH:)

    Metrotvnews.com, Surabaya: Kepolisian Daerah Jawa Timur menangkap karyawan Pemerintah Kota Surabaya karena terlibat pengedaran sabu-sabu di Kota Surabaya. Tersangka merupakan seorang lulusan terbaik Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan 2004. Tersangka bernama Ramadansyah Putra kini berurusan dengan aparat hukum akibat perbuatannya itu. Tersangka ditangkap ketika melakukan transaksi sabu-sabu bersama seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Surabaya.

    Selain menangkap kedua tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa sabu-sabu. Ramadansyah yang kini menjabat sebagai Kepala Seksi Tramtib Kecamatan Benowo, Surabaya, tercatat sebagai salah satu alumnus IPDN terbaik. Kedua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman pidana kurungan lima tahun penjara

    +++SEBARKAN FAKTA INI KESELURUH EMAIL, BLOG DAN GROUPS, BIAR SEMUA MELEK SUPAYA MESIN SESAT INI DISTOP++++

  181. anti_sampahmasyarakat

    ===>>>DIDALAM KAMPUS JAGOAN MEMBUNUH DILUAR MAMPUNYA CUMA JUALAN NARKOBA, DASAR SAMPAH:)

    Metrotvnews.com, Surabaya: Kepolisian Daerah Jawa Timur menangkap karyawan Pemerintah Kota Surabaya karena terlibat pengedaran sabu-sabu di Kota Surabaya. Tersangka merupakan seorang lulusan terbaik Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan 2004. Tersangka bernama Ramadansyah Putra kini berurusan dengan aparat hukum akibat perbuatannya itu. Tersangka ditangkap ketika melakukan transaksi sabu-sabu bersama seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Surabaya.

    Selain menangkap kedua tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa sabu-sabu. Ramadansyah yang kini menjabat sebagai Kepala Seksi Tramtib Kecamatan Benowo, Surabaya, tercatat sebagai salah satu alumnus IPDN terbaik. Kedua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman pidana kurungan lima tahun penjara

    +++++SEBARKAN FAKTA INI KESELURUH EMAIL, BLOG DAN GROUPS, BIAR SEMUA MELEK SUPAYA MESIN SESAT INI DISTOP+++++

  182. nabenciIPDN

    yyaaammmppuunnn!!!..yg nulis ngerti arti tulisan-y ga ya!!!!abdi masyarakat?!?!? oww yachhh…
    baru dikasih komen di fs aja..sung pada kesindir?!?!?

    kalian itu cuma org2 yg ga punya EQ yg baik.. tidak mengerti apa guna dari kritik… kebodohan,ketidakbersalahan merusak parah otak kalian..

    klo merasa benar..dan kalian ga ada masalh kejiwaan..kalian ga mungkin berkata yg berniat mengangkat diri kalian..yg justru malah menjatuhkan dirikalian sendiri..berusahalah seperti padi..semakin berisi semakin menunduk..tp seperti-y kalian hayalah padi kosong yg tidak memiliki benih..kalian seperti udang!!kalian jg seperti kerbau yg dicocok hidung-y..

    buka mata buka hati kalian..agar mengerti apa yg terjadi…

    sudahlah..jgn tutupi rasa salah yg juga melanda batin kalian..dan solider palsu yg kalian tunjukan..saya rasa itu hanya cara kalian membela diri agar menyelamatkan diri kalian masing2…

  183. ayu

    kami ini hanya masyarakat awam yang gak tahu apa-apa. kami bicara hanya karena kami merasa prihatin. disana mungkin saja ada teman, kerabat, saudara, dan anak kami. mereka adalah orang-orang terkasih kami. pada merekalah kami gantungkan harapan hidup kami yang sedemikian besarnya. kami tidak pernah menuntut begitu banyak sebelumnya. kini, ketika kami menuntut agar IPDN dibubarkan apakah kami salah?????

  184. teman Bang Saut

    teman2 meminta IPDN bubar ya sah2 saja…
    ataupun ada yg mempertahankan ya sama sah2 saja…
    tapi saya berharap jangan sampai ketidaktahuan kita atau provokasi dari media membawa emosi yg berlebihan….
    di dalam berita2 media itu terdapat informasi, terdapat data2, bahkan mungkin fitnah….
    adapun fakta adalah informasi yg telah terbukti kebenarannya…
    salah satu contoh menurut INU KENCANA yg meninggal di IPDN karena kekerasan berjumlah 35 orang, mari kita analisis berita !!!!!!!!!
    STPDN/IPDN baru mencetak 18 angkatan 14 angkatan sudah lulus, 4 angkatan lagi masih kuliah.
    jika memang di kampus tsb telah terjadi penganianyaan hingga 35 orang meninggal, berarti dalam satu tahun rata2 telah terjadi penganiayaan sebanyak 2 orang meninggal.
    pertanyaannya adalah mungkinkah???
    jika memang terjadi pasti media ramai memberitakan………………
    kemudian teman2 beranggapan bahwa kasus2 di lembaga tsb ditutup2i, silahkan teman2 bayangkan bagaimana jika teman2 melihat teman kita yg sama2 dibina, hidup sama2 dlm satu asrama, susah senang bersama, kemudian teman2 melihat sendiri teman kita tsb dianiaya oleh senior sampai meninggal. bagaimana tindakan teman2 apakah akan diam saja atau melaporkan???????

  185. 4 teman Bang Saut

    Jangan sampai waktu yang berlalu membuat kita terbuai, hingga kita terhenyak mendengar jatuhnya korban lagi

    Pertanyaannya.. Benarkah pernyataan pak INU tentang banyaknya korban ??

    Karena jika pak Inu berbohong, kemungkinan besar kata-katanya tidak bisa dibuktikan di pengadilan.

    Jika memang demikian, sudah saatnya pihak IPDN menuntut pak Inu Ke pengadilan untuk menang.

    Dapat dibayangkan kenapa sampai sekarang pak Inu masih bisa menghirup udara segar

    BUBARKAN IPDN !!!!!

  186. jangjrik genggong....

    Horotoyoh….

    Ada lagi yg dipecat, kali ini gara2 narkoba setelah beberapa waktu lalu pengguguran….

    Rusak…rusak… calon ‘pemimpin bangsa yg bermartabat” ini

  187. Presiden IPDN ASLI

    SAYA SEBAGAI PRESIDEN ASLI IPDN

    SAYA MALU DI DIDIK DI KAMPUS SIALAN, PERUSAK MORAL BANGSA INI, JADE DEMI KEMAJUAN OTAK DAN NURANI SAYA,
    SAYA KELUAR DARI KAMPUS NERAKA ITU.

    HALAH….

    KAMPUS SIALAN, DOSEN DAN SISWANYA WONG GOBLOK SMUA KOG, TAUNYA ADU OTOT

    WAHAI SAUDARAKU, MENDING IPDN BAKAR AJA,
    HATI NURANI KALIAN PUN SUDAH GAK TAHAN DI DALAM SANA, MENGAPA KALIAN MENOLAK HANYA UNTUK STATUS YG KELAK AKAN JADI CACIAN DAN MAKIAN BAGI ORG BANYAK, PAKE OTAKMU, PIKIR REALISTIS, CARI DUIT GAK HANYA DARI IPDN ‘pler’ TAPI BNYAK CARA.

  188. Presiden IPDN ASLI

    IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….IPDN ‘pler’….

  189. teman Bang Saut

    IPDN WILL BE CLOSET! EH SORRY CLOSED MAKSUDNYA
    ADA LOWONGAN GAK YA ..JADI SATPAM PLAYGROUP

  190. teman Bang Saut

    IPDN WILL BE CLOSET! EH SORRY CLOSED MAKSUDNYA
    ADA LOWONGAN GAK YA ..JADI SATPAM PLAYGROUP
    SEBENARNYA KAMI BUKAN ORANG BERMARTABAT, KAMI PENJAHAT

  191. unyil

    sayang banget ya Gw dlu mau masuk IPDN kok nggak jd…wah aturan Gw dah jd preman….ternyata setelah saya cermati banyak..jg pelajrn2 yang..bisa di ambil dri “inENTUT peNDANCOXAN dALAM nEGRI” yang biasa di singkat(IPEDEEN)..kita bisa menjadi jagoan yang gak ad tandingan (melawan yunior)….huh yunior dilawan ya mo`ek to mas,mas…mau nglawan gmna..g nglawan..di pukul di tendang…susah hidup di indonesia…hehehe( mang Gw skrng hdp dmna)kok bsa blng susah…coi…(senior IPEDEEN)…jjr Gw salut ma loe_..mkn loe2 dlu waktu jd yunior jg ngrasain spt itu jg…jd..misimu..di (IPEDEEN)..bkn mo belajar..misimu..menanti kedatangan para yunior..guna..menuntaskan..sahwat dendam mu untk menghajar..para yunior…weleh-weleh…………..ora mudeng aku karepe…presiden IPEDEEN..hei “COK” IPEDEEN…pernah denger lagu hip-hop jwo…klo blm per nah ni denGERIN……………

    “IPEDEEN CELEH KOYO TEKOS”

    “IPEDEEN CELEH KOYO TEKOS”

    “IPEDEEN CELEH KOYO TEKOS”

    “IPEDEEN CELEH KOYO TEKOS”

    “IPEDEEN CELEH KOYO TEKOS”

    ……………….MAU JD APA INDONESIA DI PIMPIN SAMA…CELEH-CELEH…………..HOALAH……….BALIO AE NGARET NENG OMAH…….MBOK MU NGENTENI…..NENGOMAH…

  192. bukankah yang salah adalah pribadi masing2?
    akui saja kalau yang salah memang para pelaku.
    tp kalau sampai menyalahkan institusi, tidak terdengar pintar di telinga saya.
    Masih banyak orang-orang di IPDN yang menggantungkan masa depan disana. gara-gara beberapa oknum, haruskah mereka menanggung akibatnya juga? mereka itu tulang punggung keluarga masing-masing, harapan ayah dan bunda nya masing-masing.
    bayangkan, kalau kalian-kalian yang memaki-maki IPDN adalah student disana? kalian mau apa?
    For those who are looking after this blog, keep your spirit up. Do not give up, let them talk whatever they want.
    But please, give other who cares about you a prove. That IPDN is worth to kept up.
    greets ;)

  193. Asu...

    Asuuuuuuuuu……….

  194. ncik si melayu

    buat sodara-sodara yang komen penuh kebencian, ngaca dong!
    dengan komen kalian yang “kayak gitu”, ngeliatin kalo kalian ga jauh lebih baik daripada para praja.
    sama-sama nyakitin orang.
    cuman bedanya kalo para praja tu pake tangan nyakitinnya, kalo kalian pake muncung!
    sama sakit dan ga enaknya!
    ga ada beda!
    coba deh tunjukin kalo emang kalian lebih baik daripada para praja dan purnanya dengan hal yang berguna.
    jangan hanya komen sampah dan ga guna.

  195. IPDN ilmu pemerintahan preman dalam negeri…..
    braninya cm maen pukul d dalam,,
    coba 1 lawan 1…
    ah,,,payah kalian smua,,,
    senioritas d salah gunakan,,,,
    pantesan bnyk praja yg mati,stres,,,
    itu smuanya gara2 ulah senior tai kuciang,,
    hayo,,kalo brani 1 lawan 1,,
    jgn maen kroyokkan,,
    sharusnya senior memberikan contoh yg baik k adek2 nya,,,
    n malah d jadikan lampiasan bwt olahraga,,,
    huuuuuuuuu,,mending bubar sajalah dari pada makin bnyk praja yg mati,,,emg ipdn jago memutar balikan fakta,,
    ampunilah dosa para bajingan itu y allah,,
    masukkanlh mereka k dalam NERAKA JAHANAM

  196. what everlah orang mau bilang apa, biarkan saja dan harus dimaklumi karena mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.toh mereka tidak pernah berpikir (dan sepertinya tidak mau berpikir) gimana klo hal2 yang dialami oleh para tersangka (menurut hukum yang takut pada opini publik) dialami oleh dirinya ato sodaranya.toh kita yang sama2 pernah merasakan hidup di Ksatrian Lembah Manglayang sama2 tau apa yang terjadi diKsatrian kita bukanlah suatu kebiadaban/kekejaman/kekerasan (klo bahasanya media massa) yang disengaja,toh yang namanya ekses negatif dimanapun pasti ada.mari kita do’ain aja orang2 yang menghujat IPDN/STPDN (karena ketidaktahuan mereka) tidak melakukan hal2 bego yang bikin mereka berurusan sama hukum dan buat kita semoga semua yang terjadi bisa jadi pelajaran.

  197. senyum simpul dan rendah hati adalah ciri orang yang tidak sombong, berpendidikan dan rendah hati. yang penting jangan berkecil hati dan tetap bangga jadi bagian STPN/IPDN.

    VIVA STPDN!!!…

    biar orang2 tu telan dosanya sendiri dengan hujat hal2 yang tidak pernah mereka tau dan semoga mereka tidak pernah ngelakuin hal2 bego yang bikin mereka berurusan dengan hukum, karena hukum indonesia (sudah rahasia umum) hanya berpihak pada duit dan opini publik.

  198. bener bangget
    yang lalu biarlah berlalu
    kita tata kembali ipdn yang seperti kita inginkan

    saya pun baru sadar
    tak ada gunanya saya dulu lari dari ipdn
    karena ga semua begitu
    biarpun setiap hari di hajar..




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: