matematika sederhana

jikalau sebuah kampus dinamakan sebagai
perguruan pembunuh
perguruan pembantaimaka
semua
civitas academica
akan habis
tiada tersisa

tidak semua orang bisa berhitung dengan baik meskipun sudah meraih gelar sarjana

alangkah menyedihkannya indonesiaku tercinta


  1. Pertamax.. hehe.. :p

    Lha ya sudah, kalo kalian wahai pelajar IPDN ngga merasa bersalah yo wis, ngga usah ribut. Kalau kalian emang benar, ya sudah ngapain terus²an uring²an.

    Terkecuali kalian emang salah dan ingin menutupi kesalahan, maka buatlah argumen sehebat mungkin untuk membenarkan tindakan Anda. Memang saya juga percaya tidak semua pelajar IPDN itu seperti yang ditayangkan di TV. Saya tidak tahu empunya blogger ini memang Pelajar IPDN atau bukan, dan ikut terlibat dalam kekerasan atau enggak. Sukurlah kalau si empunya blog ini bukanlah termasuk orang² yang cinta kekerasan.

    Saya si cmn bisa berdoa, semoga semua ini segera terungkap dan terakhir. 🙂 Tenang sajalah.. kebenaran pasti kan terkuak..

  2. sonny

    makanya.. kalo tau ada yg busuk2, jangan diumpetin!

    orang2 diluar bukannya gak bisa ngitung, tapi udah MUAK sama kebobrokan/kebusukan ipdn. paham gak?

    udah dikasih kesempatan bebenah diri (th 2003 kasus wahyu), tapi busuknya malah dipelihara.. gimana orang2 gak muak?????

  3. OrangMedia

    Eh ngomong2 yang bikin blog ini siapa yah ?
    gak ada data yg bisa dipercaya nih tentang jati diri pembuat blog.

    Karena gak ada yg bisa dikonfirmasi dengan meyakinkan dan berhak dikonfirmasi mengenai isinya, yah… blog ini sampah

  4. makanya OrangMedia, kita jangan kepancing esmosi..
    sapa tau ini hanya perbuatan orang yang memancing di air keruh aja.

    Pokonya stay cool ajah, redam esmosi, serahkan pada yang berwenang, percayakan pada yang berwajib untuk mengusut kasus ini, wis lah kita ngga usah ikut².. dan kita tunggu saja kabar selanjutnya..

  5. OrangMedia

    buat gw sih…. nothing to loose (bener gak sih nulisnya?) IPDN bubar … bubar aja kali ye…

  6. Pak Dhe

    1, 2 adalah bilangan kecil, namun kalo itu nyawa yg melayang sia – sia ….
    urusannya jadi besar bung…!!!

    Alangkah sedihnya juga diriku, melihat “Kami adalah putra putri terbaik bangsa!” pandai bermain matematika, tapi tidak pandai menghargai “Nyawa” sesama anak bangsa.

  7. galoy

    tau kejadian kmaren di Virginia Technology?

    sama kasus Columbine high school taun 1999?

    saya cuman mau bertanya, emang bener ngga nyesel 35 org itu meninggal demi mental yang baja?

  8. kemal

    WOIII….

    DIKAMPUS LAEN GA ADA MAHASISWA YG DIPUKULIN AMPE MATI!!!!!!!!!!!!!!!

    YG KAMPUS PEMBANTAI ITU STPDN…. SAMPE LEVEL REKTOR AJA MO COBA COBA NUTUPIN PENYEBAB KEMATIAN AMA FORMALIN… APALAGI MAHASISWA2 NYA…

    DAH SADAR BELOM LOE!!!!!!!!!!!

  9. Ini dia daftar kejahatan SISWA IPDN Yang tersistematis dari dulu:
    1. Praja kalo muntah harus memakan muntahan kembali
    2. Muka praja dicelupkan kedalam closet
    3. Badan praja dipakai untuk mengepel laintai barak sampai bersih
    4. PUSH UP ALA JET LI KAKI di atas Tangan dibawah dengan alas batu kerikil
    5. Badan praja disunyunut sama rokok
    6. Siswa wanita diperkosa oleh praja
    7. Dipukul Kemaluan
    8. Pemukulan kepala tidak jarang beberapa alumni ipdn ada bolong di tengkorak kepala,
    9. Senang memakai narkoba ganja, putaw dkk
    10. SEX bebas
    11. dipukul bagian perut
    12. dipukul bagian dada
    13. ditedang bagian dada
    14. pengeroyokan oleh praja yang pengecut
    15. Kalo anda kenal toko yanto di jatinangor di kampus unpad, beliau korban kebiadaban siswa STPDN yang mengutil di toko nya
    pokoknya ga ada bagus2nya dehhhh……… mental kambing…. pikirannya pasti lulus ga usah belajar yang penting pandai memukul dan mematuhi senior, yaa mental2 mencetak orang2 koruptor,
    Perlu anda ketahui dena awal ramadhan adalah orang baik saya teman SMA nya, tapi kenapa dia masuk ipdn jadi orang jahat?

    Rumus yang sederhana untuk sekolah yang berkualitas== Input bagus—-> output keluar jadi lebih bagus lagih
    Input Buruk—-> Output jadi baik

    LAh ini IPDN kebalikannya, ini RUMUS SOSIAL yaa BUNG!!,

    Input bagus —–>output keluar jadi tambah buruk

    kenapa saya menyebutnya rumus sosial karena masalah ipdn ini masalah sosial bukan masalah science seperti matematika, kalo science kan SEMUA pasti, dan sosial adalah ilmu yang abstrak….. dodol nih yang ngeposting. blog..

  10. Raden Cepot

    KENAPA HARUS BERSEKOLAH DI IPDN?
    Banyak masyarakat yang mengaku terdidik dari kelas menengah keatas tak habis pikir mengapa potensi unggul bangsa bersekolah di IPDN yang dulu bernama STPDN dan sebelumnya lagi APDN. Menyedihkan sekali, orang terdidik ttidak paham tapi rakyat awam justru sangat mengerti!

    AROGAN sekali… kenapa pula harus bersekolah di IPDN jika nyawa akan hilang sia-sia?

    Inilah alasannya!

    1. Harus kuliah
    Di era kemajuan ini orang yang hanya tamat SMA jangan harap bisa dapatkan pekerjaan layak. Orang yang hanya tamat SMA kurang dihargai oleh masyarakat. Maka kami harus kuliah!

    adik-adik, apakah kuliah harus dengan resiko hilang nyawa? apakah menghilangkan nyawa akan dihargai oleh masyarakat?

    2. Yang penting murah, fasilitas berlimpah
    Setamat SMA kami butuh perguruan tinggi yang murah supaya orangtua tidak terbebani. Sudah jadi kewajiban nagara untuk membiayai kami, putra putri terbaik bangsa. Kami tidak mampu sekolah ke luar negeri untuk dapatkan pendidikan terbaik.

    murah dan fasilitas berlimpah bukan berarti murah dan berlimpah pula nyawa kalian hilangkan dengan fasilitas itu!! sudah bukan rahasia lagi.. yang masuk ipdn kebanyakan anak dari pejabat daerah
    3. Butuh jaminan pekerjaan
    Kami membutuhkan sekolah yang singkat dan ada jaminan setelah lulus dapat pekerjaan untuk mengembangkan diri dan cari nafkah.

    dinegeri ini barang instan memang laku keras, sekolah yang instan pun laku keras.. contohnya ya ipdn ini… mata kuliah yang favorit : tehnik menindas bawahan/ junior, tehnik menghilangkan nyawa, tehnik menghilangkan jejak dengan berbagai alasan.. kalau tidak ya formalin aja…hebat…
    4. Jadi pegawai negeri masih relevan
    Lowongan yang aman dan nyaman bagi kami adalah pegawai negeri karena lebih terjamin. Tidak ada cerita pegawai negeri kena PHK akibat pemerintah bangkrut. Kami sadar gaji resmi pegawai negeri itu rendah, tapi kami yakin asal tahu caranya maka kami bisa hidup layak bahkan mentereng seperti businessman!

    hebat sekali promosinya… tidak sadar mereka telah membebani rakyat negeri ini untuk menggaji mereka, pantas karena sudah merasa tidak perlu berjuang untuk cari kerja.. jadinya mereka menghilangkan nyawa sesamanya…
    5. Sebetulnya kami ini intelek
    Orang-orang sombong yang beruntung kuliah di perguruan tinggi melampiaskan kedengkiannya dengan menganggap kami sebagai calon robot dalam industri besar bermama birokrasi. Tahukah anda semua bahwa kami juga belajar seperti mahasiswa? Hanya saja kami tidak suka berdebat tanpa arah. Kami tidak suka diskusi hanya untuk pamer wawasan dan tunjukkan daftar pustaka di ujung lidah karena bagi kami banyak membaca hanya akan menyiksa dan itu bukan jaminan bagi karir kami di masa depan.

    heran? dimana akal sehat kalian? kalian kan memang robot birokrasi!!berkedok militerisme.. !! dalam belajar saja kalian harus tunggu perintah tanpa diperbolehkan mengambil inisiatif, bukannya itu robot? untuk makan saja kalian harus menunggu aba-aba…bukan robot kah itu?? HA!?ingat berdiskusi itu untuk menambah wawasan bukan pamer! itulah jika di otak kalian hanya ada perintah! dan pantas lah kalian jadi bodoh! ingat kawan dengan membaca tidak usah sekolahpun akan pintar! itulah kalau belajar hanya untuk menjalankan perintah.. ya robot lah namanya.. hehehe
    6. Pemerintah adalah pengayom kami
    Kami calon abdi negara, kami butuh pekerjaan dari pemerintah pusat maupun daerah. Maka sebuah kebodohan bila kami sok kritis dan sok idealis ingin membangun sebuah pemerintahan yang bersih, efisien dan berwibawa. Itu bukan tugas kami. Itu tugas para pejabat tinggi dan para cerdik cendekia! Kami menghormati dan menjunjung tinggi pemerintah yang menjadi pengayom kami.

    KASIHAN, itu kata yang tepat untuk kalian, kalian tak ubahnya seperti penjilat yang siap melakukan apapun untuk mendapatkan pekerjaan…sikap kritis dan idealis itu penting untuk membentuk kepribadian bagi semua orang, pantas saja kalian tidak suka melihat pemerintah yang bersih, efisien dan berwibawa.. karena kalian memang di didik untuk menjadi budak birokrasi yang siap menutupi kebobrokan pemerintah!…sangat menjijikan!!
    7. Kami bukan penganjur korupsi
    Secara jujur kami akui bahwa kami paling tidak suka untuk diskusi bagaimana memerangi korupsi karena ternyata batasan korupsi tidak jelas, apa yang secara undang undang dan etika pegawai negeri dilarang ternyata dibiarkan sehingga kami berkesimpulan itu bukan masalah. Kepentingan kami hanya bagaimana hidup sejahtera tanpa harus akhirnya masuk ke penjara, karena bila satu dipenjara maka semua pegawai negeri harus dipenjara juga, apakah tempatnya cukup?

    jelas lah sudah bahwa kalian memang tidak suka memerangi korupsi! karena kalian memang di didik untuk menutupi korupsi itu dan diharuskan untuk korupsi….GILA!
    8. Kami orang beretika, bermoral dan religius
    Tidak ada atheis di antara kami, masing-masing bebas menjalankan ibadah sesuai agamanya. Maka sebuah kebodohan dan kesewenangan bila kami dianggap tidak beretika, tidak bermoral, dan tidak agamis karena kami punya cara pembinaan mental yang tegas, karena tidak pernah menentang korupsi (lihat alasan nomor 7). Masyarakat membebani kami dengan cita-cita naif tentang birokrasi yang bersih dan efisien, dan enak saja mereka mengutip almarhum Nurcholish Madjid yang mempertanyakan klaim diri tentang religiositas bangsa di tengah tingginya tingkat korupsi, padahal itu bukan urusan kami. Masyarakat memang tidak tahu diri, seolah lupa bahwa fasilitas ibadah berbagai agama itu dibangun/disumbang juga oleh pejabat publik yang sering disindir sebagai koruptor. Bisa pergi berhaji dengan biaya sendiri sebagai pegawai negeri (muslim), dari manapun asal muasal rizki, bagi kami adalah urusan pribadi.

    apakah dengan menghilangkan nyawa orang lain itu tanda orang mempunyai ETIKA?Apakah dengan menghilangkan nyawa orang lain itu tanda orang BERMORAL?Apakah menghilangkan nyawa orang lain itu tanda orang yang RELIGIUS?……. BAH!… picik sekali jalan pikiran kalian!… menghalalkan korupsi dan kekerasan sebagai landasan untuk menjadi pemimpin negeri… whaaaaa…. gila betul… Sekali lagi hanya satu kalimat…BUBARKAN IPDN (Institut Pembunuh Dibiayai Negara)

    tabik…

    Raden Cepot dari kaki Gunung Salak

  11. dodol

    Woiiii… kampus durjana. Hina dina. Menjijikan.

  12. alumnus_ITB_anti_kekerasan

    Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan mahasiswa ITB lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan satbilitas emosi memadai dan gagal memasuki ITB, UI, UGM, IPB, Akmil, AAU, AAL, Akpol, STAN dan IIP.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 dan 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, serta akhirnya digabung ke dalam IIP.

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  13. Eh kapan sich pembukaan IPDN buat murid baru…

    saya akan kesana sambil bawa shot gun saya .. persis seperti yang telah saya lakukan di virginia tech…

    pasti saya tembakin dech pake shot gun satu-persatu..

    percis seperti dibawah ini…

    http://www.cnn.com/2007/EDUCATION/04/16/transcript.tue/

  14. IPDN,

    Institit Pengen Dihabisi Nakal2xsich

  15. tanpa_nama

    Testimonial:
    Saya harus akui, sebagai lulusan kampus ini, saya merasa bangga. Saya merasa berhasil. Berhasil membantai, berhasil menjadi tambah bodoh, dan rekan-rekan saya ada yang berhasil bikin blog bodoh seperti ini. Luar biasa. Karir saya sebagai pembunuh berantai semakin maju.
    Kalau dulu jaman kuliah, saya masih merasa tegang, ragu-ragu, dan menyesal. Setelah lulus saya semakin tenang. Pembantai sejati.
    Hati ini semakin tenang dalam mengeksekusi orang-orang. Itulah kehebatan kampus ini.
    Dalam jiwa pembunuh terdapat raga yang banyak luka-luka penganiayaan jaman kuliah.

    salam bantai-membantai,
    tanpa_nama

  16. masa_sih_ndro

    Lu tuh yang menyedihkan…

    Mana ada civitas academica lain yang muridnya mati dibunuh oleh senior sendiri kecuali di IPDN??

    Aneh…. Logika matematika sederhana lu secetek otak lu..

  17. alumnus_ITB_anti_kekerasan

    Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan mahasiswa ITB lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan stabilitas emosi memadai dan gagal memasuki ITB, UI, UGM, IPB, Akmil, AAU, AAL, Akpol, STAN dan IIP.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 dan 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, serta akhirnya digabung ke dalam IIP. Meniadakan penerimaan Praja baru sejak tahun 2007 seterusnya.

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  18. andrea

    sekolah sampah.
    mahasiswanya sampah.
    yang seperti begitu mau jadi contoh bangsa?
    pembela kebenaran dikatakan sebagai pengkhianat?

    mahluk2 rendah tak bermartabat.
    pengecut lah, coba kalo berani hajar2an, satu lawan satu. beraninya karena ga pada ngelawan.

    tikus curut pengecut, tampang sok gagah, tapi kelakuan lebih rendah dari banci.

    bawa2 civitas lain segala, heh, kampus lain tu ga ada yang isinya banci semua…
    kecil2 preman kampung, gedenya jadi koruptor.

  19. Jika seorang pembunuh menjadi seorang pemimpin maka hancurlah bangsa ini. Apalagi jika berpuluh orang pembunuh yang menjadi pemimpin?
    Kenapa kalian mengklaim diri kalian sebagai putra terbaik? Apakah HANYA karena seleksi masuk IPDN yang ketat? Apakah HANYA karena banyak yang berminat menjadi praja?
    Ingatlah…kalian itu bukan apa2 karena kalian hanya dibesarkan dengan uang rakyat.
    Masih lebih baik kami ini…yang besar dengan uang sendiri…
    Wahai para IPDN…sudah begitu banyak rakyat kita berkorban untuk membiayai kalian…Apakah yang sudah kalian berikan untuk bangsa ini? Kalian hanya berkontribusi terhadap pengurangan jumlah penduduk, yaitu dengan PEMBUNUHAN

  20. Waduh.. IPDN kan bermaksud mempertahankan Prestasi negara kita sebagai 5 besar negara dengan tingkat koruptor terbesar. Kenapa anda sekalian malah marah marah sih ?
    IPDN kan berusaha membuat sistem sedemikian rupa, sehingga ke depannya, diharapkan IPDN akan mampu menghasilkan bibit bibit unggul yang tidak loyal kepada masyarakat, tetapi takut kepada atasan. Dan Orientasi kami memang seperti itu. Budaya tutup mulut itu sangat diperlukan. Apalagi tutup mulut tentang korupsi. Kamilah yang mempersiapkan IPDN. Jadi jangan marah marah dulu dong pada IPDN. Seharusnya warga Indonesia bangga dengan prestasi ini. Si Dodolz Inu itu yang sebenarnya buat gara gara. Karena dia, berita jadi penuh dengan heboh IPDN, padahal masih banyak yang perlu di exspose. Gimana sih si Inu Kencana. Saya sebenernya sudah akan memberhentikan dia dari dulu. Tetapi saya kasihan sama Inu, Nanti keluarga dia mau makan apa coba ?
    Inu itu gimana juga, wong saya kasih tugas ngasih nilai ke mahasiswa kok malah dikosongi. Ya saya kasih nilai “A” saja. Ya kasihan lah sama mahasiswanya. Orang tuanya sudah ngasih saya duit malah nilainya kosong. Haduh…Inu.. Inu.. nggak pengen duit ya dia ?

  21. GakTauDiri

    1. Pembunuh dibela, itu pelajaran nanti setelah gede bela koruptor.
    2. Yg Bilang Jujur di bilang penghianat, itu juga pelajaran cara menuntut orang yg brani nuntut koruptor.
    3. Besar pake duit rakyat, tapi gak mau tanggung jawab ke rakyat.. gini-gini, gw makan kfc bayar pajak buat ente2 sekolah yg bener, bukan buat ente2 jadi setan..
    4. penakut banget seh elo elo orang ? kalo mo hajar adik kelas, bilang gini, kamu ayo lawan aku 1 lawan 1, jgn keroyokan.. titit nya gak guna neh
    5. rumus pelajaran matematika yg bener :
    kalo gak ngerasa = jgan tersinggung
    kalo tersinggung = ngerasa
    bener gak ?

  22. peyang

    Super duper dodol yang nulis ini, seolah merasa yang paling benar. Coba kalau saja yang nulis juga berani nulis dengan benar sebelum semua kejadian nyawa melayang sia-sia, maka saya bisa mengerti. Tapi sudah banyak kasus kok mau membela diri plus di embel-embeli judul putra-putri terbaik bangsa? Weleh dalam hal apa? Membunuh orang, menutupi kasus pembunuhan, menghilangkan jejak mungkin itu yang terbaik. Harusnya kampus semacam ini dirubah total cara mendidiknya harus seperti sekolah perhotelan yang nantinya dalam hal melayani masyarakat bisa ramah,cepat dan tanggap bukan sebaliknya malah ingin dilayani !! uhh dodol !!

  23. sabix

    ALANGKAH MENYEDIHKANNYA INDONESIAKU TERCINTA

    MEMPUNYAI PERGURUAN TINGGI NEGERI YANG DIBIAYAI OLEH RAKYATNYA TAPI PARA PENGELOLA DAN MASISWANYA DIDIDIK DAN DILATIH UNTUK MENGHAJAR, MEMALAK ORANG LAIN, DAN MENGANGGAP PERBUATANNYA ITU ADALAH SESUATU YANG WAJAR.

    MAKA JANGAN HERAN JIKA NEGERI INDONESIA TERCINTA INI BANYAK PEMALAK-PEMALAK BERKELIARAN DI BIROKRAT2.

    KACIAN…… DEH…. INDONESIA PUNYA IPDN

  24. Bapak saya seorang militer…saya sekarang berusia 26 tahun. dan selama itu pula saya diperlakukan baik sama bapak saya.
    Bapak saya bercerita, ketika beliau masih mengenyam pendidikan kemiliteran. tidak ada yang namanya penyiksaan..tidak ada yang namanya penindasan tiap angkatan. yang ada hanya kedisiplinan…
    TAPI…KENAPA SAMA STPDN…IPDN…APAPUN ITU NAMANYA??
    Tiap generasi seperti “harus ada yang mati”. sok jago bener ya , mahasiswanya?! padahal kalo dibandingkan dengan militer, mereka memang tidak ada apa-apanya…tahi kucing! CATAT : IPDN BUKAN INSTITUSI MILITER, BUNG!!!
    cara makan…cara berjalan…cara berpakaian…kenapa harus seperti itu? apakah nanti kalian kalau sudah menjadi “pejabat kecamatan” cara makan, berjalan, dan berpakaian juga akan tetap seperti itu?

    makanya, Daripada anda semua bermimpi jadi militer…mendingan bangun dari mimpi kalian sekarang!!! Camat ya camat…jangan bermimpi jadi Jenderal!!!

  25. alumnus_ITB_anti_kekerasan

    Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan mahasiswa ITB lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan satbilitas emosi memadai dan gagal memasuki ITB, UI, UGM, IPB, Akmil, AAU, AAL, Akpol, STAN dan IIP.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 s.d. 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, dan menutup permanen pendaftaran Praja baru mulai tahun 2007

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  26. coco

    IPDN jangan bangga, kalian itu orang-orang sipil bukan militer, jadi jangan mimpi jadi akademi militer….

  27. KARMA SUDAH TDK BERTAHUN-TAHUN LAGI

    kiamat udah dekat, bertobatlah anda semua.
    hukum karma sudah banyak yg ditampakkan.
    anda memukul kamu akan dipukul
    anda menendang kamu akan ditendang
    anda mencaci kamu akan dicaci
    kalau anda yg tdk kena karmaNYA,
    anda kan akan punya isteri, punya anak, punya cucu.
    mau tidak ? karma itu ditimpakan kepada mereka . . . . ?

  28. Kaimana

    Nyawa bukan matematika, apalagi Matematika Sederhana.
    Karena DAJAL seperti kalaian yang beranggapan Nyawa adalah Matematika Sederhana, tambah korban berapapun kalian akan tetap menyangkal dan merasa tak berdosa.
    Semoga suatu saat Nyawa kalian yang akan terenggut dan akan dianggap MATEMATIKA SEDERHANA!

  29. IPDN Goblog

    putra putri terbaik bangsa..?
    mimpi kali yeeeee…

    dah ah, males ngebaca opini dari blog calon2 birokrat rendahan.

    Satu lagi, lo bilang gara2 nila setitik rusak susu sebelanga..?
    Salah!
    yang bener, gara2 tai satu container (ipdn), rusak tuh susu sebelanga.

  30. smartguy

    Kalau kalian bilang sarjana (orang yang benar-benar belajar) aja ngga bisa berhitung, apalagi kalian yang ngga pernah belajar. (Lha kapan mau belajar ? Wong tiap hari kerjanya cuma mukulin anak orang).

    Whoooalaaahhh … !!!

  31. Ini_Beneran_Blognya_IPDN_bukan_ya

    Ini beneran blog-nya orang2 IPDN bukan sih?

    emangnya mereka bisa bikin blog? bisa akses internet?

    Biasanya mereka cuma keliling2 kota, jadi Komandan Satpol PP atau Trantib.

  32. Stupid Blog ™ or.. Smart Blog ™
    hits nya gede, knp g pasang adsense?

  33. Palelu_Peang

    Mending yg udah terbukti ikut membunuh secara rombongan dihukum mati aja, cuma jadi camat aja belagu amat, militer aja ga gitu2 amat, katrok lo!

  34. YOS

    Memang biadab, mahasiswa yang menganiaya Chris Muntu! bangsat juga mahasiswa yang suka memukul atau menganiaya ….
    Sudahlah brenti aja semua mahasiwa yang ada sekarang, tutup IPDN !!!!

  35. haduh.. tenang tenang…

    tolong dong dukung saya lagi jadi Rektor..
    saya jadi nggak punya duit ni…
    toloooonggg..

  36. pedhet

    haha, itu logika matematikanya salah om 🙂
    —————————————–
    jikalau sebuah kampus dinamakan sebagai
    perguruan pembunuh
    perguruan pembantai

    maka
    semua
    civitas academica
    akan habis
    tiada tersisa
    —————————————–
    yah.. setidak tidaknya masih ada satu yang hidup..

  37. Jono

    Matematika sederhana :

    “KAMI BUKAN PENJAHAT, KAMI ORANG BERMARTABAT
    Kami adalah putra putri terbaik bangsa, abdi negara yang siap melayani masyarakat menuju Indonesia yang adil dan makmur.”

    Nah, bagaimana membuktikan tulisan yang kalian buat itu kalau masih mendiamkan (bahkan berlagak tidak tahu) saat terjadi kekerasan di kampus?

    Jangan berpikir sempit dg mengklaim hanya satu-dua oknum yang bermasalah dan melarang orang utk mengeneralisir. Karena faktanya dengan aksi tutup mulutnya kalian telah membuktikan bahwa penyiksaan massal ini telah berlangsung terstruktur secara general!

    Ini adalah pembusukan yang parah. Jika tidak, maka dari dulu sudah ada -paling tidak- satu-dua dari salah satu alumni yang melaporkan hal ini dan membeberkannya ke publik!!

  38. Pemuda Indonesia

    Hmmm ..
    Apa komentar ini sungguh dibaca para IPDN mania ?
    Sepertinya tidak .. karena dari bacaan opini-opini mereka dapat dipastikan mereka telah membentuk opini sendiri dan pembenaran diri sendiri. Tapi tidak ada salahnya komentar ini ditulis, mungkin untuk orang-orang yang masih terbuka hatinya.

    Dari sikap mental yang berusaha menutupi kesalahan yang dibuat oleh civitas akademika IPDN dengan berbagai alasan, seperti seharusnya pembenahan dari dalam, dan sebagainya serta sikap menyalahkan orang lain yang mengungkapkan kejujuran, dapat dipastikan tidak ada gunanya pendidikan yang diajarkan selama ini pada para civitas IPDN.

    Yang ada hanyalah pembodohan, kebohongan semu baik terhadap diri sendiri dan terhadap masyarakat. Beranggapan sebagai putra terbaik bangsa? dari mana datangnya pemikiran itu?

    Yang dilihat sekarang adalah civitas IPDN mencoba membela nama baik institusi. Ya, memang baik .. namun jika institusi itu salah, apa masih harus dibela? … institusi itu telah menyebabkan beberapa orang pemuda Indonesia mati .. mati sia-sia.

    Sekarang pertanyaanya .. anda itu putra terbaik bangsa atau putra terbaik institusi?

    Jelas sekali IPDN bukan institusi terbaik bangsa. Institusi mana yang menyebabkan jatuhnya korban berulang kali?
    Dan sungguh kalian bodoh jika menganggap itu hal kecil yang dibesar-besarkan .. nyawa manusia itu berharga.
    Jika kalian tidak bisa menghargai nyawa manusia, bagaimana bisa kalian menyatakan diri putra terbaik bangsa? Kebohongan semu yang kalian tanamkan dalam diri kalian sendiri.

    Sekarang … tentukan pilihan kalian … jika kalian memang mau disebut sebagai putra terbaik bangsa … apa kalian tetap membela institusi kalian yang rusak itu?

    Apalah artinya sebuah institusi .. jangan biarkan pikiran kalian terkotak-kotak dalam suatu wadah yang namanya institusi. Jadi lah pemuda indonesia yang mempunyai pikiran yang bebas, bijaksana, membela kebenaran tanpa memperhatikan suku, ras, agama, apalagi yang namanya institusi … karena kita ini sesama rakyat Indonesia.

    Membela yang benar karena itu memang benar, bukan karena kebenaran semu yang coba kalian tanamkan dalam hati kalian. Semoga hati kalian masih bisa terbuka untuk melihat yang benar.

    Sungguh sayang jika hati itu telah tertutup. Kalian dididik seharusnya utk menjadi pamong yang terbuka hatinya, peduli kepada masyarakat bukan peduli kepada institusi/golongan sendiri. Berpikiran terbukalah, sekali-kali belajar lah di tempat lain buka wawasan .. jangan beranggapan IPDN itu yang terhebat.
    Di atas langit masih ada langit.

  39. Buat para Praja, coba deh jangan ngaku putra-putri terbaik bangsa, kita sih udah tau.. yang penting ada uang kisaran 30-40 juta dijamin 1000% masuk IPDN deh… emang seh ga semuanya yang seperti itu tapi paling prosentasenya ga kurang dari 0,000001%. gw ngomong gini bukan tanpa bukti (eh btw.. emang masih perlu dibuktikan apa… 🙂 ). gw punya temen yg ade nya belajar di IPDN, ini asli dari cerita die.. bokapnya harus rela ngeluarin duit ampe puluhan juta biar ade nya bisa belajar di IPDN, lha kalo kayak gini bisa dipastikan deh begitu tamat dari beajar di IPDN pasti target utama ngembaliin modal cepat2 dengan berbagai macam cara, dan ini ngerinya lagi… masih menurut ceritanya teman gue yg ade nya belajar disana, ternyata di IPDN itu ada pendidikan belajar KORUSPI nya loo…. hayoooo praja IpDN yang jujur,, ngaku deh….. ga usah malu2.
    JADI KALO MASUK IPDN DENGAN MENGELUARAN DUIT PULUHAN BAHKAN ADA YANG RATUSAN JUTA, GA PADA TEMPATNYA KALO KALIAN NGAKU PUTRA PUTRI TERBAIK BANGSA, SEBAB KALO KAYAK GITU ORANG YG IQ

  40. In4matika

    matematika yang kalian bisa tuh sederhana banget

    2 – 1 = 1 oke dech

    X2 – x1 = capek deee

    sebenernya kamu tuh masih G O B L O K

  41. IndrA

    Akhir-akhir saya dengar dinegeri seberang lagi hangat-hangatnya berita tentang I-pe-de-en…
    nama apa2an pula ini?…
    o ya katanya ada anak i-pe-de-en yang meninggal dihajar temannya…
    loh koq?, emangnya meraka ngapain disana…
    Katanya sih belajar untuk jadi pamong praja?…
    Pamong praja?… apa pula itu…
    yang keliling kampung, bawa HT, ngawas gotong royong… ngumpulin sumbangan…
    ah bukan ah, itu kan kepling?…
    Iya lagi, mirip gitu deh…

  42. seperti kita ketahui untuk menjadi lulusan IPDN dibutuhkan waktu selama 3 tahun dan uang pendidikan yang bersumber dari pajak.
    maka :
    IPDN = waktu x pajak
    dan dikaernakan waktu adalah uang dan juga pajak adalah uang maka :

    pajak = uang
    waktu = uang

    maka dari itu IPDN adalah
    IPDN = uang x uang = (uang)²

    dan seperti kita ketahui uang adalah akar dari sebuah kejahatan kejahatan. dan kejahatan kejahatan merupakan manifestasi dari godaan setan maka :
    uang = √setan
    maka formula nya menjadi :
    IPDN = (√setan)²
    maka hasil akhirnya adalah :
    IPDN = SETAN
    ………………………….
    begitulah perhitungan matematika sebenarnya ini peninjauan IPDN secara matematis.
    Terimakasih

  43. Faisal Basri: Bubarkan IPDN!
    Filed in: Pendidikan
    Add comments

    Jakarta (SIB)
    Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengusulkan IPDN dibubarkan menyusul tewasnya praja Clilf Muntu di tangan seniornya.

    “Orang yang masuk IPDN adalah orang yang tidak masuk ITB, UI, UGM, IPB, dan Akabri. Itu sampah semua,” kata Faisal usai diskusi diskusi bertajuk “Watimpres, DPA baru?” di Mario’s Place, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4).
    Menurut dia, IPDN merupakan warisan kolonial Belanda dan dulu belum ada akademi atau universitas yang mencetak sarjana ilmu pemerintahan.
    “Sebelum jadi lurah dan camat, ambil saja sarjana FISIP yang sudah ada lalu ditraning 3 bulan,” ujarnya.
    Gus Dur: Pelaku Penganiayaan Harus Diproses Hukum
    Kematian praja IPDN Clift Muntu mencuatkan usulan pembubaran IPDN di sejumlah kalangan. Namun bagi Gus Dur, IPDN cukup diperbaiki.
    “Kalau dibiarkan kekerasan ya begitu jadinya. Apa-apa diantemi,” kata Gus Dur usai acara halaqah kebangsaan dan temu wicara hukum acara Mahkamah Konstitusi (MK) bersama Dewan Syuro dan Fungsionaris PKB, di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Jumat (6/4).
    Menurut Gus Dur, pelaku penganiayaan harus diproses hukum.
    “Hukum yang keras para seniornya, cari siapa penyebabnya. Jangan biarkan hukum diinjak-injak,” ujar pria yang mengenakan batik lengan pendek warna coklat itu.
    Clift Muntu tewas di tangan 5 seniornya. Pelaku pun dipecat dengan tidak hormat dan harus membayar ganti rugi biaya pendidikan Rp 13 juta.
    Rektor IPDN: Pembinaan oleh Senior itu Ilegal
    Kegiatan Pataka yang diikuti Cliff Muntu di kampus IPDN memang legal. Namun pembinaan yang dilakukan oleh seniornya ilegal alias sembunyi-sembunyi.
    Hal itu disampaikan Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi di Aula Kampus IPDN, Jalan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis.
    “Kalau kegiatan Pataka sendiri memang ada, cuma pembinaan yang dilakukan yang dilakukan oleh pataka itu yang ilegal. Pataka adalah bagian dari marching band,” ujar Sumaryadi.
    Menurut Sumaryadi, pembinaan junior oleh senior telah dihapuskan sejak STPDN berubah nama menjadi IPDN. Artinya, senior tidak bisa membina juniornya, apalagi dengan kekerasan.
    “Namun mereka masih mencuri-curi saja,” katanya.
    Sumaryadi mengatakan, masalah seperti masih karena proses penerimaan mahasiswa belum maksimal.
    “Pada saat penerimaan yang dites itu hanya kesehatan, tidak ada tes yang sampai apakah orang itu bisa berbuat jahat atau tidak atau mempunyai gen jahat,” katanya.
    Dia menandaskan, sistem pendidikan kepamongprajaan melalui sistem asrama masih satu-satunya yang terbaik.
    IPDN Siap-siap Ambil Langkah Praja Penganiaya Cliff Muntu
    Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bersiap-siap mengambil langkah terhadap praja yang menganiaya Cliff Muntu hingga tewas. Surat resmi dari kepolisian terkait status tersangka prajanya masih ditunggu.
    “Nanti kalau saya sudah terima, hari ini juga kami akan ambil langkah,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/4).
    Beredar kabar, Sabtu pukul 10.00 WIB, IPDN akan menggelar apel luar biasa dengan agenda pemberhentian secara tidak hormat kepada nindya praja yang menganiaya Cliff Muntu.
    Berdasarkan sumber di kepolisian Polres Sumedang, akan ada penambahan tersangka yang jumlahnya masih simpang siur, antara 3 hingga 6 orang. Keenam praja ini memang sejak hari Kamis 5 April sudah diperiksa secara intensif oleh Polres Sumedang.
    Keenam praja itu adalah Ahmad Ari Harahap, Gede Indra Mahardika, Eko Ismada Putra, Frans Albert Yoku, Hikmat Faisal, dan Joko Tricahyono.
    Mereka disebut-sebut sebagai kelompok 11 nindya praja yang turut serta dalam pembinaan pataka (pemegang bendera lambang IPDN) pada Senin 2 April malam. Yang akhirnya dalam kegiatan itu, menyebabkan kematian Cliff Muntu, madya praja asal Sulawesi Utara.
    Kini ada 4 tersangka penganiaya Cliff yang ditahan Polres Sumedang, yaitu A Amrullah, A Bustamil, Fendi Notobuo, dan Jaka Anugrah Putra. Sedangkan seorang lainnya, yaitu Gunawan yang juga mengaku telah memukul Cliff, dikembalikan lagi ke Barak karena tidak cukup bukti.
    Rektor IPDN: Kami Kehilangan Cliff, Praja yang Menonjol
    Di mata Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), almarhum Cliff Muntu dikenal sebagai praja atau mahasiswa yang cukup menonjol. Dengan meninggalnya Cliff, IPDN merasa kehilangan.
    “Kami kehilangan Cliff, karena dia itu dikenal sebagai praja yang baik dan berprestasi. Orang yang cukup menonjol,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Selasa.
    Menurut Nyoman, Cliff adalah Ketua Kontingen Sulawesi Utara. “Kalau tidak punya kredibilitas, tidak mungkin dia jadi Ketua Kontingen Sulut. Keterampilan dan sikap mentalnya baik,” imbuh dia.
    Ditambahkan mantan Kepala Biro Organisasi, Hubungan Masyarakat, dan Protokol Depdagri ini, pihak kampus akan mengecek apakah Cliff akan mendapatkan asuransi. “Kita cek dulu, apakah angkatan dia ikut asuransi. Kalau praja ikut asuransi, bisa dapat Rp 10 juta,” lanjutnya.
    Cliff masuk ke IPDN pada 2005, dan tergabung dalam angkatan Nindya Praja. Pada Agustus 2006, dia duduk di tingkat dua, semester dua. (detikcom/r)

  44. Bubarkan IPDN!
    Filed in: Pendidikan
    Add comments

    Jakarta (SIB)
    Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengusulkan IPDN dibubarkan menyusul tewasnya praja Clilf Muntu di tangan seniornya.

    “Orang yang masuk IPDN adalah orang yang tidak masuk ITB, UI, UGM, IPB, dan Akabri. Itu sampah semua,” kata Faisal usai diskusi diskusi bertajuk “Watimpres, DPA baru?” di Mario’s Place, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4).
    Menurut dia, IPDN merupakan warisan kolonial Belanda dan dulu belum ada akademi atau universitas yang mencetak sarjana ilmu pemerintahan.
    “Sebelum jadi lurah dan camat, ambil saja sarjana FISIP yang sudah ada lalu ditraning 3 bulan,” ujarnya.
    Gus Dur: Pelaku Penganiayaan Harus Diproses Hukum
    Kematian praja IPDN Clift Muntu mencuatkan usulan pembubaran IPDN di sejumlah kalangan. Namun bagi Gus Dur, IPDN cukup diperbaiki.
    “Kalau dibiarkan kekerasan ya begitu jadinya. Apa-apa diantemi,” kata Gus Dur usai acara halaqah kebangsaan dan temu wicara hukum acara Mahkamah Konstitusi (MK) bersama Dewan Syuro dan Fungsionaris PKB, di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Jumat (6/4).
    Menurut Gus Dur, pelaku penganiayaan harus diproses hukum.
    “Hukum yang keras para seniornya, cari siapa penyebabnya. Jangan biarkan hukum diinjak-injak,” ujar pria yang mengenakan batik lengan pendek warna coklat itu.
    Clift Muntu tewas di tangan 5 seniornya. Pelaku pun dipecat dengan tidak hormat dan harus membayar ganti rugi biaya pendidikan Rp 13 juta.
    Rektor IPDN: Pembinaan oleh Senior itu Ilegal
    Kegiatan Pataka yang diikuti Cliff Muntu di kampus IPDN memang legal. Namun pembinaan yang dilakukan oleh seniornya ilegal alias sembunyi-sembunyi.
    Hal itu disampaikan Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi di Aula Kampus IPDN, Jalan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis.
    “Kalau kegiatan Pataka sendiri memang ada, cuma pembinaan yang dilakukan yang dilakukan oleh pataka itu yang ilegal. Pataka adalah bagian dari marching band,” ujar Sumaryadi.
    Menurut Sumaryadi, pembinaan junior oleh senior telah dihapuskan sejak STPDN berubah nama menjadi IPDN. Artinya, senior tidak bisa membina juniornya, apalagi dengan kekerasan.
    “Namun mereka masih mencuri-curi saja,” katanya.
    Sumaryadi mengatakan, masalah seperti masih karena proses penerimaan mahasiswa belum maksimal.
    “Pada saat penerimaan yang dites itu hanya kesehatan, tidak ada tes yang sampai apakah orang itu bisa berbuat jahat atau tidak atau mempunyai gen jahat,” katanya.
    Dia menandaskan, sistem pendidikan kepamongprajaan melalui sistem asrama masih satu-satunya yang terbaik.
    IPDN Siap-siap Ambil Langkah Praja Penganiaya Cliff Muntu
    Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bersiap-siap mengambil langkah terhadap praja yang menganiaya Cliff Muntu hingga tewas. Surat resmi dari kepolisian terkait status tersangka prajanya masih ditunggu.
    “Nanti kalau saya sudah terima, hari ini juga kami akan ambil langkah,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/4).
    Beredar kabar, Sabtu pukul 10.00 WIB, IPDN akan menggelar apel luar biasa dengan agenda pemberhentian secara tidak hormat kepada nindya praja yang menganiaya Cliff Muntu.
    Berdasarkan sumber di kepolisian Polres Sumedang, akan ada penambahan tersangka yang jumlahnya masih simpang siur, antara 3 hingga 6 orang. Keenam praja ini memang sejak hari Kamis 5 April sudah diperiksa secara intensif oleh Polres Sumedang.
    Keenam praja itu adalah Ahmad Ari Harahap, Gede Indra Mahardika, Eko Ismada Putra, Frans Albert Yoku, Hikmat Faisal, dan Joko Tricahyono.
    Mereka disebut-sebut sebagai kelompok 11 nindya praja yang turut serta dalam pembinaan pataka (pemegang bendera lambang IPDN) pada Senin 2 April malam. Yang akhirnya dalam kegiatan itu, menyebabkan kematian Cliff Muntu, madya praja asal Sulawesi Utara.
    Kini ada 4 tersangka penganiaya Cliff yang ditahan Polres Sumedang, yaitu A Amrullah, A Bustamil, Fendi Notobuo, dan Jaka Anugrah Putra. Sedangkan seorang lainnya, yaitu Gunawan yang juga mengaku telah memukul Cliff, dikembalikan lagi ke Barak karena tidak cukup bukti.
    Rektor IPDN: Kami Kehilangan Cliff, Praja yang Menonjol
    Di mata Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), almarhum Cliff Muntu dikenal sebagai praja atau mahasiswa yang cukup menonjol. Dengan meninggalnya Cliff, IPDN merasa kehilangan.
    “Kami kehilangan Cliff, karena dia itu dikenal sebagai praja yang baik dan berprestasi. Orang yang cukup menonjol,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Selasa.
    Menurut Nyoman, Cliff adalah Ketua Kontingen Sulawesi Utara. “Kalau tidak punya kredibilitas, tidak mungkin dia jadi Ketua Kontingen Sulut. Keterampilan dan sikap mentalnya baik,” imbuh dia.
    Ditambahkan mantan Kepala Biro Organisasi, Hubungan Masyarakat, dan Protokol Depdagri ini, pihak kampus akan mengecek apakah Cliff akan mendapatkan asuransi. “Kita cek dulu, apakah angkatan dia ikut asuransi. Kalau praja ikut asuransi, bisa dapat Rp 10 juta,” lanjutnya.
    Cliff masuk ke IPDN pada 2005, dan tergabung dalam angkatan Nindya Praja. Pada Agustus 2006, dia duduk di tingkat dua, semester dua. (detikcom/r)

  45. Faisal Basri: Bubarkan IPDN!

    Jakarta (SIB)
    Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengusulkan IPDN dibubarkan menyusul tewasnya praja Clilf Muntu di tangan seniornya.

    “Orang yang masuk IPDN adalah orang yang tidak masuk ITB, UI, UGM, IPB, dan Akabri. Itu sampah semua,” kata Faisal usai diskusi diskusi bertajuk “Watimpres, DPA baru?” di Mario’s Place, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4).
    Menurut dia, IPDN merupakan warisan kolonial Belanda dan dulu belum ada akademi atau universitas yang mencetak sarjana ilmu pemerintahan.
    “Sebelum jadi lurah dan camat, ambil saja sarjana FISIP yang sudah ada lalu ditraning 3 bulan,” ujarnya.
    Gus Dur: Pelaku Penganiayaan Harus Diproses Hukum
    Kematian praja IPDN Clift Muntu mencuatkan usulan pembubaran IPDN di sejumlah kalangan. Namun bagi Gus Dur, IPDN cukup diperbaiki.
    “Kalau dibiarkan kekerasan ya begitu jadinya. Apa-apa diantemi,” kata Gus Dur usai acara halaqah kebangsaan dan temu wicara hukum acara Mahkamah Konstitusi (MK) bersama Dewan Syuro dan Fungsionaris PKB, di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Jumat (6/4).
    Menurut Gus Dur, pelaku penganiayaan harus diproses hukum.
    “Hukum yang keras para seniornya, cari siapa penyebabnya. Jangan biarkan hukum diinjak-injak,” ujar pria yang mengenakan batik lengan pendek warna coklat itu.
    Clift Muntu tewas di tangan 5 seniornya. Pelaku pun dipecat dengan tidak hormat dan harus membayar ganti rugi biaya pendidikan Rp 13 juta.
    Rektor IPDN: Pembinaan oleh Senior itu Ilegal
    Kegiatan Pataka yang diikuti Cliff Muntu di kampus IPDN memang legal. Namun pembinaan yang dilakukan oleh seniornya ilegal alias sembunyi-sembunyi.
    Hal itu disampaikan Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi di Aula Kampus IPDN, Jalan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis.
    “Kalau kegiatan Pataka sendiri memang ada, cuma pembinaan yang dilakukan yang dilakukan oleh pataka itu yang ilegal. Pataka adalah bagian dari marching band,” ujar Sumaryadi.
    Menurut Sumaryadi, pembinaan junior oleh senior telah dihapuskan sejak STPDN berubah nama menjadi IPDN. Artinya, senior tidak bisa membina juniornya, apalagi dengan kekerasan.
    “Namun mereka masih mencuri-curi saja,” katanya.
    Sumaryadi mengatakan, masalah seperti masih karena proses penerimaan mahasiswa belum maksimal.
    “Pada saat penerimaan yang dites itu hanya kesehatan, tidak ada tes yang sampai apakah orang itu bisa berbuat jahat atau tidak atau mempunyai gen jahat,” katanya.
    Dia menandaskan, sistem pendidikan kepamongprajaan melalui sistem asrama masih satu-satunya yang terbaik.
    IPDN Siap-siap Ambil Langkah Praja Penganiaya Cliff Muntu
    Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bersiap-siap mengambil langkah terhadap praja yang menganiaya Cliff Muntu hingga tewas. Surat resmi dari kepolisian terkait status tersangka prajanya masih ditunggu.
    “Nanti kalau saya sudah terima, hari ini juga kami akan ambil langkah,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/4).
    Beredar kabar, Sabtu pukul 10.00 WIB, IPDN akan menggelar apel luar biasa dengan agenda pemberhentian secara tidak hormat kepada nindya praja yang menganiaya Cliff Muntu.
    Berdasarkan sumber di kepolisian Polres Sumedang, akan ada penambahan tersangka yang jumlahnya masih simpang siur, antara 3 hingga 6 orang. Keenam praja ini memang sejak hari Kamis 5 April sudah diperiksa secara intensif oleh Polres Sumedang.
    Keenam praja itu adalah Ahmad Ari Harahap, Gede Indra Mahardika, Eko Ismada Putra, Frans Albert Yoku, Hikmat Faisal, dan Joko Tricahyono.
    Mereka disebut-sebut sebagai kelompok 11 nindya praja yang turut serta dalam pembinaan pataka (pemegang bendera lambang IPDN) pada Senin 2 April malam. Yang akhirnya dalam kegiatan itu, menyebabkan kematian Cliff Muntu, madya praja asal Sulawesi Utara.
    Kini ada 4 tersangka penganiaya Cliff yang ditahan Polres Sumedang, yaitu A Amrullah, A Bustamil, Fendi Notobuo, dan Jaka Anugrah Putra. Sedangkan seorang lainnya, yaitu Gunawan yang juga mengaku telah memukul Cliff, dikembalikan lagi ke Barak karena tidak cukup bukti.
    Rektor IPDN: Kami Kehilangan Cliff, Praja yang Menonjol
    Di mata Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), almarhum Cliff Muntu dikenal sebagai praja atau mahasiswa yang cukup menonjol. Dengan meninggalnya Cliff, IPDN merasa kehilangan.
    “Kami kehilangan Cliff, karena dia itu dikenal sebagai praja yang baik dan berprestasi. Orang yang cukup menonjol,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Selasa.
    Menurut Nyoman, Cliff adalah Ketua Kontingen Sulawesi Utara. “Kalau tidak punya kredibilitas, tidak mungkin dia jadi Ketua Kontingen Sulut. Keterampilan dan sikap mentalnya baik,” imbuh dia.
    Ditambahkan mantan Kepala Biro Organisasi, Hubungan Masyarakat, dan Protokol Depdagri ini, pihak kampus akan mengecek apakah Cliff akan mendapatkan asuransi. “Kita cek dulu, apakah angkatan dia ikut asuransi. Kalau praja ikut asuransi, bisa dapat Rp 10 juta,” lanjutnya.
    Cliff masuk ke IPDN pada 2005, dan tergabung dalam angkatan Nindya Praja. Pada Agustus 2006, dia duduk di tingkat dua, semester dua. (detikcom/r)

  46. Faisal Basri: Bubarkan IPDN!

    “Orang yang masuk IPDN adalah orang yang tidak masuk ITB, UI, UGM, IPB, dan Akabri. Itu sampah semua,” kata Faisal usai diskusi diskusi bertajuk “Watimpres, DPA baru?” di Mario’s Place, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4).
    Menurut dia, IPDN merupakan warisan kolonial Belanda dan dulu belum ada akademi atau universitas yang mencetak sarjana ilmu pemerintahan.
    “Sebelum jadi lurah dan camat, ambil saja sarjana FISIP yang sudah ada lalu ditraning 3 bulan,” ujarnya.
    Gus Dur: Pelaku Penganiayaan Harus Diproses Hukum
    Kematian praja IPDN Clift Muntu mencuatkan usulan pembubaran IPDN di sejumlah kalangan. Namun bagi Gus Dur, IPDN cukup diperbaiki.
    “Kalau dibiarkan kekerasan ya begitu jadinya. Apa-apa diantemi,” kata Gus Dur usai acara halaqah kebangsaan dan temu wicara hukum acara Mahkamah Konstitusi (MK) bersama Dewan Syuro dan Fungsionaris PKB, di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Jumat (6/4).
    Menurut Gus Dur, pelaku penganiayaan harus diproses hukum.
    “Hukum yang keras para seniornya, cari siapa penyebabnya. Jangan biarkan hukum diinjak-injak,” ujar pria yang mengenakan batik lengan pendek warna coklat itu.
    Clift Muntu tewas di tangan 5 seniornya. Pelaku pun dipecat dengan tidak hormat dan harus membayar ganti rugi biaya pendidikan Rp 13 juta.
    Rektor IPDN: Pembinaan oleh Senior itu Ilegal
    Kegiatan Pataka yang diikuti Cliff Muntu di kampus IPDN memang legal. Namun pembinaan yang dilakukan oleh seniornya ilegal alias sembunyi-sembunyi.
    Hal itu disampaikan Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi di Aula Kampus IPDN, Jalan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis.
    “Kalau kegiatan Pataka sendiri memang ada, cuma pembinaan yang dilakukan yang dilakukan oleh pataka itu yang ilegal. Pataka adalah bagian dari marching band,” ujar Sumaryadi.
    Menurut Sumaryadi, pembinaan junior oleh senior telah dihapuskan sejak STPDN berubah nama menjadi IPDN. Artinya, senior tidak bisa membina juniornya, apalagi dengan kekerasan.
    “Namun mereka masih mencuri-curi saja,” katanya.
    Sumaryadi mengatakan, masalah seperti masih karena proses penerimaan mahasiswa belum maksimal.
    “Pada saat penerimaan yang dites itu hanya kesehatan, tidak ada tes yang sampai apakah orang itu bisa berbuat jahat atau tidak atau mempunyai gen jahat,” katanya.
    Dia menandaskan, sistem pendidikan kepamongprajaan melalui sistem asrama masih satu-satunya yang terbaik.
    IPDN Siap-siap Ambil Langkah Praja Penganiaya Cliff Muntu
    Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bersiap-siap mengambil langkah terhadap praja yang menganiaya Cliff Muntu hingga tewas. Surat resmi dari kepolisian terkait status tersangka prajanya masih ditunggu.
    “Nanti kalau saya sudah terima, hari ini juga kami akan ambil langkah,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/4).
    Beredar kabar, Sabtu pukul 10.00 WIB, IPDN akan menggelar apel luar biasa dengan agenda pemberhentian secara tidak hormat kepada nindya praja yang menganiaya Cliff Muntu.
    Berdasarkan sumber di kepolisian Polres Sumedang, akan ada penambahan tersangka yang jumlahnya masih simpang siur, antara 3 hingga 6 orang. Keenam praja ini memang sejak hari Kamis 5 April sudah diperiksa secara intensif oleh Polres Sumedang.
    Keenam praja itu adalah Ahmad Ari Harahap, Gede Indra Mahardika, Eko Ismada Putra, Frans Albert Yoku, Hikmat Faisal, dan Joko Tricahyono.
    Mereka disebut-sebut sebagai kelompok 11 nindya praja yang turut serta dalam pembinaan pataka (pemegang bendera lambang IPDN) pada Senin 2 April malam. Yang akhirnya dalam kegiatan itu, menyebabkan kematian Cliff Muntu, madya praja asal Sulawesi Utara.
    Kini ada 4 tersangka penganiaya Cliff yang ditahan Polres Sumedang, yaitu A Amrullah, A Bustamil, Fendi Notobuo, dan Jaka Anugrah Putra. Sedangkan seorang lainnya, yaitu Gunawan yang juga mengaku telah memukul Cliff, dikembalikan lagi ke Barak karena tidak cukup bukti.
    Rektor IPDN: Kami Kehilangan Cliff, Praja yang Menonjol
    Di mata Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), almarhum Cliff Muntu dikenal sebagai praja atau mahasiswa yang cukup menonjol. Dengan meninggalnya Cliff, IPDN merasa kehilangan.
    “Kami kehilangan Cliff, karena dia itu dikenal sebagai praja yang baik dan berprestasi. Orang yang cukup menonjol,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Selasa.
    Menurut Nyoman, Cliff adalah Ketua Kontingen Sulawesi Utara. “Kalau tidak punya kredibilitas, tidak mungkin dia jadi Ketua Kontingen Sulut. Keterampilan dan sikap mentalnya baik,” imbuh dia.
    Ditambahkan mantan Kepala Biro Organisasi, Hubungan Masyarakat, dan Protokol Depdagri ini, pihak kampus akan mengecek apakah Cliff akan mendapatkan asuransi. “Kita cek dulu, apakah angkatan dia ikut asuransi. Kalau praja ikut asuransi, bisa dapat Rp 10 juta,” lanjutnya.
    Cliff masuk ke IPDN pada 2005, dan tergabung dalam angkatan Nindya Praja. Pada Agustus 2006, dia duduk di tingkat dua, semester dua. (detikcom/r)

  47. Faisal Basri: Bubarkan IPDN!

    Jakarta (SIB)
    Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengusulkan IPDN dibubarkan menyusul tewasnya praja Clilf Muntu di tangan seniornya.

    “Orang yang masuk IPDN adalah orang yang tidak masuk ITB, UI, UGM, IPB, dan Akabri. Itu sampah semua,” kata Faisal usai diskusi diskusi bertajuk “Watimpres, DPA baru?” di Mario’s Place, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4).
    Menurut dia, IPDN merupakan warisan kolonial Belanda dan dulu belum ada akademi atau universitas yang mencetak sarjana ilmu pemerintahan.
    “Sebelum jadi lurah dan camat, ambil saja sarjana FISIP yang sudah ada lalu ditraning 3 bulan,” ujarnya.
    Gus Dur: Pelaku Penganiayaan Harus Diproses Hukum
    Kematian praja IPDN Clift Muntu mencuatkan usulan pembubaran IPDN di sejumlah kalangan. Namun bagi Gus Dur, IPDN cukup diperbaiki.
    “Kalau dibiarkan kekerasan ya begitu jadinya. Apa-apa diantemi,” kata Gus Dur usai acara halaqah kebangsaan dan temu wicara hukum acara Mahkamah Konstitusi (MK) bersama Dewan Syuro dan Fungsionaris PKB, di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Jumat (6/4).
    Menurut Gus Dur, pelaku penganiayaan harus diproses hukum.
    “Hukum yang keras para seniornya, cari siapa penyebabnya. Jangan biarkan hukum diinjak-injak,” ujar pria yang mengenakan batik lengan pendek warna coklat itu.
    Clift Muntu tewas di tangan 5 seniornya. Pelaku pun dipecat dengan tidak hormat dan harus membayar ganti rugi biaya pendidikan Rp 13 juta.
    Rektor IPDN: Pembinaan oleh Senior itu Ilegal
    Kegiatan Pataka yang diikuti Cliff Muntu di kampus IPDN memang legal. Namun pembinaan yang dilakukan oleh seniornya ilegal alias sembunyi-sembunyi.
    Hal itu disampaikan Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi di Aula Kampus IPDN, Jalan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis.
    “Kalau kegiatan Pataka sendiri memang ada, cuma pembinaan yang dilakukan yang dilakukan oleh pataka itu yang ilegal. Pataka adalah bagian dari marching band,” ujar Sumaryadi.
    Menurut Sumaryadi, pembinaan junior oleh senior telah dihapuskan sejak STPDN berubah nama menjadi IPDN. Artinya, senior tidak bisa membina juniornya, apalagi dengan kekerasan.
    “Namun mereka masih mencuri-curi saja,” katanya.
    Sumaryadi mengatakan, masalah seperti masih karena proses penerimaan mahasiswa belum maksimal.
    “Pada saat penerimaan yang dites itu hanya kesehatan, tidak ada tes yang sampai apakah orang itu bisa berbuat jahat atau tidak atau mempunyai gen jahat,” katanya.
    Dia menandaskan, sistem pendidikan kepamongprajaan melalui sistem asrama masih satu-satunya yang terbaik.
    IPDN Siap-siap Ambil Langkah Praja Penganiaya Cliff Muntu
    Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bersiap-siap mengambil langkah terhadap praja yang menganiaya Cliff Muntu hingga tewas. Surat resmi dari kepolisian terkait status tersangka prajanya masih ditunggu.
    “Nanti kalau saya sudah terima, hari ini juga kami akan ambil langkah,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/4).
    Beredar kabar, Sabtu pukul 10.00 WIB, IPDN akan menggelar apel luar biasa dengan agenda pemberhentian secara tidak hormat kepada nindya praja yang menganiaya Cliff Muntu.
    Berdasarkan sumber di kepolisian Polres Sumedang, akan ada penambahan tersangka yang jumlahnya masih simpang siur, antara 3 hingga 6 orang. Keenam praja ini memang sejak hari Kamis 5 April sudah diperiksa secara intensif oleh Polres Sumedang.
    Keenam praja itu adalah Ahmad Ari Harahap, Gede Indra Mahardika, Eko Ismada Putra, Frans Albert Yoku, Hikmat Faisal, dan Joko Tricahyono.
    Mereka disebut-sebut sebagai kelompok 11 nindya praja yang turut serta dalam pembinaan pataka (pemegang bendera lambang IPDN) pada Senin 2 April malam. Yang akhirnya dalam kegiatan itu, menyebabkan kematian Cliff Muntu, madya praja asal Sulawesi Utara.
    Kini ada 4 tersangka penganiaya Cliff yang ditahan Polres Sumedang, yaitu A Amrullah, A Bustamil, Fendi Notobuo, dan Jaka Anugrah Putra. Sedangkan seorang lainnya, yaitu Gunawan yang juga mengaku telah memukul Cliff, dikembalikan lagi ke Barak karena tidak cukup bukti.
    Rektor IPDN: Kami Kehilangan Cliff, Praja yang Menonjol
    Di mata Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), almarhum Cliff Muntu dikenal sebagai praja atau mahasiswa yang cukup menonjol. Dengan meninggalnya Cliff, IPDN merasa kehilangan.
    “Kami kehilangan Cliff, karena dia itu dikenal sebagai praja yang baik dan berprestasi. Orang yang cukup menonjol,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Selasa.
    Menurut Nyoman, Cliff adalah Ketua Kontingen Sulawesi Utara. “Kalau tidak punya kredibilitas, tidak mungkin dia jadi Ketua Kontingen Sulut. Keterampilan dan sikap mentalnya baik,” imbuh dia.
    Ditambahkan mantan Kepala Biro Organisasi, Hubungan Masyarakat, dan Protokol Depdagri ini, pihak kampus akan mengecek apakah Cliff akan mendapatkan asuransi. “Kita cek dulu, apakah angkatan dia ikut asuransi. Kalau praja ikut asuransi, bisa dapat Rp 10 juta,” lanjutnya.
    Cliff masuk ke IPDN pada 2005, dan tergabung dalam angkatan Nindya Praja. Pada Agustus 2006, dia duduk di tingkat dua, semester dua. (detikcom/r)

  48. Faisal Basri: Bubarkan IPDN!
    Filed in: Pendidikan

    Jakarta (SIB)
    Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengusulkan IPDN dibubarkan menyusul tewasnya praja Clilf Muntu di tangan seniornya.

    “Orang yang masuk IPDN adalah orang yang tidak masuk ITB, UI, UGM, IPB, dan Akabri. Itu sampah semua,” kata Faisal usai diskusi diskusi bertajuk “Watimpres, DPA baru?” di Mario’s Place, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4).
    Menurut dia, IPDN merupakan warisan kolonial Belanda dan dulu belum ada akademi atau universitas yang mencetak sarjana ilmu pemerintahan.
    “Sebelum jadi lurah dan camat, ambil saja sarjana FISIP yang sudah ada lalu ditraning 3 bulan,” ujarnya.
    Gus Dur: Pelaku Penganiayaan Harus Diproses Hukum
    Kematian praja IPDN Clift Muntu mencuatkan usulan pembubaran IPDN di sejumlah kalangan. Namun bagi Gus Dur, IPDN cukup diperbaiki.
    “Kalau dibiarkan kekerasan ya begitu jadinya. Apa-apa diantemi,” kata Gus Dur usai acara halaqah kebangsaan dan temu wicara hukum acara Mahkamah Konstitusi (MK) bersama Dewan Syuro dan Fungsionaris PKB, di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Jumat (6/4).
    Menurut Gus Dur, pelaku penganiayaan harus diproses hukum.
    “Hukum yang keras para seniornya, cari siapa penyebabnya. Jangan biarkan hukum diinjak-injak,” ujar pria yang mengenakan batik lengan pendek warna coklat itu.
    Clift Muntu tewas di tangan 5 seniornya. Pelaku pun dipecat dengan tidak hormat dan harus membayar ganti rugi biaya pendidikan Rp 13 juta.
    Rektor IPDN: Pembinaan oleh Senior itu Ilegal
    Kegiatan Pataka yang diikuti Cliff Muntu di kampus IPDN memang legal. Namun pembinaan yang dilakukan oleh seniornya ilegal alias sembunyi-sembunyi.
    Hal itu disampaikan Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi di Aula Kampus IPDN, Jalan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis.
    “Kalau kegiatan Pataka sendiri memang ada, cuma pembinaan yang dilakukan yang dilakukan oleh pataka itu yang ilegal. Pataka adalah bagian dari marching band,” ujar Sumaryadi.
    Menurut Sumaryadi, pembinaan junior oleh senior telah dihapuskan sejak STPDN berubah nama menjadi IPDN. Artinya, senior tidak bisa membina juniornya, apalagi dengan kekerasan.
    “Namun mereka masih mencuri-curi saja,” katanya.
    Sumaryadi mengatakan, masalah seperti masih karena proses penerimaan mahasiswa belum maksimal.
    “Pada saat penerimaan yang dites itu hanya kesehatan, tidak ada tes yang sampai apakah orang itu bisa berbuat jahat atau tidak atau mempunyai gen jahat,” katanya.
    Dia menandaskan, sistem pendidikan kepamongprajaan melalui sistem asrama masih satu-satunya yang terbaik.
    IPDN Siap-siap Ambil Langkah Praja Penganiaya Cliff Muntu
    Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bersiap-siap mengambil langkah terhadap praja yang menganiaya Cliff Muntu hingga tewas. Surat resmi dari kepolisian terkait status tersangka prajanya masih ditunggu.
    “Nanti kalau saya sudah terima, hari ini juga kami akan ambil langkah,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/4).
    Beredar kabar, Sabtu pukul 10.00 WIB, IPDN akan menggelar apel luar biasa dengan agenda pemberhentian secara tidak hormat kepada nindya praja yang menganiaya Cliff Muntu.
    Berdasarkan sumber di kepolisian Polres Sumedang, akan ada penambahan tersangka yang jumlahnya masih simpang siur, antara 3 hingga 6 orang. Keenam praja ini memang sejak hari Kamis 5 April sudah diperiksa secara intensif oleh Polres Sumedang.
    Keenam praja itu adalah Ahmad Ari Harahap, Gede Indra Mahardika, Eko Ismada Putra, Frans Albert Yoku, Hikmat Faisal, dan Joko Tricahyono.
    Mereka disebut-sebut sebagai kelompok 11 nindya praja yang turut serta dalam pembinaan pataka (pemegang bendera lambang IPDN) pada Senin 2 April malam. Yang akhirnya dalam kegiatan itu, menyebabkan kematian Cliff Muntu, madya praja asal Sulawesi Utara.
    Kini ada 4 tersangka penganiaya Cliff yang ditahan Polres Sumedang, yaitu A Amrullah, A Bustamil, Fendi Notobuo, dan Jaka Anugrah Putra. Sedangkan seorang lainnya, yaitu Gunawan yang juga mengaku telah memukul Cliff, dikembalikan lagi ke Barak karena tidak cukup bukti.
    Rektor IPDN: Kami Kehilangan Cliff, Praja yang Menonjol
    Di mata Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), almarhum Cliff Muntu dikenal sebagai praja atau mahasiswa yang cukup menonjol. Dengan meninggalnya Cliff, IPDN merasa kehilangan.
    “Kami kehilangan Cliff, karena dia itu dikenal sebagai praja yang baik dan berprestasi. Orang yang cukup menonjol,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Selasa.
    Menurut Nyoman, Cliff adalah Ketua Kontingen Sulawesi Utara. “Kalau tidak punya kredibilitas, tidak mungkin dia jadi Ketua Kontingen Sulut. Keterampilan dan sikap mentalnya baik,” imbuh dia.
    Ditambahkan mantan Kepala Biro Organisasi, Hubungan Masyarakat, dan Protokol Depdagri ini, pihak kampus akan mengecek apakah Cliff akan mendapatkan asuransi. “Kita cek dulu, apakah angkatan dia ikut asuransi. Kalau praja ikut asuransi, bisa dapat Rp 10 juta,” lanjutnya.
    Cliff masuk ke IPDN pada 2005, dan tergabung dalam angkatan Nindya Praja. Pada Agustus 2006, dia duduk di tingkat dua, semester dua. (detikcom/r)

  49. Cliff Muntu

    Seniorku tercinta….

    Hari demi hari telah kulalui di kampus IPDNku tercinta…
    Segala Caci maki & Cercaan telah kuterima…
    Pukulan demi pukulan juga telah kuterima…

    Semua itu kuterima demi harapan keluargaku…
    Semua itu keterima demi cinta pada keluarga & bangsaku…
    Tapi semua itu kuterima bukan untuk kalian seniorku…

    Impian tuk membahagiakan keluarga & bangsa telah lenyap..
    Kini ku telah terbujur kaku dgn luka mendalam lahir & bathin
    Telah puaskah kalian wahai seniorku???

    Kutunggu kalian di peradilan akhir…
    Semoga Tuhan memaafkan kalian…

  50. Faisal Basri: Bubarkan IPDN!!!!!!!!!!!!!!!!
    Filed in: Pendidikan
    Add comments

    Jakarta (SIB)
    Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengusulkan IPDN dibubarkan menyusul tewasnya praja Clilf Muntu di tangan seniornya.

    “Orang yang masuk IPDN adalah orang yang tidak masuk ITB, UI, UGM, IPB, dan Akabri. Itu sampah semua,” kata Faisal usai diskusi diskusi bertajuk “Watimpres, DPA baru?” di Mario’s Place, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4).
    Menurut dia, IPDN merupakan warisan kolonial Belanda dan dulu belum ada akademi atau universitas yang mencetak sarjana ilmu pemerintahan.
    “Sebelum jadi lurah dan camat, ambil saja sarjana FISIP yang sudah ada lalu ditraning 3 bulan,” ujarnya.
    Gus Dur: Pelaku Penganiayaan Harus Diproses Hukum
    Kematian praja IPDN Clift Muntu mencuatkan usulan pembubaran IPDN di sejumlah kalangan. Namun bagi Gus Dur, IPDN cukup diperbaiki.
    “Kalau dibiarkan kekerasan ya begitu jadinya. Apa-apa diantemi,” kata Gus Dur usai acara halaqah kebangsaan dan temu wicara hukum acara Mahkamah Konstitusi (MK) bersama Dewan Syuro dan Fungsionaris PKB, di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Jumat (6/4).
    Menurut Gus Dur, pelaku penganiayaan harus diproses hukum.
    “Hukum yang keras para seniornya, cari siapa penyebabnya. Jangan biarkan hukum diinjak-injak,” ujar pria yang mengenakan batik lengan pendek warna coklat itu.
    Clift Muntu tewas di tangan 5 seniornya. Pelaku pun dipecat dengan tidak hormat dan harus membayar ganti rugi biaya pendidikan Rp 13 juta.
    Rektor IPDN: Pembinaan oleh Senior itu Ilegal
    Kegiatan Pataka yang diikuti Cliff Muntu di kampus IPDN memang legal. Namun pembinaan yang dilakukan oleh seniornya ilegal alias sembunyi-sembunyi.
    Hal itu disampaikan Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi di Aula Kampus IPDN, Jalan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis.
    “Kalau kegiatan Pataka sendiri memang ada, cuma pembinaan yang dilakukan yang dilakukan oleh pataka itu yang ilegal. Pataka adalah bagian dari marching band,” ujar Sumaryadi.
    Menurut Sumaryadi, pembinaan junior oleh senior telah dihapuskan sejak STPDN berubah nama menjadi IPDN. Artinya, senior tidak bisa membina juniornya, apalagi dengan kekerasan.
    “Namun mereka masih mencuri-curi saja,” katanya.
    Sumaryadi mengatakan, masalah seperti masih karena proses penerimaan mahasiswa belum maksimal.
    “Pada saat penerimaan yang dites itu hanya kesehatan, tidak ada tes yang sampai apakah orang itu bisa berbuat jahat atau tidak atau mempunyai gen jahat,” katanya.
    Dia menandaskan, sistem pendidikan kepamongprajaan melalui sistem asrama masih satu-satunya yang terbaik.
    IPDN Siap-siap Ambil Langkah Praja Penganiaya Cliff Muntu
    Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bersiap-siap mengambil langkah terhadap praja yang menganiaya Cliff Muntu hingga tewas. Surat resmi dari kepolisian terkait status tersangka prajanya masih ditunggu.
    “Nanti kalau saya sudah terima, hari ini juga kami akan ambil langkah,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/4).
    Beredar kabar, Sabtu pukul 10.00 WIB, IPDN akan menggelar apel luar biasa dengan agenda pemberhentian secara tidak hormat kepada nindya praja yang menganiaya Cliff Muntu.
    Berdasarkan sumber di kepolisian Polres Sumedang, akan ada penambahan tersangka yang jumlahnya masih simpang siur, antara 3 hingga 6 orang. Keenam praja ini memang sejak hari Kamis 5 April sudah diperiksa secara intensif oleh Polres Sumedang.
    Keenam praja itu adalah Ahmad Ari Harahap, Gede Indra Mahardika, Eko Ismada Putra, Frans Albert Yoku, Hikmat Faisal, dan Joko Tricahyono.
    Mereka disebut-sebut sebagai kelompok 11 nindya praja yang turut serta dalam pembinaan pataka (pemegang bendera lambang IPDN) pada Senin 2 April malam. Yang akhirnya dalam kegiatan itu, menyebabkan kematian Cliff Muntu, madya praja asal Sulawesi Utara.
    Kini ada 4 tersangka penganiaya Cliff yang ditahan Polres Sumedang, yaitu A Amrullah, A Bustamil, Fendi Notobuo, dan Jaka Anugrah Putra. Sedangkan seorang lainnya, yaitu Gunawan yang juga mengaku telah memukul Cliff, dikembalikan lagi ke Barak karena tidak cukup bukti.
    Rektor IPDN: Kami Kehilangan Cliff, Praja yang Menonjol
    Di mata Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), almarhum Cliff Muntu dikenal sebagai praja atau mahasiswa yang cukup menonjol. Dengan meninggalnya Cliff, IPDN merasa kehilangan.
    “Kami kehilangan Cliff, karena dia itu dikenal sebagai praja yang baik dan berprestasi. Orang yang cukup menonjol,” ujar Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi saat dihubungi detikcom, Selasa.
    Menurut Nyoman, Cliff adalah Ketua Kontingen Sulawesi Utara. “Kalau tidak punya kredibilitas, tidak mungkin dia jadi Ketua Kontingen Sulut. Keterampilan dan sikap mentalnya baik,” imbuh dia.
    Ditambahkan mantan Kepala Biro Organisasi, Hubungan Masyarakat, dan Protokol Depdagri ini, pihak kampus akan mengecek apakah Cliff akan mendapatkan asuransi. “Kita cek dulu, apakah angkatan dia ikut asuransi. Kalau praja ikut asuransi, bisa dapat Rp 10 juta,” lanjutnya.
    Cliff masuk ke IPDN pada 2005, dan tergabung dalam angkatan Nindya Praja. Pada Agustus 2006, dia duduk di tingkat dua, semester dua. (detikcom/r)

  51. setuju ama faisal basri, sampah semua lo!

  52. zimzum

    “Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan mahasiswa ITB lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.”

    @ alumnus_ITB_anti_kekerasan
    ngapain lo nulis ginian JING ? apa hubungannya ama IPDN ?
    kampus lo masih ada tawuran juga.. craphead !

    buat yg laen..
    gw curiga ini blog bukan dibuat sama anak IPDN (gw gak yakin otaknya pada nyampe buat bikin blog)..
    blog ini cuman buat flaming aja..

    -the death of one is a tragedy, the death of million is just a statistics

  53. senopati

    Jikalau sebuah kampus harus membunuh semua mahasiswanya baru bisa dikatakan kampus pembunuh.
    Jikalau sebuah negara abdinya harus korupsi bersama rakyat.. maka baru bisa dikatakan negara korupsi..
    Maka alangkah sedihnya pelajaran bahasa indonesia yg kita terima.. tak bisa mengartikan secara harfiah.. Tak bisa menelaah kalimat.. Semua kalimat harus lugas.. Harus tegas.. alhasil tegas yg tak tentu arah.. Ya hasilnya korban tegas yaitu kematian.. geto maksud lo?

  54. rhindi

    mmmmmm,,,ga mau dianggap sekolah pembunuh,,, tapi emang kenyataannya bgitu bukan?? emang ga smua mati, tapi udah brapa banyak yg mati?? emang TIDAK SEMUA sperti itu, tapi kalian yg tidak melakukan itupun jadi terkena dampaknya bukan?? mau bilang apapun, mau ngebela kyk apapun akhrinya akan tetap bgitu,, bukti udah ada banyak.. mau ngelak?? yah kalian2 juga akhirnya yg malu kan?? orang bukti nya udah jelas ada,, dengan kalian mengata2i orang yg ngasih itu video ke media, malah semakin menunjukkan kalo kalian itu SENANG MELAKUKAN TINDAK KEKERASAN..
    kalo emang ga mau dicap sekolah pembantaian, coba dong tunjukkin kalo emang kalian ga bgitu,, ditanyaa wapres aja malah nutup2in,,
    skr kaliannya sendiri dong yg harus ngapus kekerasan itu, kalo emang ada yg melakukan lagi, kalian juga yg harus ngelarang,, iya ga?? kalo kalian ga mau dicap jelek, kalian coba dong rubah kebiasaan itu,, lagian emang ntar jadi pegawai negri kepake tuh kekerasan2 itu?? emang nanti di kantor kalian bakal di pukul2in?? ga kan,, kalo tentara yg digituin gw masih percaya, krn nantinya pas mreka perang kemungkinan diperlakukan tidak baik sama musuh itu ada, NAH KALIAN??? PERLU GA?? ga kan… di militer aja ga ada yg kyk gitu KONTAK FISIK… makanya pada mikir dong,,, (kok gw jadi emosi ya??)

  55. anonim

    yg bikin blog ini, pengecut juga! ga berani unjuk muka! Pak Inu jauh lebih gentle daripada kalian pengecut pembuat blog ini!

  56. irawan

    putra putri terbaik bangsa….? ga keliru tuh…enak juga yah jadi putra putri terbaik bangsa hanya dengan “membayar” harga tertentu buat masuk ke IPDN……weleh..+ diajari gimana cara beladiri yg bagus…pantesan lulusannya “sakit” semua….ngaca donk bosssssss, bandingin ama STAN, STIS, AKABRI..apa kalian masih yg terbaik? BULLSHIT….!!!!!!!!!!!!!

  57. Sing Bagus Dewe

    2 hari lalu saya merasakan nikmatnya lulusan STPDN, dia wanita bekerja di Pemkab Pkn Bru… umur baru 27 an belum nikah, tapi nikmatnya bukan main… saya gak nyangka ternyata di STPDN juga belajar “bagaimana berhubungan sex yang baik dan benar dengan rekanan Pemda….”

    Uenak tenan………..

  58. pelaut

    yah bisa lo cuman ngitung doang…dasar goblok

  59. janC

    “maka
    semua
    civitas academica
    akan habis
    tiada tersisa”

    kalau semua mati trus siapa yang membunuh????

    ini saya yang bodo ato yang nulis otaknya dah abis kececeran???

  60. Zilla

    Emang ini blog buat flame kayaknya… si pembuat (entah Anda siapa) sengaja membuat blog memuakkan begini yang seolah-olah ditulis mahasiswa IPDN dengan cara pandang mereka… supaya kita tambah sebal sama mereka! Hehehehe

  61. inu

    Goblok! Emang pembantaian harus mati semua. Untung aja ga mati semua…

  62. Itu Matematika dari mana ya?
    Semua Civitas Academica harus bubar?
    Jangan melempar kesalahan terus lah, sekali-kali coba belajar introspeksi…

  63. saya senang bisa sekolah dan lulus dari ipdn.
    bayangin aja, sekolah gratis (kalaupun ada pungutan, toh yang bayarin ortu yang pejabat pemda, duitnya juga hasil korupsi). disekolah tiap bulan terima uang saku yang lumayan, makan ditanggung. kalo pesiar keluar kampus bisa nyari sabu, nyari lonthe, pokoknya senang-senang deh. kalo udah senior, gue puas gebukin yunior gue sampe ada yang mati. gua puaaas pokonya. nah sekarang gue udah otomatis jadi pns tanpa susah-susah ikutan tes segala. sekarang target gue pokoknya cari lahan buat korupsi sebanyak-banyaknya biar gue bisa terus bersenang-senang, main judi, nyabu, main lonthe dsb.
    bravo alumni ipdn….ha ha.ha …

  64. ROOT

    Mau dikemanakan Indonesiaku Tercinta?!

    Tanya kenapa?

  65. Savitri

    Kami adalah putra putri terbaik bangsa, abdi negara yang siap melayani masyarakat menuju Indonesia yang adil dan makmur. Ada praja meninggal jangan dibesar besarkan.

    KAMI TERBAIK DALAM MERANCANG PEMBUNUHAN.
    KAMI TERBAIK DALAM MERANCANG PEMUKULAN
    KAMI TERBAIK DALAM MERANCANG PENG-ABORSIAN
    KAMI SELALU MERENCANAKAN SESUATU DENGAN SEBAIK-BAIKNYA KALAU SAJA TIDAK VIDEO YANG BEREDAR DI LUAR TENTANG KEJAHATAN KAMI.
    COBA KALIAN MASUK KE KAMPUS KAMI,AKAN KAMI BUNUH BERAMAI-RAMAI DENGAN MATA TERTUTUP DAN TANGAN TERIKAT.KAMU AKAN KAMI BUNUH DENGAN MERENCANAKAN SEOLAH-OLAH KAMU SAKIT LEVER DAN UNTUK ITU KAMI MEMBUTUHKAN PERSEKONGKOLAN BAGUS,PRAJA YANG MATI ADALAH PRAJA YANG BERNIAT MENYEBARKAN AKSI KEJAHATAN KAMI JADI HARUS DILENYAPKAN DARI MUKA BUMI INI. TAPI KAMI LUPA ADA PAK INU YANG SEHARUSNYA JUGA HARUS DI LENYAPKAN.

    BANGSAT IPDN!!!!! BUBARKAN!!!!!!!!!!!!!!!!






%d blogger menyukai ini: