belit kata jerat benak matikan hati

rentet kata
berpanjang kalimat
kaburkan maksud
mana alasan mana niat

wahai blogger garang!


  1. abi

    Meski tanpa pemain pilar, Persib harus bisa menang dong. Masa klub papan atas tidak bisa mengandalkan pemain cadangannya. Sok ah Sib, mainkan lagi. Kami tunggu kemenangannya. HIDUP PERSIB

  2. Sebentar lagi ada yang lebih jelas 🙂

    BTW, ini anak IPDN aseli atau nggak sih? Atau memancing di air keruh? Kenapa ga sekalian pasang adsense Pak?

  3. kayanya bukan,, kalo iya kayanya bakal lebih garang,, 🙂

  4. Pemuda Indonesia

    Hmmm ..
    Apa komentar ini sungguh dibaca para IPDN mania ?
    Sepertinya tidak .. karena dari bacaan opini-opini mereka dapat dipastikan mereka telah membentuk opini sendiri dan pembenaran diri sendiri. Tapi tidak ada salahnya komentar ini ditulis, mungkin untuk orang-orang yang masih terbuka hatinya.

    Dari sikap mental yang berusaha menutupi kesalahan yang dibuat oleh civitas akademika IPDN dengan berbagai alasan, seperti seharusnya pembenahan dari dalam, dan sebagainya serta sikap menyalahkan orang lain yang mengungkapkan kejujuran, dapat dipastikan tidak ada gunanya pendidikan yang diajarkan selama ini pada para civitas IPDN.

    Yang ada hanyalah pembodohan, kebohongan semu baik terhadap diri sendiri dan terhadap masyarakat. Beranggapan sebagai putra terbaik bangsa? dari mana datangnya pemikiran itu?

    Yang dilihat sekarang adalah civitas IPDN mencoba membela nama baik institusi. Ya, memang baik .. namun jika institusi itu salah, apa masih harus dibela? … institusi itu telah menyebabkan beberapa orang pemuda Indonesia mati .. mati sia-sia.

    Sekarang pertanyaanya .. anda itu putra terbaik bangsa atau putra terbaik institusi?

    Jelas sekali IPDN bukan institusi terbaik bangsa. Institusi mana yang menyebabkan jatuhnya korban berulang kali?
    Dan sungguh kalian bodoh jika menganggap itu hal kecil yang dibesar-besarkan .. nyawa manusia itu berharga.
    Jika kalian tidak bisa menghargai nyawa manusia, bagaimana bisa kalian menyatakan diri putra terbaik bangsa? Kebohongan semu yang kalian tanamkan dalam diri kalian sendiri.

    Sekarang … tentukan pilihan kalian … jika kalian memang mau disebut sebagai putra terbaik bangsa … apa kalian tetap membela institusi kalian yang rusak itu?

    Apalah artinya sebuah institusi .. jangan biarkan pikiran kalian terkotak-kotak dalam suatu wadah yang namanya institusi. Jadi lah pemuda indonesia yang mempunyai pikiran yang bebas, bijaksana, membela kebenaran tanpa memperhatikan suku, ras, agama, apalagi yang namanya institusi … karena kita ini sesama rakyat Indonesia.

    Membela yang benar karena itu memang benar, bukan karena kebenaran semu yang coba kalian tanamkan dalam hati kalian. Semoga hati kalian masih bisa terbuka untuk melihat yang benar.

    Sungguh sayang jika hati itu telah tertutup. Kalian dididik seharusnya utk menjadi pamong yang terbuka hatinya, peduli kepada masyarakat bukan peduli kepada institusi/golongan sendiri. Berpikiran terbukalah, sekali-kali belajar lah di tempat lain buka wawasan .. jangan beranggapan IPDN itu yang terhebat.
    Di atas langit masih ada langit.

  5. Pemuda Indonesia

    Hmmm ..
    Apa komentar ini sungguh dibaca para IPDN mania ?
    Sepertinya tidak .. karena dari bacaan opini-opini mereka dapat dipastikan mereka telah membentuk opini sendiri dan pembenaran diri sendiri. Tapi tidak ada salahnya komentar ini ditulis, mungkin untuk orang-orang yang masih terbuka hatinya.

    Dari sikap mental yang berusaha menutupi kesalahan yang dibuat oleh civitas akademika IPDN dengan berbagai alasan, seperti seharusnya pembenahan dari dalam, dan sebagainya serta sikap menyalahkan orang lain yang mengungkapkan kejujuran, dapat dipastikan tidak ada gunanya pendidikan yang diajarkan selama ini pada para civitas IPDN.

    Yang ada hanyalah pembodohan, kebohongan semu baik terhadap diri sendiri dan terhadap masyarakat. Beranggapan sebagai putra terbaik bangsa? dari mana datangnya pemikiran itu?

    Yang dilihat sekarang adalah civitas IPDN mencoba membela nama baik institusi. Ya, memang baik .. namun jika institusi itu salah, apa masih harus dibela? … institusi itu telah menyebabkan beberapa orang pemuda Indonesia mati .. mati sia-sia.

    Sekarang pertanyaanya .. anda itu putra terbaik bangsa atau putra terbaik institusi?

    Jelas sekali IPDN bukan institusi terbaik bangsa. Institusi mana yang menyebabkan jatuhnya korban berulang kali?
    Dan sungguh kalian bodoh jika menganggap itu hal kecil yang dibesar-besarkan .. nyawa manusia itu berharga.
    Jika kalian tidak bisa menghargai nyawa manusia, bagaimana bisa kalian menyatakan diri putra terbaik bangsa? Kebohongan semu yang kalian tanamkan dalam diri kalian sendiri.

    Sekarang … tentukan pilihan kalian … jika kalian memang mau disebut sebagai putra terbaik bangsa … apa kalian tetap membela institusi kalian yang rusak itu?

    Apalah artinya sebuah institusi .. jangan biarkan pikiran kalian terkotak-kotak dalam suatu wadah yang namanya institusi. Jadi lah pemuda indonesia yang mempunyai pikiran yang bebas, bijaksana, membela kebenaran tanpa memperhatikan suku, ras, agama, apalagi yang namanya institusi … karena kita ini sesama rakyat Indonesia.

    Membela yang benar karena itu memang benar, bukan karena kebenaran semu yang coba kalian tanamkan dalam hati kalian. Semoga hati kalian masih bisa terbuka untuk melihat yang benar.

    Sungguh sayang jika hati itu telah tertutup. Kalian dididik seharusnya utk menjadi pamong yang terbuka hatinya, peduli kepada masyarakat bukan peduli kepada institusi/golongan sendiri. Berpikiran terbukalah, sekali-kali belajar lah di tempat lain buka wawasan .. jangan beranggapan IPDN itu yang terhebat.
    Di atas langit masih ada langit.

  6. Cliff Muntu

    Seniorku tercinta….

    Hari demi hari telah kulalui di kampus IPDNku tercinta…
    Segala Caci maki & Cercaan telah kuterima…
    Pukulan demi pukulan juga telah kuterima…

    Semua itu kuterima demi harapan keluargaku…
    Semua itu keterima demi cinta pada keluarga & bangsaku…
    Tapi semua itu kuterima bukan untuk kalian seniorku…

    Impian tuk membahagiakan keluarga & bangsa telah lenyap..
    Kini ku telah terbujur kaku dgn luka mendalam lahir & bathin
    Telah puaskah kalian wahai seniorku???

    Kutunggu kalian di peradilan akhir…
    Semoga Tuhan memaafkan kalian…

  7. Jika2 temen2 punya info tentang keberadaan anak2 STPDN yg terekam lagi mukulin juniornya. silakan kirim ke newsdotcom . Hal ini sangat diperlukan untuk pengusutan tindakan pelanggaran HAM berat yang akan di bawa ke PBB.

  8. nya Kalah Main Poker
    Namaku Adi. Cerita ini adalah satu kisah hebat yang benar2 terjadi dalam hidupku yang membosankan. Sewaktu aku berumur 16 tahun, aku berniat untuk masuk ke SMU di kota besar. Waktu itu aku memilih Surabaya. Sebelumnya aku tinggal di Nganjuk, kota kecil yang jauh dari kesenangan dan kebebasan. Bapak Ibuku mengiyakan saja, dengan syarat aku harus bisa menjaga diri. Waktu itu aku oke saja, tanpa tau maksudnya apa.

    Tahun 2000, bulan Juni.

    Aku pertama kali menginjakkan kakiku di Surabaya. Aku dititipkan di kos2an milik tetanggaku di Nganjuk, dia punya beberapa kos2an di Surabaya.
    Aku diberi kamar yang paling pojok, lantai dua. Kos2an nya dibuat lorong, dengan kamar di satu sisinya. Jadi begitu naik tangga, sampai ke lantai 2, langsung ke ruang TV. Untuk menuju kamarku, musti menyeberangi ruang TV dan kamar mandi, trus melewati lorong yang berisi kamar2 ada 5 kuhitung, sampai di pojok lorong.

    Saat itu jam 8 malam, aku heran kenapa kos sebesar ini ga ada satupun penghuninya tampak. Padahal udah jam 8 malam.
    Setelah beres2, aku ke ruang tamu untuk nonton TV. Sekolahku masuk 2 minggu lagi, jadi aku punya banyak waktu libur. Wah, bisa nonton sampai pagi nih, pikirku.

    Sampai di ruang tamu, aku berharap bisa kenalan dengan penghuni kos, karena aku memang pengen tau cerita mereka hidup di kota besar.
    Tapi lagi2 nihil, ga ada satupun orang yang keliatan. Hm aneh. Jam 1, aku ngantuk, trus masuk kamar dan tertidur.

    Kejutan Di Pagi Hari.

    Keesokan paginya aku terbangun suara ribut, langkah orang banyak dan pintu dibuka tutup. Kulihat masih jam 6 pagi. Penasaran, aku melangkah keluar.
    Hah! Aku kaget sekali, banyak cewe2 cakep, mungkin mahasiswi, bersliweran, ada yang dari kamar mandi, cuma pakai BH dan CD, ada yg cuma handuk dililitkan di pinggang tanpa BH, ada pula yang pake CD dan kaos singlet tanpa BH, jadi keliatan banget kalo putingnya menonjol. Aku pucat pasi.

    Ternyata kos cewe! Saat mau melangkah masuk, ada teriakan keras. Aku kaget banget.

    “AAAAAHH!! Heh!! Kamu cowo kok berani2nya masuk sini!! Bu Miiiin, ada maliiiiing!!!” Spontan cewe2 itu berteriak sambil menutupi tubuhnya.
    Wakss!! Aku gelagapan. Panik, nggak tau musti ngapain, tubuhku cuma tegang kaku di tempat. Bu Min, pembantu yang menjaga kos, tergopoh2 naik tangga, trus ngeliat aku.

    “B-B-Bu Min..” kataku tergagap. Kemudian Bu Min ketawa terpingkal2, kemudian dia menjelaskan situasinya. Setelah itu cewe2 tadi sebagian masuk kamar sambil menggerutu, cuma ada 3 cewe yang tetap di tempat.

    “Oalaah, kirain kamu maling. Barusan dateng to??” Yang bicara ini namanya Tika, orangnya cantik, lumayan tinggi, bodinya bagus banget, pantatnya bulat dan kencang. Dia ini cewe yang tadi cuma pakai CD biru muda dan kaos singlet tanpa BH. Yang satu lagi duduk di depan TV, sambil ngeliatin aku atas bawah, namanya Yuni, matanya menatapku curiga. Yuni lagi pakai tank top terusan tanpa BH, warna pink tipis, tapi ga keliatan apa2 soalnya langsung ditutupi.

    Yang satu lagi langsung berteriak kenceng plus kemayu, “Haiii, aku Enyiii, kaget yaaa?? Hahahaha…” Keliatannya yang satu ini ceria banget orangnya. Enyi berkulit putih, tapi bawah matanya item, entah kenapa. Enyi bertubuh ramping, tapi dadanya besar banget. Enyi pakai kaos ketat yang keliatan mahal, tapi bawahnya cuma pakai CD G-String. Ya ampun, keliatan semuanya, pikirku. Tapi cewe2 ini keliatannya ngga terlalu kuatir kalau tubuh seksinya terekspos.

    Kami berkenalan pagi itu. “Ooo, masih baru masuk SMU?? Pantes kok mukanya culun banget, wahahahaha…” Ketiganya ketawa. Aku cuma senyum2 malu.
    “Hari ini libur?” tanya Enyi. “Iya Mbak”, jawabku “sampai 20 Juni baru masuk ambil seragam. Sori Mbak, ngagetin..”
    “Ngga papa, ya wajar lah kalo kaget, soalnya mendadak ada cowok masuk”, kata Tika.
    “Si Sapi tuh yang paling kaget, soalnya ga pake apa2, cuma ngelilit anduk aja, hihihi, mungkin dia malu. Kamu udah liat apa aja Di??” tanya Enyi sambil mesam mesem.

    Aku ngga berani jawab, cuma ngeliat arah lain. “Udah2, keliatan cowo imut langsung deh digodain. Di, kita permisi dulu ya. Ayo ayo jangan digangguin,” kata Tika sambil masuk ke kamar. Enyi cekikikan sambil ngelirik aku, trus ikut Tika masuk kamar. Tika dan Enyi sekamar rupanya.

    Si Yuni yang lagi nonton TV juga ikut masuk. Ketika dia berdiri, Yuni menutupi dadanya sambil jalan. Wah, keliatan banget kalo dadanya besar, dan bentuk badannya juga bagus, kakinya ramping. Sayang orangnya pendiam, judes pasti, pikirku. Masih jam 7, aku ngantuk lagi, bangunku kepagian soalnya.
    Sambil jalan ngelewatin kamar cewe2 itu, aku heran lagi, kok mereka masuk kamar lagi ya? Apa mereka mau tidur lagi? Kan tadi sudah mandi? Mungkin mereka sungkan di luar ada cowok. Ya udah, aku tidur lagi.

    Jebakan Terencana.

    Siang menjelang, aku terbangun. Kulihat wekerku menunjukkan jam 2 siang. Suara2 cewe bercakap2 sambil cekikikan terdengar dari ruang TV. Waduh, aku sungkan nih, mau ke kamar mandi kan terletak di ruang TV, tapi aku musti mandi. Gimana ya?

    Kubulatkan tekadku, sambil membawa handuk dan pakaian ganti aku melangkah ke kamar mandi. Aku berusaha untuk nggak ngeliatin cewe2 ini. Waktu aku melewati mereka, obrolan cewe2 ini langsung terhenti. Terasa banget kalo mereka lagi ngamatin aku. Cepat2 aku masuk ke kamar mandi.
    Ketika ke kamar mandi, mereka cekikian lagi, trus kasak-kusuk. Ada kata2 yang kedengeran, “Lumayan juga tuh, imut..” sama “Wah, Enyi dapet mainan baru niih..” sambil ketawa. Trus ada yang nyeletuk “Sst, eh, sini deh, ..” setelah itu sepi.

    Setelah mandi, kebetulan aku cuma pake CD sama celana pendek. Cewe2 ini lagi ngeliatin. Trus si Enyi manggil aku, “Diii, sini deh. Sini sini sini.. duduk sama kakak-kakak yang manis hehehe..”. Akupun kebingungan. “Eh, knapa Mbak?”

    “Sini, kakak kenalin, yang ini namanya Lisa, kalo yang ini Sapi, hwahaha..nama aslinya sih Indah. Yang ini Meidi, trus itu Vivi”. Enyi mengenalkan cewe2 yang tadi pagi belum sempet bicara. Kemudian kami ngobrol sebentar, tanya ini tanya itu. Rata2 cewe2 itu bodinya yahud semua, kulitnya mulus2. Soal wajah sih relatif cantik. Cuma Tika yang paling cantik kayak artis.

    Sampai akhirnya tiba2 Tika tanya “Di, kamu pernah main kartu?”
    “Hah? Oh, pernah Mbak.”
    “Bisa poker?” potong Enyi cepat.
    “Mm pernah sih, sama temen2. Knapa Mbak?”
    “Main poker mau? Daripada nganggur, ngga ada kegiatan kan?” tanya Tika.
    “Mm, makan dulu ya Mbak, laper..”
    “Ok, aku tunggu di kamarku ya. Tau kan, kamar kedua dari kamarmu” kata Tika menunjuk kamarnya. “Oya, aku tau kok Mbak. Eh, ngga di sini aja?” tanyaku.
    “Ngga, di kamarku aja” jawab Tika.
    “Enak, dingin kamarnyaaa”, Enyi menimpali. Cewe2 yang lain pada cekikikan.

    Aku agak heran, agak bingung. Kemudian aku pakai baju, trus turun ke ruang makan, makan masakannya Bu Min. Sedangkan cewe2 tadi ngelanjutin ngobrol.
    Setelah selesai makan, aku ke atas lagi. “Ayo ayo, kita main,” si Enyi menggandeng tanganku masuk ke kamarnya.

    Ada 3 cewe yg masih nonton TV, ngeliat aku ditarik Enyi, mereka cekikikan.
    Aku masuk ke kamar Tika & Enyi. Selain Tika dan Enyi, si Yuni juga ada disana. Dia tersenyum kecil. Eh, udah ga judes.. Wah, harum, pikirku. Ini ya kamar cewe, rapi. Dingin lagi, oooh pake AC.

    “Kamu bisa poker kan?” tanya Tika. Kemudian dia menjelaskan peraturannya. Poker yang dia mau agak beda. Yang paling kalah, hukumannya lepas pakaian!! Trus kalo udah ga ada baju yang melekat, pemain yang lain boleh menyentuh bagian tubuh manapun dari pemain yang paling kalah, selama 5 detik. BUSYEEETTT!! Aku deg2an setengah mati, plus setengah gembira, karena ini pengalaman pertamaku idup di kota besar.
    Wah, ada kesempatan dong ngeliat susunya cewe2 ini, pikirku. Malu, takut, tapi bernafsu. Langsung tititku menegang.

    Permainan Dimulai.

    Permainan dimulai. Tika jadi bandar. Karena langsung dibagi lima lima, permainan berlangsung sangat cepat. Bagi, buka. Bagi, buka. Kulihat Tika memakai kaos singlet tanpa BH, dan celana pendek. Enyi pakai kaos oblong longgar dan celana pendek. Sedangkan Yuni pakai tank top, BH nya keliatan berwarna kuning, sama celana pendek banget tipis.

    Ronde pertama, aku langsung kalah. Aku gugup banget, mana cewe2 ini bersorak2 lagi, “Buka! Buka! Buka!” sambil cekikikan. Aku buka kaos oblong ku.

    Ronde kedua, Tika yang kalah. Si Yuni langsung teriak tertahan “Aak!” Sedangkan si Enyi ketawa kenceng banget, mau ngga mau aku ikut ketawa juga.

    Tika berdiri, tersenyum tenang, sambil menatapku, dia membuka celana pendeknya.
    G-String warna putih. Woooow!!!! Aku bersorak dalam hati. Tititku menegang lagi.

    Permainan berlanjut. Kini giliran Yuni. “Mati akuu” kata Yuni. Yang lain tertawa, termasuk aku. Yuni memilih membuka kaos tank top nya. Terlihat BH kuning berukuran jumbo terpampang. Aku pura2 nggak ngeliatin, tapi cewe2 itu rupanya tau. Mereka senyum2 aja.
    Kali ini aku kena lagi. Waduh!! Terpaksa kubuka celana pendekku. Keliatan deh, tititku yang lagi menegang di bawah CDku. Basah lagi, soalnya lendir keluar dari titit ini. Semua nya ketawa, Enyi yang paling keras. Malu, aku tutupin pake kartu.

    Kali ini giliran Tika yang kena lagi. YESS!! Wah, giliran Enyi kapan ya? Tika membuka kaos singletnya. Tersembul dada yang mulus, ga terlalu putih, tapi bagus, pas, indah bentuknya, dengan puting yang coklat muda. Putingnya besar, kayak gini kah puting cewe?

    Tika ngga keliatan berusaha menutupi dadanya, dia malah tersenyum tenang sambil menatapku. Sepertinya dia menikmati kalo aku memandangi dadanya. Tititku semakin mengeras dan mengeras.
    Lanjut, aku kalah lagi!! Habis dah!! Semuanya teriak2 “Buka! Buka! Buka!”
    Semoga ga terjadi apa2, pikirku. Kubuka CD ku, semuanya berteriak tertahan trus cekikikan. Keliatan jelas kalo tititku menegang keras sekali, dan ada lendir bening yang menetes. Aku berusaha menahan rasa maluku. Tika menatapku terus, sedangkan Enyi senyum2 sambil liatin tititku. Dan si Yuni pura2 ga ngeliatin.

    Kemudian giliran Enyi kalah. Kali ini gila. Enyi kalah empat kali berturut2, sampai dia bugil gil!
    Waduuh, bodinya bagus banget, lagian Enyi melepas celana G-String nya dengan gerakan erotis, pelan2 gitu. Tititku keras banget sampai lendirnya menetes2 keluar.

    Kulitnya putih mulus, putingnya merah muda, dan vaginanya bersih, ga ada bulu2 nya. Apalagi waktu dia duduk, dia memilih duduk mengkangkang. Vaginanya yang sebelah dalam sengaja diperlihatkan. Keliatannya cewe2 ini sengaja deh.

    Napasku mulai ngos2an, tititku keras banget. Lagian kenapa sih kok bisa Enyi kalah berturut2 gitu, kayak udah diatur, pikirku.
    Enyi cuma senyum2 aja sambil ngeliatin tititku yang keras banget.
    Lanjut, kali ini giliran Tika kalah lagi. Tika pun dengan santainya membuka G-String putih nya. Kemudian dengan tenang dan perlahan, dia duduk dan kembali membagi kartu. Sama mulusnya, Tika juga mencukur bulu vaginanya.

    Vaginanya terekspos jelas ketika akan duduk bersila. Aroma khas tercium. Waktu itu aku nggak tau itu aroma khas vagina, tapi yang jelas membuatku semakin terangsang.

    Kali ini giliran Yuni kalah, 3 kali berturut2. Sekarang aku jadi berpikir aneh sekali, kenapa kok bisa seperti diatur jadi telanjang semua. Tapi aku senang juga bisa terangsang soalnya ngeliatin bodinya Yuni yang bagus banget. Kakinya ramping, kulitnya putih mulus, dan dadanya besar.

    Putingnya coklat kemerahan, keliatan mengeras, menonjol gitu. Vaginanya keliatan kalo bekas dicukur, bulu2nya udah mulai tumbuh. Pantatnya kencang dan bulat. Wangi sabun merebak. Wah, cewe yg menjaga kebersihan, pikirku.
    Wooww! Semuanya sudah telanjang bulat, dan bodinya bagus2 semua. Gak nyesel deh aku sekolah di Surabaya!! “Wah semua udah telanjang bulat nih, setelah ini yang kalah dipegang2 dong” kata Tika, disambut ketawa Yuni dan Enyi.

    Permainan berlanjut, kali ini yang kalah akan dipegang2 selama selama 5 detik. O’ow, gawat deh, pikirku. Firasatku jadi kenyataan. Aku kalah!!!
    Cewe2 pada ketawa. “Horeeeeeee…” teriak Enyi. Pikiranku sudah ga karuan deh.

    “Wah, please, jangan diapa2in ya..” pintaku memelas.
    “Tenang, kan kamu udah tau peraturannya” kata Tika kalem. “Cuma 5 detik kok”.
    “Aku mulai dulu ya” kata Tika. Hatiku deg2an ga karuan.
    Benar tebakanku, Tika pilih tititku untuk dipegang. Dia suruh aku berdiri sambil mengkangkang. Sementara itu Yuni memegang jam weker. “Yak mulai!”

    Hukuman Tiga Bidadari

    Tika mengelus buah pelirku. Lembut. Aa-aaaahhhh.. aku menjadi sangat terangsang. Tititku langsung menegang keras banget, lendir keluar bertambah banyak.

    Selama 5 detik kenikmatan kurasakan. Dari titik perineum, antara anus dan pelir, Tika mengelus sampai ke pangkal penis. Wow. WOW. WOW!!!!! Aku terangsang banget.

    Tangannya begitu lembut, sedikit menekan, memijat. Nikmat…
    Kini giliran Enyi. Enyi memilih untuk memijat pangkal penisku saja. Yang ini rasanya membuat tititku semakin mengeras sampai ke titik maksimal. Membuat tititku serasa mau meledak. Selama 5 detik pangkal tititku dipijat oleh tangan yang lembut, “Aahhhh…., uuggghh… Mbak Enyi, enak banget,” kataku. Enyi cuma tersenyum lebar.

    Kemudian giliran Yuni. Yuni mengusap2 seluruh batang tititku, tapi sebelah bawah, dengan telapak tangannya yang mungil. Sambil menatap dada Yuni yang menantang, aku mnikmati gesekan lembut dari tangan cewe ini. Usapan yang dilakukan Yuni membuat batang ku terkedut2, dan lendir semakin deras keluar dan menetes2. WOW!! Nikmat sekali. Tanpa sadar aku bersuara “Aghhh Aaaaghh.. Eeeghhh..”

    “Wah banyak sekali lendirnya, dah lama ga main cewe?” tanya Tika. Aku cuma senyum2 aja, malu soalnya. “Ayo bagi lagi kartunya” kata Enyi.
    Kali ini aku kalah lagi!!!! SIAL!! YESSS!! Hehehe, aku bingung, sama2 enak sih.
    “Aku lagi” kata Tika. “Ayo berdiri Di”. Aku nurut aja.

    Tangannya bergerak ke penisku, tepat ke kepala tititku!! Dipegangnya kepala penisku. Tangannya basah berlumuran lendir bening. Aku sampai terhenyak karena terangsang hebat. “Aaghh!!”

    Tapi tangan Tika ngga bergerak. Dia hanya mengeraskan genggamannya, mengendor, mengeras, mengendor, selama 5 detik. Tapi ini mampu membuatku terangsang hebat karena tepat di sasaran. “Eggh..Eggh…Eeeghh..”. Tititku menegang keras sekali, lendirnya sampai keluar bercucuran. Tititku di ujung klimaks, tapi rangsangannya sudah dihentikan.. Gila! Tika pasti sangat pengalaman dalam memuaskan cowok! Eh, dipikir2 ketiganya pintar2. Kok bisa ya?

    Kemudian giliran Enyi. Eh-eh, Enyi mendekatiku, dan memutar ke samping. Tubuhnya mendekat kemudian dia menempelkan tubuhnya ke tubuhku, sampai dadanya yang besar itu menempel erat di tubuhku!! Aku kaget, dan ketika aku menoleh ke arahnya, bibirnya sudah sampai ke bibirku dengan cepat. Lidahnya memasuki mulutku dengan lincahnya, dan dia bersuara, “Mmmmmhhh… mmmhhh…mhhhh…”

    Otakku beku sudah, rasa nikmat yang menjalar di penisku kini menyebar ke seluruh tubuh. Sebagai ABG yang baru merasakan seks pertama kali, tubuhku bergerak refleks mengikuti arah kenikmatan. Secara otomatis tanganku memegang dadanya yang sangat lembut. Lunak, kenyal, dan halus.
    Tak sampai sedetik, kurasakan ada tangan yang memegang penisku. Dan sebelum aku sadar siapa yang memegangnya, rasa nikmat menyengat HEBAT!! Setiap daerah penisku seperti diselimuti benda lunak yang licin dan hangat “Eeeeeeeeeekkghhh…”

    Ternyata Si Yuni sedang memasukkan seluruh penisku ke mulutnya, dan dia mengoral dengan buas, menyedot, mengulum dan menjilat seperti manusia kelaparan. Dari mulutnya bergetar suara erangan, “Mmmmpppphhh…” Perlakuan ini membuat tubuhku mengejang. Kakiku yang sedang mengkangkang bergetar hebat. Ternyata ini belum seberapa.
    Dari belakang, ada yang menyentuh bokong ku, dan mendorong tubuhku untuk agak menungging. Karena tubuhku lemas, aku cuma bisa mengikuti dorongan tangan itu. Setelah aku cukup menungging, sebuah benda lunak menyentuh dan mengusap anusku!!

    Tubuhku mengejang hebat, bergetar di antara rasa nikmat. Ternyata Tika yang menjilat anusku. Dia juga mengelus2 buah pelirku!! Sambil menjilat, dia melenguh, “Emmmmmhhhhh….”

    Gila!! Bibir dipagut, kulit tubuhku bersentuhan erat dengan tubuh yang mulus, dan dada yang besar, lunak, kenyal dan lembut. Bersamaan dengan itu, penisku dioral, mulutnya menjilat batangku, menutupi seluruh kemaluanku, menghisap dan memijat seluruh kepala penisku. Tidak cukup, anusku dijilat, diberi tekanan dan perineumku dipijat2.

    Tak sampai 10 detik, kurasakan sperma ku meluncur deras, meledak di dalam mulut Yuni. “Eeeeeeeeggggghh…” Aku berteriak tertahan. Nikmat sekali. Selama kira2 8 detik, kenikmatan klimaks ini bertahan. Kurasakan spermaku ini meluncur deras sekali. Bersamaan denganku, ketiga cewe ini juga mengeluarkan suara2 mendesah dan mengerang. Suara ini sangat merangsangku.

    Setelah spermaku berhenti, kakiku langsung lemas, aku jatuh berlutut. Tapi penisku masih berdiri tegak, dan ketiga cewe ini juga ga berhenti melakukan kegiatannya.

    Aku sudah gak bisa berpikir apa2. Cuma mengerang nikmat. Rasa nikmat yang mereda, kembali menyerang, meledak ledak, mendesak masuk ke penisku.
    Mulut Yuni juga nggak berhenti menghisap penisku. Dan tangannya semakin kuat mengocok penisku, kali ini gerakannya divariasi, memutar dan memelintir. Rangsangan ini membuat ku kembali merasakan sperma yang meledak2, mendesak2 tanpa bisa kutahan.

    Si Enyi sudah menghentikan aktifitas mulutnya, tapi tubuhnya tetap menempel erat, dan tangannya menggerayangi seluruh tubuhku, mengelus2 paha bagian dalamku. Ooooh, sangat nikmat. Membuat tubuhku terasa sring.. sring.. diterjang rasa nikmat.

    Sementara itu, Tika tetap meneruskan lidahnya bermain2 di anusku. Tapi tangan nya berpindah, mengunci pangkal penisku dengan kedua jarinya, menekan dan mencengkeram pangkal penisku, membuat penisku menjadi ekstra keras. EKSTRA NIKMAT!!!

    Saat sudah berada di ujung orgasme, mulut Yuni mendadak berhenti, dan memperkuat hisapannya. Gerakannya menjadi sangaaaat lambaaat.. tapi hisapannya menjadi sangat kuat. Aaaaghhhh….eghh… aku sampai berteriak karena sensasi nikmat yang luar biasa ini. Gerakan mulutnya yang melambat tapi hisapannya mengeras, membuat tubuhku bertahan setahap sebelum kondisi orgasme. Rasa nikmat sebelum orgasme, yang hanya bisa dirasakan 3 detik, kini melandaku selama mungkin. Rasanya seperti selamanya aku berada dalam kondisi ini.

    Aku terus mengerang, aaghh….eghhh….eeghh…. Akhirnya, setelah 15 detik aku mengalami kenikmatan tiada tara, orgasme mendera tubuhku.
    Sruutt…sruuut…sruuttt… Aku mengalami super orgasme. Spermaku meluncur sangat deras ke dalam hisapan Yuni. Yuni tetap melambatkan gerakannya sementara hisapannya lebih diperkuat lagi.

    Sruut… Tubuhku mengejang. Ini orgasme yang lama, sangat lama dibandingkan aku onani. Kemudian tubuhku jatuh di karpet. Lelah dan nikmat, aku tertidur. Entah apa yang dilakukan ketiga cewe ini setelah aku tertidur.

    Malam harinya aku tebangun di kamar Tika. Kulihat wekernya, jam 6.30.Tika dan Enyi sedang berdandan. Karena lelah dan ngantuk aku cuma bisa melek beberapa detik. Mereka melihatku dan bilang ayo bangun, jangan lupa makan. Mbak kerja dulu ya Sayang..

    Jam 10 aku terbangun. Tidak ada orang di kamar itu. Aku berpakaian, makan dan tidur lagi. Tubuhku sangat capek dan mengantuk. Kakiku sangat lemas…
    Esoknya jam 6 pagi aku terbangun. Kutemui Tika dan Enyi di kamarnya, mereka baru pulang dari kerja katanya. Saat itu mereka menceritakan profesi mereka, yakni cewe panggilan, dan mereka dibayar sangat mahal karena level mereka yang tinggi.

    “Mbak sangat pintar, aku kerasa nikmat banget Mbak” kataku polos.
    Mereka pun tertawa terbahak2. “Kamu tau kenapa kamu yang sial waktu main poker?” Tanya Tika. “Soalnya Mbak jago maen curang, Mbak sering lho main kartu hahahahaha…” Enyi ketawa kenceng banget. Ooo pantess….
    Kejadian siang hari itu mengawali petualangan liarku dengan Mbak2 panggilan ini. Ide2 mereka sungguh kreatif, dan sudah pasti sasarannya aku. Tunggu ceritaku selanjutnya, ikuti perjalananku menjadi pecinta yang ulung.

    —000—

  9. ngemeng mulu lo, kaya yg udah bener!! tai.

  10. pelaut

    praja2 jago kandang…..kasian gua ngeliatnya…mentok2 paling camat….kasian…kasian…jago2 kandang…lebih rendah dari manusia…soalnya nyawa ngga ada harganya, demi korps…..kasian kasian….ngomong2 praja cewe yang tersedia ngga? gua berani deh 200 ribu aja….buat having fun gitu…

  11. dian cuki putri soeharto

    melayani PNS rendahan dan juga CPNS
    bisa dipanggil ke kantor atau kampus
    cewek baru saja operasi kelamin, 170 cm/ 50 kg/ 36B
    bisa oral, anal, salome, nungging, WOT, ngangkang, berdiri, kera memanjat pohon, helikopter, kapal selam, kuda liar.
    melayani kursus bonus cd beef asli buatan arab

    biaya nego
    lumsum standar perjalanan dinas golongan II

  12. alumnus_ITB_anti_kekerasan

    Praja dan Alumnus APDN/STPDN/IPDN mengaku sebagai Putra-Putri terbaik bangsa ? Justru sejak tahun 1928 s.d. sekarang,, alumnus dan mahasiswa ITB lah yang disebut putra-putri terbaik bangsa.

    Kalian ini cuma orang-orang jaman feodalisme konservatif yang tidak mempunyai suatu logika disertai nurani untuk berpikir dan bertindak, dan lebih mementingkan otot karena menganggap dirinya kuat, padahal lemah apabila dihadapkan dengan kami.

    Kalian hanyalah sampah-sampah masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas intelektual dan satbilitas emosi memadai dan gagal memasuki ITB, UI, UGM, IPB, Akmil, AAU, AAL, Akpol, STAN dan IIP.

    Kalian adalah korban-korban proyek penghamburan dana APBN yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan kalian adalah orang-orang tersisihkan dari Sisdiknas.

    Kalian adalah calon-calon birokrat tingkat rendahan yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan, bukan tidak mungkin kalian adalah sumber utama kebobrokan negara ini.

    Kalian dengan mengagung-agungkan semangat juang dan disiplin, menindas adik-adik kalian sendiri tanpa perasaan, bayangkan apabila itu adalah adik kalian yang tewas.

    Jadi……

    Bubarkan IPDN secara berkala dalam beberapa tahun ke depan setelah semua Praja tingkat 1 s.d. 4 di dalamnya selesai menjalani perkuliahannya dan lulus, dan menutup permanen pendaftaran Praja baru mulai tahun 2007

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.. Merdeka !

  13. gak Pasang Adsense™ bos?

  14. Sebuah bayangan gelap menyelinap ke arah dapur. Dari geraknya jelas sosok itu adalah seorang laki-laki, yang bersijingkat mengendap-endap, seolah tak ingin diketahui kehadirannya. Secepat tiba di jendela di balik pintu sebelah kiri dapur, bayangan itu berhenti. Tangannya berupaya melepas kaitan daun jendela dengan hati-hati, sampai akhirnya didapatkannya sedikit celah untuk mengintip ke dalam.

    Dalam remang-remang cahaya ruangan itu terlihat Surti tidur terlentang. Laki-laki itu membiarkan matanya beradaptasi dalam kegelapan. Perlahan tubuh gadis pembantu yang lumayan montok semakin jelas. Kulitnya kehitaman, sedikit mengkilat karena butiran keringat yang membasah di sekujur tubuhnya. Posisi kakinya yang mengangkang membuat darah di kepalanya semakin menggelegak. Sudah beberapa malam dia mengamati pemandangan ini, dan dengan cepat nafsunya langsung meninggi.

    Beberapa hari lalu ia mencari celah agar pintu kamar itu bisa dibuka dengan leluasa, dan ia menemukan caranya. Ketika kamar itu kosong, ia melonggarkan sekrup selot pintu kamar ini. Selot yang memang sudah tua itu dengan gampang dikerjainya. Dan ia yakin dengan sedikit sentakan pintu itu akan terbuka tanpa banyak hambatan.

    Kini, ketika darahnya semakin menaik, segera didorongnya pintu itu dengan berat tubuhnya. “Klek,” suaranya lemah terdengar di malam gulita yang senyap. Laki-laki itu terdiam sesaat. Telinganya bergetar mencoba menangkap barangkali ada suara mencurigakan yang tidak diinginkannya.

    Sunyi.

    Seringai kemenangan membayang di wajahnya. Matanya memerah memancarkan nafsu binatang yang tak lagi bisa dikendalikan. Ditutupkannya lagi pintu itu sebisanya. Dan perlahan tangannya menarik golok yang terselip di pinggangnya sejak tadi. Disiapkannya benda tajam itu di dekat bantal si pembantu. Sejangkauan tangan. Ia pasti memerlukannya bukan?

    Perlahan laki-laki itu mendekat ke tubuh perawan yang terbaring di dipan kayu. Dipandanginya sekali lagi wajah pembantunya. Di dekatkannya hidungnya ke sekujur tubuhnya. Endusannya berhenti di ketiak Surti yang terbuka. Bau apek keringat bocah yang belum bisa merawat dirinya itu begitu menggairahkan, membuat penisnya menegang. Ia terus mengendus tubuh perawan di hadapannya ini. Dan ia tahu persis bagian tubuh mana yang paling diinginkannya. Disibakkannya daster yang sejak tadi sudah setengah terbuka, hingga celana dalamnya yang sedikit kumal, terpampang dengan jelasnya. Tubuh laki-laki itu semakin bergetar menahan nafsunya sendiri. Bulu romanya bahkan saling berdiri, tapi tidak, ia memang tak ingin terburu-buru. Ia ingin membaui terlebih dulu aroma yang jauh dari wangi ini. Ia menyukainya. Perlahan endusannya menuju ke pangkal paha bocah perempuan berusia 13 tahun itu. Dihirupnya aroma vagina dari luar celana dalamnya. Dan perlahan tangannya meraba pembantu kecil itu.

    Seperti sudah diperhitungkannya, Surti bergerak, merasakan sentuhan yang membuat lelapnya terganggu. Tapi ternyata ia hanya mengubah posisinya dan tak terbangun. Dan laki-laki itu meneruskan aksinya, dengan kasar meremas kemaluan si bocah dari bagian luar celana dalamnya. Bocah perempuan itu spontan melek, terjaga dalam kebingungan.

    “Jangan berteriak!” desis si laki-laki. Cekatan di raihnya golok yang disiapkannya tadi.

    Surti kaget dan semakin tidak mengerti. Ia tak tahu kenapa majikannya berada di kamarnya, bahkan sambil menghunus golok, yang kini melekat di lehernya. Mata laki-laki itu melotot garang. Tangan kanannya masih menodongkan golok ke leher sedangkan tangan kirinya dengan kasar melepas paksa celdam rombeng yang dikenakan Surti. Bocah itu semakin ketakutan dan berusaha bangkit sambil berusaha menurunkan dasternya yang tersingkap dengan panik.

    “Den, jangan!” bocah itu meronta hendak bangkit.

    Meski belum dewasa, naluri kewanitaannya memberikan sinyal bahaya. Bocah perempuan ini bisa merasakan bukan jiwanya yang terancam, tapi sesuatu yang lain, yang ia belum mengerti.

    Namun laki-laki itu sudah mata gelap oleh nafsu setan. Dengan kekuatan yang tak sebanding dengan pembantu cilik itu, disentakkannya tangannya ke dada Surti yang baru tumbuh sehingga bocah itu kembali terlentang.

    “Diam!!” desis si laki-laki, “secepat kau berteriak, golok ini akan menggorok lehermu, ngerti???!!!!”

    Tatapan Surti nanar. Ia setengah mengangguk ketika merasakan perih di lehernya. Sebuah luka telah tergores, dan ia tahu, kalau ia bergerak sedikit lagi, luka itu akan semakin dalam. Ia memegang lengan si laki-laki, berusaha menarik tangan yang memegang golok itu. Tapi semakin dia memberikan perlawanan, semakin kekuatan laki-laki itu menekankan golok ke lehernya. Akhirnya pembantu kecil itu menghentikan usahanya. Ia menangis dalam diam.

    “Hehehehe, bagus!”

    Laki-laki itu menyeringai lebar. Jantungnya berdegup kencang menyaksikan pemandangan di depannya. Seorang perempuan, tak peduli siapa dia, kini berada di depannya tanpa daya. Sayu mata penuh air mata itu semakin membangkitkan gairahnya. Ia seperti melihat seekor kelinci siap dimangsa si raja hutan. Dan dia adalah si raja itu. Saat ini.

    Kembali diselusurinya tubuh yang setengah bugil itu dengan matanya. Dan sekali renggut, daster yang dipakai pembantu cilik itu robek memanjang, memampangkan tubuh yang semula ditutupinya.

    Bocah itu semakin ketakutan. Terlihat dari matanya. Ia juga hendak memberontak, tapi lagi-lagi golok di lehernya menekan tajam.

    Si laki-laki kembali menyeringai. Dengan satu tangannya yang bebas ia segera melepas celana kolor yang dikenakannya. Penisnya mengacung tegang. Kekuasaan yang sekarang berada di tangannya telah membangkitkan gairah birahi yang sejak tadi memang telah berserabutan menuntut pemenuhan. Perlahan ia naik ke dipan kecil itu, mengangkang di atas tubuh si pembantu.

    “Jangan Den! Tolong Den, jangan!!!”

    Ditatapnya dengan kejam bocah perempuan yang mulai mengerti apa yang akan terjadi itu. Rintihan memohon belas kasihan itu justru semakin membuat darahnya menggelegak. Rintihan itu seolah aba-aba baginya untuk segera menindih. Dibekapnya mulut si pembantu yang mulai memberikan tanda akan berteriak. Ditindihnya tubuh yang meronta itu. Dijambaknya rambut Surti dengan keras, dan rasa sakit akibat tarikan rambut itu membuat kaki Surti membuka. Tubuhnya masih meronta liar. Dan laki-laki itu kesulitan memaksakan kehendaknya. Semakin keras dijambaknya rambut si pembantu.

    “Berhenti! Kalau kau tak mau menuruti aku, bisa kupatahkan lehermu.” Tangannya menekan mulut dan rahang si pembantu kearah yang berlawanan dengan gerak tangan yang menjambak rambutnya.

    Surti mendadak berhenti meronta karena kesakitan.

    Lutut laki-laki itu segera mengambil posisi di sela paha Surti yang mengangkang. Dilepaskannya jambakan di rambut bocah itu dan kemudian dengan cepat tangannya mengarahkan penisnya yang telah mengacung tegak itu ke lobang vagina Surti, lantas didorongnya kuat-kuat. Dipaksanya kelelakiannya itu menusuk ke lubang yang tak lentur membuka. Gagal. Surti yang kesakitan akibat tusukan di kemaluannya itu kembali meronta dan gerakannya ini justru mempermudah penis itu menusuk kali berikutnya.

    Bocah pembantu itu berusaha meronta-ronta dengan liar di bawah tubuhnya. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh yang menindihnya. Tapi percuma. Tenaga laki-laki yang telah kalap oleh birahi dan kekuasaan menghancurkan itu tak terlawan. Rontaan Surti justru dinantikannya. Semakin Surti meronta, pinggulnya semakin bergerak seolah menyambut hujaman demi hujaman penis laki-laki itu.

    Bekapan di mulut surti semakin keras. Dan kini tangan si lelaki menekan leher si pembantu kuat-kuat. Sambil menarik dan menghujamkan penisnya bergantian, laki-laki itu kini juga mencari puting susu Surti. Rakus dikulumnya puting kecil itu. Bahkan kadang digigitnya kasar. Dan Surti semakin meronta kesakitan. Laki-laki yang sudah terbakar nafsu setan ini sama sekali tak peduli dan terus melumat puting itu hingga berdarah, dan dihisapnya darah itu dengan penuh gairah.

    Dirasakanya gerakan tubuh Surti melemah. Tidak, tidak boleh berhenti, aku butuh keliaran itu, pikir si laki-laki. Dan kemudian kembali tangannya menjambak rambut Surti dan ditariknya ke belakang hingga kepala si pembantu itu menengadah kesakitan.

    “Hhmmpp..”

    Kepala Surti menggeleng-geleng liar, meronta kesakitan, tapi renggutan rambut ke belakang itu justru membuat pinggulnya melenting naik dan membuat urat penis si lelaki melesak lebih dalam. Gembira karena menemukan cara untuk membuatnya terpuaskan dengan cepat, lelaki itu segera menjambak kuat rambut Surti ke belakang dan memompa hujaman penisnya semakin cepat. Semakin cepat dan cepat sampai tiba-tiba dirasakannya mani panas menyembur dari otot kejantanannya. Dan laki-laki itu melesakkan dalam-dalam penisnya seraya berhenti bergerak.

    Sesaat berlalu. Laki-laki itu membiarkan badai orgasme yang melandanya usai. Masih ditindihnya tubuh si Surti, tapi kini dilepaskannya jambakan dari rambut si pembantu.

    Sambil mengatur nafas, si lelaki meraih kembali goloknya.

    “Jangan pernah sekali-kali membicarakan kejadian ini. Kalau sampai kau membocorkannya, hm, aku tak ragu-ragu untuk segera menggorokmu! Paham??!!”

    Bocah pembantu itu mengangguk ketakutan. Ia hanya bisa menangis ketika majikannya itu bangkit dan meraih bekas dasternya, mengelap penisnya yang kini telah layu, dan mengenakan celana kolornya.

    Benci ditatapnya majikannya yang berlalu dari kamar itu dengan seringai kemenangan. Tapi apalah dia, dia hanya seorang pembantu cilik dari sebuah desa di pesisir pantai selatan sana. Dan Surti hanya bisa meneruskan tangisnya dalam gelap dan tanpa suara.

    *****

    Dua hari menjelang lebaran.

    Ketika semua orang berpikir untuk mudik, berkumpul dengan sanak kadangnya, maka untuk Lang hari ini begitu menyiksa. Semakin mendekati akhir bulan puasa, suhu tubuhnya bisa naik turun tak karuan, demam. Bayangan bahwa sebentar lagi ia harus sungkem kepada suaminya, meminta maaf untuk kesalahannya selama setahun berselang, membuatnya tak bisa tidur lelap: Lang sebagai istri yang harus minta maaf duluan kepada Denni, suaminya. Kenapa tidak sebaliknya? Jujur saja, ritual itu begitu mengganggunya.

    Tuhan, kenapa tidak segera terhapus rasa sakit ini? Kenapa perselingkuhan Denni dan Windy, adik kandungnya tak juga surut dari ingatan? Bukankah dirinya juga tak bersih dari perselingkuhan demi perselingkuhan?

    Nama Abi dan Jossi tiba-tiba berkelebatan dalam benak Lang. Dua lelaki itu telah menularkan kekuatan kepada Lang untuk tetap menjalani perkawinannya. Tapi, mereka bukan bagian lagi dari kehidupannya saat ini. Abi hanya masa lalu. Jossi juga. Laki-laki itu pamitan kepadanya beberapa bulan lalu. Ia harus pindah ke Irian Jaya demi karir istrinya. Dan Lang harus merelakannya. Tapi, kenapa ia merasa tak juga lega telah membalas perlakuan Denni kepadanya?

    “Hhhhh.,”

    “Hei, kok menghela nafas gitu sih?” Lang merasa bahunya ditepuk Yeli lembut dari belakang. Dia tersadar berada di tengah kerumunan orang berbelanja di supermarket Matahari Malioboro.

    “Masih perasaan yang sama ya?”

    Lang mengangguk, tersenyum kecut. Karibnya semasa SMA itu memang tahu perasaan tergelap di bilik hatinya yang paling dalam. Dua minggu lalu tiba-tiba saja Yeli menelepon ke kantornya di Jakarta. Lama sekali mereka tak bersua, tak juga berkontak kata. Spontan mereka saling cerita kehidupan masing-masing. Dan karena mereka sama-sama berniat berlebaran di Jogya, akhirnya mereka janjian untuk berbelanja bareng hari itu. Di situlah mereka saat ini, terperangkap dalam jejalan manusia yang saling berebut kue kering, sirup, dan kebutuhan lebaran lainnya.

    “Sudah lengkap semua kebutuhanmu?”

    Kembali Lang mengangguk, dan mereka kemudian antri di lintasan kassa. Menjelang maghrib baru mereka berhasil lepas dari kerumunan massa.

    “Eh Yel, cari makanan kecil di Bulak Sumur yuk. Kita bawa ke pinggiran danau di timur kampus. Aku kok tiba-tiba kangen nongkrong di situ.”

    “Boleh saja. Tapi kau yakin tubuhmu nggak lelah? Kulihat kau agak pucat hari ini,” kata Yeli sambil melirik perut Lang yang membusung karena usia kehamilannya yang semakin tua.

    Ya, Lang memang memutuskan untuk hamil lagi. Ia tidak ingin Randu sendirian. Ia ingin memberinya seorang adik. Di samping itu, ada niatan tersembunyi di hatinya. Jauh di dasar sana, ia ingin mempunyai seseorang yang bisa disayangnya seandainya Randu benar-benar dikuasai Denni.

    Dikuasai?

    Perih hatinya dengan pilihan kata-katanya sendiri. Tapi kenyataan itu harus diterimanya. Ia merasa, suatu saat dirinya pasti tak kuat menanggung beban perkawinannya. Entah kenapa ia berpikir demikian. Dan dalam benaknya, tergambar satu keyakinan, bahwa Denni pasti akan mati-matian menguasai Randu.

    Bagaimana nasib anak itu nanti? Hhh..entahlah, yang pasti ia ingin punya seorang anak lagi untuk ditimang. Dan hari ini, ia mensyukuri keputusannya itu. Ya, ada satu masalah yang telah membuat hatinya kembali berkeping. Masalah besar, yang tidak mungkin ia sebarkan. Masalah yang telah membulatkan tekadnya untuk meninggalkan Denni.

    “Hhhhh..”

    “Lang,” tegur Yeli lembut, “Kita jadi ke danau?”

    Lang menatapnya sendu. Ia memaksakan segurat senyum di bibirnya. Tak cukup berhasil. Tapi ia menyatakan persetujuannya dengan anggukan kepala.

    Yeli. Ia sebenarnya curiga melihat sahabatnya hari ini, tidak seceria kemarin. Bahkan kalau tidak salah, ketika tadi menjemput di rumahnya, dia masih melihat pelupuk mata Lang memerah. Habis nangis. Tapi ia tahu persis, tak ada gunanya memaksa Lang bicara. Percuma. Perempuan di depannya ini seperti kerang. Sekali bersembunyi dalam ‘rumahnya’ yang keras, tak bakalan orang tahu apa yang dipikirkannya.

    Yeli segera mengarahkan mobilnya ke selatan, menyusuri Malioboro, membelok ke timur. Dicarinya jalan paling singkat ke Bulak Sumur.

    Untung masih banyak pedagang makanan kecil di pinggiran jalan kampus terbesar di kota gudeg itu. Mereka segera memborong kue, membeli kolak, dan air mineral secukupnya. Dan kemudian mobil Yeli terlihat meluncur ke bagian timur Kampus Biru itu, ke pinggiran danau yang agak sepi.

    Lampu merkuri yang menerangi jalan tak cukup terang menjangkau daerah ini. Bukan masalah, karena beberapa pedagang jagung bakar membawa cukup obor untuk menerangi dagangan mereka. Penjual wedang ronde pun memanfaatkan senthir untuk menerangi gerobak yang dipenuhi stoples kaca berisi gula ronde, kolang-kaling, kacang, dan potongan roti. Lang menghirup bau jahe dari kukusan air mereka, dan tak tahan untuk segera keluar dari mobil yang diparkir karibnya tak jauh dari danau, dan segera memesan ronde yang panas mengepul. Ia menghirupnya segera ketika sampai di dalam mobil.

    “Wuiih, kangen banget aku dengan suasana ini.”

    “Yupp. Tak cuma kamu Lang. Akupun kehilangan kegembiraan masa-masa kuliah yang mengasikkan. Untungnya kampusku di Surabaya itu suasananya tak jauh beda dari UGM, jadi lumayanlah.”

    “Asik jadi dosen?”

    “Asiklah. Aku kan memang dari dulu ingin berdiri di depan kelas, menantang mahasiswa berdebat, biar otak mereka rada isi. Sambil sesekali melirik mereka yang ganteng-ganteng ituuuuu.”

    Tawa mereka berderai renyah. Dan tanpa terasa mereka kemudian tenggelam berbagi nostalgia tentang masa lalu, tentang gank mereka yang terdiri dari tiga cewek bandel: Lang, Yeli, dan Andin.

    “Jadi apa Andin sekarang?”

    “Terakhir aku mendengar, dia menikah dengan Rory, anak A3 itu. Dia memilih jadi ibu rumah tangga sepertinya, biar punya kesempatan menjajah suaminya itu kali, hahahaha,”

    Lang ikut tergelak membayangkan Andin yang begitu galak, memegang cemeti menunggu suaminya yang terlambat pulang. Dulu Andinlah yang sering mencari setori dengan gank lain yang ada di SMA mereka. Tak hanya gank cewek, gank cowok pun sering jadi sasaran kejailan dia. Endingnya, bila ada kekacauan, Lang dan Yeli yang turun tangan menyelesaikan masalah. Mereka bertiga segera populer di kalangan siswa dan guru di sekolah itu, karena tak saja mereka jail, tapi otak mereka pun isi. Ranking tiga besar pasti mereka sabet. Hanya saja urutan siapa yang ada di peringkat satu, dua, dan tiga, saling berganti antara Lang, Yeli, dan Andin.

    Masa lalu yang menyenangkan.

    “Lang, hampir jam sembilan malam. Kau..tak ingin pulang?” Yeli berucap lembut sambil menatap wajah Lang yang tiba-tiba agak memucat ketika mendengar kata-katanya. Ia tahu persis ekspresi Lang kesakitan ketika diingatkan untuk pulang.

    “Lang, kau harus menghadapi situasi ini dengan jernih. Aku tahu memang menyakitkan tapi bukankah kita tak bisa lari dari kenyataan yang kita pilih?”

    Lang terdiam. “Aku..aku tak ingin pulang Yel,”

    Belum lagi Yeli merespon kata-katanya, Lang sudah menangis tersedu. Tak kuat lagi ia menahan bebannya. Seharian ini ia mencoba mengebaskan rasa sakitnya dengan mencari ribuan kesibukan: Mencari keperluan lebaran, guyon dengan Yeli, mencoba mengalihkan perhatian dengan bernostalgia ke masa lalu yang menyenangkan, tapi nyatanya gagal. Sekarang, ketika tak ada lagi ‘tembok’ yang bisa dijadikannya sebagai alasan mengalihkan perhatian, ia merasakan dadanya sesak.

    Yeli sebenarnya juga curiga dengan perilaku Lang. Perempuan di depannya ini memang sejak tadi ketawa-ketiwi, tapi Yeli cukup kenal siapa Lang dan bagaimana jika sobatnya ini sedih. Mulutnya boleh tertawa, tapi sayu matanya tak bisa menipu. Ia tadi hanya menahan diri untuk tidak bertanya. Percuma. Lang tak akan bercerita apapun kecuali dia memang ingin bercerita. Dipeluknya sahabatnya itu. Dibiarkannya tangis Lang semakin keras.

    Sesaat kemudian tangis itu mereda.

    “Ada yang bisa aku bantu?”

    “Yel, katakan kepadaku, apa sih kekuranganku sebagai istri?”

    “Wah, susah itu jawabannya.”

    “Beri aku penilaian Yel. Apakah aku benar-benar tak punya harga sebagai seorang istri? Benarkah seorang pembantu lebih bernilai dari aku?”

    “Lho, kok larinya ke pembantu sih?” Yeli bertanya tak mengerti.

    Tapi, Lang bukannya menjawab, malah sahabatnya itu kembali menangis tersedu.

    Busyet, ini pasti ada hubungannya dengan kembalinya Surti yang tiba-tiba hari ini, batin Yeli. Tadi Lang memang sempat cerita kalau Surti mendadak pulang untuk berlebaran. Hm, ada kejadian apa lagi nih?

    “Lang, cerita dong, jangan cuma menangis begini!”

    “Tadi pagi..tadi pagi-pagi sekali, Surti pamitan pulang. Aku kaget, kenapa dia dadakan begitu. Padahal sebelumnya aku sudah minta dia pulang hari kedua setelah Lebaran! Tapi ketika aku ingatkan komitmennya itu, dia justru menangis.”

    “Apa katanya?”

    “Dia tidak mau bilang kenapa, sampai aku lihat ada yang ganjil di lehernya.”

    “Apa itu?”

    “Dia mengenakan selendang di lehernya itu, ketika aku minta dia membukanya, dia tambah nangis,” lanjut Lang sambil masih terisak, “tapi aku memaksanya membuka selendang itu..dia ada ada luka di lehernya Yel.”

    “Dia berusaha gantung diri? Atau ada yang cekik dia?”

    “Tidak Yel..dia..dia…uhuhu,” Lang tak bisa melanjutkan kalimatnya. Ledakan tangisnya kembali menyekat kerongkongannya…sampai akhirnya…

    “Dia diperkosa Denni,”

    Yeli terkesiap. Lidahnya kelu. Ia tak tahu lagi apa yang harus diucapkannya untuk menghibur Lang. Dibiarkannya perempuan itu menghabiskan tangis dalam pelukannya.

    ******

    Malam itu Lang akhirnya sampai di rumah tepat tengah malam. Sebagian dirinya menolak pulang, tapi Yeli mengingatkan bahwa Randu, anaknya yang sulung pasti mencarinya.

    “Pulang Lang. Kalau tidak untuk Denni, maka lakukan itu untuk Randu.”

    Dan pulanglah dia.

    Dibukanya pintu depan dengan kuncinya. Ruang tamu masih temaram diterangi lampu di pojok meja. Tudung lampu yang berwarna putih itu membiaskan bayangan khas di dinding.

    “Lang.”

    Suara Denni.

    Tubuh Lang spontan kaku mendengar suara itu. Hal terakhir yang ingin ditemuinya hari ini adalah Denni, tapi ternyata suaminya masih duduk di pojok dekat televisi, menungguinya pulang.

    Lang berusaha menjangkau sofa terdekat. Ia tak punya lagi energi untuk berkonfrontasi dengan Denni. Ia harus duduk, tubuhnya lemas. Kehamilannya seolah menjadi berat sekali. Ingin sekali ia langsung menuju kamarnya, tapi kakinya menolak. Akhirnya dihempaskannya sedikit tubuhnya ke sofa panjang dekat pintu masuk.

    Lang duduk diam. Ia bahkan tidak bergerak ketika suaminya mendekat. Tidak. Cukup sudah toleransinya. Ia tak ingin berubah pikiran. Sedangkan dari nada suara Denni memanggilnya tadi, ia tahu suaminya itu menuntut permakluman.

    “Lang….,”

    Diam.

    “Lang, tolong pandang mataku,”

    Pandang? Tidak! Lang tidak lagi kuat memandang suaminya tanpa amarah. Jadi lebih baik tidak! Ditangkupkannya kedua telapak tangannya menutup wajahnya.

    “Lang..,”

    Dirasakannya tangan suaminya memegang lengannya. Tubuh Lang gemetar hebat. Ingin ditepisnya tangan itu, tapi itu berarti dia akan membuka wajahnya, matanya, dan ia akan melihat Denni. TIDAK!!!

    “Hhhh, Lang…tolong pandang aku Lang,” bisik Denni lirih, “maafkan aku.”

    Degg!!!

    MAAF?????

    Seumur-umur Lang baru mendengar kata ini diucapkan suaminya.

    Tuhan, apa yang harus dia lakukan? Seribu amarah tentang perilaku suaminya tak pernah pergi dari hatinya. Bahkan ketika ia menghancurkan diri, masuk juga ke lumpur, agar sama kotor dirinya, tapi tak juga amarah itu hilang.

    Setiap detik ia juga mengharap suaminya meminta ampunan, dan tak pernah itu datang.

    Kini, ketika ia memutuskan untuk pergi, justru Denni mengucapkannya.

    Haru biru pertentangan batinnya membuat Lang lemas. Kesadarannya terenggut. Ia terkulai pingsan. Ketika sadar, ia telah berada di ruangan bernuansa putih. Rumah sakit. Dilihatnya perutnya mengempis. Panik. Otaknya dimintanya bekerja, agar menuntut bertanya kemana isi perutnya, tapi tak mampu.

    “Anakku..,” bisiknya lemah..tak ada jawaban…

    “Anakku!!!! Mana anakku???” Ia akhirnya bisa berteriak. Kepanikan menggerogoti pikirannya. Ia berusaha bangun tapi kepalanya seolah ditimbuni berton-ton pasir. Berat sekali.

    Tubuhnya menuntut untuk lelap kembali. Pengaruh obat bius rupanya masih kenatl dalam darahnya. Tapi sekali lagi otaknya tak mau menyerah. Tidak, ia tak boleh kehilangan Gading. Cukup sudah dulu Savitri menghilang dari kehidupannya. Tapi tidak dengan Gading.

    “TIDAAAAAAAAAK..!!!!”

    “Tenang, tenang,” ujar seorang perawat yang segera masuk mendengar teriakannya.

    “Mana anakku, mana Gading??!!!”

    Lang berteriak menuntut anaknya. Ia meronta ingin mencari, tapi lengan-lengan kuat menariknya agar tetap berada di ranjang. Jarum infusnya bahkan lepas. Tapi ia tidak peduli, sampai seorang suster menggendong seorang bayi mungil dipelukannya.

    “Ibu tenang dulu, sebelum ibu tenang kami tak bisa memberikan bayi ini.”

    Lang menatap bayi itu. Ya, itu Gading. Ia bisa merasakannya. Kepalanya seperti terguyur es. Ada kelegaan disana dan ia mencoba mengendalikan diri. Ia memang tak butuh apa-apa..ia hanya butuh Gading, bayi mungil itu.

    Tenang Lang. Tenang.

    “Suster, berikan bayiku..berikan bayiku,” suaranya atau lebih tepat rintihannya terdengar memelas. Tangis mengembang di pelupuk matanya.

    Para perawat yang berada di ruangan itu seolah merasakan kebutuhan Lang yang amat sangat atas kehadiran bayinya. Dan mereka sepakat untuk segera mengulurkan bayi itu dalam pelukan Lang.

    “Gading…,” panggilnya lemah. Dipeluknya anak itu. Dipeluknya erat bayi laki-laki yang kemudian diketahuinya harus dilahirkan dengan bedah caesar. Ia tak peduli rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia hanya ingin bayinya. Gading.

    (Di sanalah ia tetapkan sebuah kekuatan baru. Kekuatan yang berasal dari darah dan dagingnya sendiri, yang tak mungkin meninggalkannya.)

    TAMAT

    (Hhhh, susah sekali menuliskan episode ini. Aku berusaha melewati sesi ini sebaik mungkin. Semoga tak membingungkan karena loncatan-loncatan pikirku sebenarnya tak begitu tertata rapi. Terus terang aku memang tak berhasil memasukkan sesi ini dalam file memory di otakku secara pasti. Antara ada dan tiada)

  15. wah….
    emang dulu masuk IPDN pake otak ya sampe ngaku yg terbaik sagala….

    enak aja mau menggeser posisi ITB sbg tempat kuliahnya putra-putri terbaik bangsa….

    dulu ada temen2 SMA gw yg TINGGAL KELAS karena nakal n malas bin goblok…eh, pas lulus SMA kok mereka pada berhasil masuk STPDN, teman2 ku bilang itu karena bokap2 mereka yg jadi pejabat di pemda….wah…kebayang kan kualitasnya kayak apa…






%d blogger menyukai ini: